Kembang Kol Bisa Usir Risiko Kanker Perut

Penulis: Darmansyah

Senin, 30 Mei 2016 | 15:37 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah studi yang diterbitkan European Journal of Cancer di akhir bulan ini, Mei 2016, diyakini kembang kol bisa  menurunkan risiko kanker perut.

Periset sampai pada kesimpulan tersebut setelah meneliti lebih dari tiga puluh dua ribu kasus kanker perut dan menelisik pola makan mereka.

Selama proses awal pengumpulan data, mereka menemukan sodium dan alkohol, khususnya bir dan minuman keras merupakan faktor pola makan yang amat berisiko tinggi.

Mereka kemudian menemukan bahwa makanan kaya akan vitamin C cenderung memiliki efek perlindungan dari kanker lambung.

Makanan itu utamanya berupa buah dan sayur putih seperti tomat, bawang bombai dan tentu saja kembang kol.

Kembang kol ini dapat dinikmati dalam beragam rupa makanan. Salah satunya ada dalam sayur cap cay yang digemari banyak orang di Indonesia.

Kanker adalah salah satu penyakit yang dianggap menakutkan, sering kali ini disebabkan karena penyebabnya di luar kontrol.

Dan satu hal yang penting diingat adalah diagnosa kanker bukanlah kesalahan siapapun.

Faktanya, studi yang telah dipublikasikan awal tahun ini menemukan dua pertiga orang dewasa yang ditemukan kanker terjadi secara acak akibat mutasi gen yang mendorong pertumbuhan tumor.

Lalu, adakah cara untuk mencegah terjadinya kanker?

Sementara tak ada yang bisa memastikan Anda tak akan menerima diagnosis kanker, strategi melawan kanker tampaknya adalah yang paling efektif untuk dilakukan.

Makanan sehat dan bernutrisi adalah salah satu faktor penting yang berpengaruh.

“Nutrisi yang baik sangat penting untuk pencegahan kanker,” ujar Anna Taylor, R.D., pakar diet klinis dari Cleveland Clinic.

Luca Mazzarella, M.D., Ph.D., dari European Institute of Oncology, Italy mengatakan bahwa jika indeks masa tubuh lebih besar dari  yang sudah ditetapkan  akan bisa terhindar dari risiko penyakit kanker.

Ini karena  kelebihan berat badan dapat meningkaykan risiko kanker payudara, menurut Prevent Cancer Foundation dan perut gendut akan meningkatkan risiko empat puluh tiga persen.

Kegemukan akan meningkatkan tingkat inflamasi tubuh, yang mana dapat menumbuhkan sel-sel kanker.

Selain itu kegemukan akan merangsang terbentuknya estrogen, semakin tinggi kadar estrogen dalam tubuh akan berisiko menyebabkan kanker payudara.

Menurut Mazzarella andungan vitamin, mineral dan antioksidan, akan berkontribusi pada kelenjar endokrin.

“Phytonutrient, mineral, dan vitamin antioksidan tertentu adalah area terbaru yang difokuskan dalam penelitian nutrisi yang semakin menarik dibahas setiap tahunnya,” ujar Taylor.

Banyak phytonutrient yang muncul memainkan peran penting dalam menurunkan risiko kanker dengan menjaga sel dari kerusakan atau mutasi DNA, mengurangi inflamasi, dan merangsang system imun untuk membantu menghancurkan mutasi sel.

Phytonutrient dapat ditemukan dalam resveratrol dalam red wine, karoten dalam sayur-sayuran berwarna hijau tua, merah, oranye, ungu, asam ellagic yang terdapat dalam cranberry, dan flavonoids yang terkandung di dalam cokleat hitam, wine, dan teh.

Dua tahun lalu para peneliti studi Cancer Cell International menemukan bahwa antioksidan dalam wine merah mampu menahan pertumbuhan kanker paru, salah satu tipe kanker yang paling mematikan.

Sementara itu, dalam studi Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, wanita dengan kanker payudara yang mengonsumsi pola makan lebih baik berisiko lebih rendah terhadap kematian dibanding yang tidak mengonsumsi makanan sehat.

Penelitian menunjukkan baha makanan berbasis tumbuhan,baik itu buah-buahan dan sayur-sayuran berbagai warna yang setidaknya dikonsumsi sebanyak sembilan porsi per hari, secara signifikan dapat menurunkan risiko kanker berbagai tipe.

Selain itu, konsumsi biji-bijian, lemak sehat, rendah garam, dan rendah gula juga akan menjauhkan Anda dari risiko kanker.

“Catatan penting untuk diketahui, meski semua penelitian mendukung asupan makanan sehat kaya nutrisi yang komponennya berkorelasi mengurangi risiko kanker, maka segala jenis suplemen bernutrisi yang biasa dikonsumsi masyarakat justru tanpa disadari punya pengaruh besar memicu kanker,”  ujar Taylor.

Komentar