Kelebihan Tidur Bisa Gangguan Mental?

Penulis: Darmansyah

Selasa, 14 Juni 2016 | 10:01 WIB

Dibaca: 0 kali

Dua laman situs terkenal dunia,”huffington post” dan “medical daily,” hari ini Selasa, 14 Juni 2016, membahas tentang dampak dari banyak maupun sedikitnya tidur terhadap tubuh dan mental.

Menurut keduanya media itu, tidur, sebuah  kegiatan yang di lakukan tanpa sadar,  sangat penting untuk kesehatan ini

Studi terhadap tidur terus berlangsung, terrmasuk pengaruh kurang tidur dan kebanyakan tidur bagi tubuh.

Dampak dari kurang tidur mungkin sudah sering dibahas, tapi kebanyakan tidur merupakan tema yang relatif baru.

Sebelumnya, ketahui dulu apa yang dimaksud kebanyakan tidur oleh para ahli.

Standar baku untuk tidur yang cukup adalah delapan jam, dan durasi itu sudah disepakati serta dibuktikan manfaatnya dalam berbagai penelitian.

Para ahli juga menyebutkan durasi tidur tujuh hingga sembilan jam untuk orang dewasa berusia  direkomendasikan. Tapi, ada juga pakar tidur yang menyebutkan tidur enam sampai tujuh jam sebenarnya juga cukup dan menyehatkan.

Memang durasi tidur sebenarnya bersifat individual, karena ada orang yang merasa bugar setelah tidur 7 jam di malam hari, tapi ada juga yang butuh waktu tidur lebih sedikit dari itu.

Secara umum, para ahli menyebutkan tidur sembilan jam dianggap jumlah yang cukup banyak untuk waktu tidur orang dewasa.

Jika Anda tidur sedikit lama di akhir pekan, itu adalah hal yang normal.

Namun, bila Anda selalu tidur sembilan jam setiap malam dan tidak merasa berenergi jika tidur kurang dari durasi itu, maka mungkin Anda termasuk kelompok tidur lama.

Secara umum, dua persen dari populasi masuk dalam kelompok tersebut.

Menurut Dr.Guy Meadows, pakar insomnia dan direktur klinis The Sleep School, London, mengatakan tidur terlalu lama bisa mengindikasikan adanya masalah mental, misalnya depresi.

Meski sebagian orang yang menderita depresi mengeluhkan sulit tidur, tetapi sekitar lima belas persennya cenderung kebanyakan tidur. Orang yang kebanyakan tidur juga umumnya memiliki gejala kecemasan.

Penelitian menyebutkan, orang dewasa yang tidur sepuluh jam setiap malam memiliki kondisi kesehatan mental yang buruk dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut Dr.Robert Rosenberg, pakar tidur, selain kelompok orang yang tidur lama, kebanyakan tidur memang dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku.

Kebanyakan tidur juga berkaitan dengan sakit kepala. Mungkin Anda pernah mengalami sakit kepala di akhir pekan gara-gara kebanyakan tidur.

Penyebabnya bukan karena tidur itu sendiri, tetapi meningkatnya stres.

Rosenberg memberi saran apa yang bisa kita lakukan untuk menghindari tidur kebanyakan.

“Sebaiknya jangan tidur terlalu lama di akhir pekan untuk menormalkan irama sirkadian tubuh. Selain itu, jangan tidur siang lebih dari jam empat karena kita jadi sulit tidur di malam hari dan akhirnya esoknya akan tidur sampai siang,” katanya.

Tentukan jam bangun di pagi hari agar kita tidak tidur berlebihan.

Mungkin pada awalnya kita perlu memasang alarm dan disiplin untuk mulai tidur di malam hari. Bangunlah pada waktu yang sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan. Ini akan melatih tubuh.

Ia juga menyarankan untuk mencari akar masalah dari stres atau kecemasan yang mungkin kita rasakan. Cari tahu juga mengapa kita sering bangun dengan lemas.

Mungkin bukan karena kurang tidur tapi kurang olahraga atau pola makan tidak sehat.

Bangun dari tidur malam yang hanya berlangsung selama empat jam bisa saja membuat Anda merasa kacau menjalani hari. Mengantuk, lelah, kurang konsentrasi, menjadi tanda awal kalau tubuh kurang mendapat istirahat.

Anda lantas berniat untuk menghapus kekacauan tadi dengan tidur melebihi 8 jam tidur yang direkomendasikan. Hasilnya, Anda hanya akan merasa lelah seperti hari sebelumnya.

Tidur lebih lama dari delapan jam tampak ideal, khususnya bagi seseorang yang merasa kekurangan jam tidur akibat banyaknya aktivitas.

Atau, Anda merasa punya banyak waktu untuk bersantai sehingga akhirnya memutuskan untuk tidur sepanjang hari.

Sayangnya, kebanyakan tidur atau kurang tidur, keduanya bisa merusak siklus tidur seseorang yang akhirnya berpengaruh pada kesehatan fisik maupun psikologis.

Saat seseorang tidur berlebih, akan terjadi perubahan jam biologis yang menghasilkan perubahan fisik, mental, serta prilaku.

Beberapa penelitian menunjukkan, orang yang bangun kesiangan misalnya, dapat mengalami sejumlah efek samping seperti pusing sepanjang hari, sering mengantuk, serta kelelahan yang tak jelas penyebabnya.

Para peneliti beranggapan, terlalu banyak tidur memiliki efek pada neotransmitter dalam otak, terutama serotonin.

Saat kebanyakan tidur menjadi sebuah “kebutuhan”, maka kondisi tersebut bisa mengarah pada kondisi medis yang disebut hipersomnia.

Gejalanya, walau sudah mendapat tidur cukup saat malam, namun masih saja merasa kelelahan dan mengantuk di siang hari.

Komplikasi kesehatan jangka panjang yang mungkin ditimbulkan antara lain sakit punggung bagian bawah, diabetes, stroke, bahkan penyakit jantung.

Sedang untuk komplikasi secara psikologis bisa berupa kecemasan, kurang bergairah, hilang nafsu makan, penurunan memori, serta emosi yang tidak stabil.

Komentar