Gemuk Bikin Detak Jantung Tak Teratur

Penulis: Darmansyah

Rabu, 18 Oktober 2017 | 10:21 WIB

Dibaca: 0 kali

Bagaimanapun kelebihan berat badan atau obesitas memberi dampak buruk bagi kesehatan, terlebih pada pria.

Pasalnya, baru-baru ini sebuah studi mengungkapkan bahwa pria dengan kelebihan berat badan atau obesitas cenderung mengalami detak jantung tidak teratur pada usia lima puluh tahun.

Hasil temuan ini menunjukkan bahwa pria dengan obesitas didiagnosis mengalami fibrilasi atrium atau FA, suatu kondisi gangguan irama jantung yang sering disebut aritmia alias ketidakteraturan denyut jantung.

Hal ini menyebabkan ruang atas jantung  tidak berdenyut secara efektif. Akibatnya darah tidak terpompa sepenuhnya dan pada akhirnya menyebabkan pengumpulan dan penggumpalan darah.

Peningkatan ini, yang utama disebabkan oleh indeks massa tubuh atau IMT yang lebih tinggi, pada pria sebanyak tiga puluh satu persen, sementara pada wanita sebanyak 18 persen.

“Kami menyarankan penurunan berat badan untuk pria dan wanita,” kata Christina Magnussen, spesialis medis di University Heart Center di Hamburg, Jerman.

“Indeks massa tubuh yang meningkat tampaknya lebih merugikan laki-laki. Karenanya pengendalian berat badan sangat penting, terutama pada pria dengan kelebihan berat badan atau obesitas,” tambah Magnussen.

Selanjutnya, kadar protein C-reaktif atau CRP yang lebih tinggi (penanda peradangan) juga ditemukan meningkatkan risiko pada pria lanjut usia.

Menurut periset tersebut, dalam makalah yang diterbitkan dalam jurnal Circulation, semua gabungan ini meningkatkan risiko stroke hingga lima kali lipat, bahkan lebih dari tiga kali lipat membuat seseorang berisiko meninggal, karena penyebabnya berhubungan dengan jantung.

“Sangat penting untuk lebih memahami faktor risiko fibrilasi atrium. Jika strategi pencegahan berhasil menargetkan faktor risiko ini, kami memperkirakan penurunan fibrilasi atrium yang baru terlihat,” kata Magnussen.

Studi ini didukung juga oleh periset sebelumnya, yakni Dr Prashanthan Sanders, dari University of Adelaide yang mengungkapkan bahwa obesitas alias kegemukan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami gangguan jantung.

“Peningkatan risiko ini bisa diturunkan dengan mengurangi berat badan,” kata Sanders.

Tak hanya masalah pada jantung, Dr Oussama Wazni dari Cleveland Clinic di Ohio juga menegaskan bahwa kegemukan meningkatkan risiko apapun pada kesehatan, termasuk risiko efek samping dari tindakan operasi.

“Jika pasien bisa menurunkan berat badan, mereka akan merasa lebih baik secara umum dan mereka akan memiliki lebih sedikit risiko hipertensi, diabetes dan fibrilasi atrium,” papar Wazni.

Menurut penelitian lainnya,  yang dipublikasikan di Centers for Disease Control and Prevention, menunjukkan bahwa empat puluh persen pengidap kanker memiliki kelebihan berat badan.

“Studi observasional telah memberikan bukti bahwa kenaikan berat badan seberat 5 kilogram sejak awal masa dewasa dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker terkait kelebihan berat badan dan obesitas,” tulis para peneliti, dikutip dari TIME

Pada tiga tahun lalu  sekitar enam ratus tiga puluh ribu ribu orang dengan berat badan berlebih mengidap kanker.

Berdasarkan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker mengidentifikasi 13 jenis kanker, yaitu kanker mulut dan kerongkongan, kolorektal, endometrium, kandung empedu, perut, ginjal, hati, ovarium, pankreas, tiroid, meningioma, dan kulit.

Berat badan yang berlebihan diyakini bisa memicu pertumbuhan kanker dengan berbagai cara.

Hal ini dapat memengaruhi beberapa hal dalam tubuh, seperti mengubah kadar insulin, hormon seks atau pertumbuhan, serta memicu sel kanker tumbuh dengan cepat dan tak terkendali.

Sekitar dua pertiga orang yang didiagnosis menderita kanker terkait obesitas berusia antara 50-74 tahun, dan lebih banyak menyerang wanita.

“Sebagian karena kanker payudara, endometrium, ovarium, dan pascamenopause menyumbang empat puluh dua persen terkait obesitas,” imbuhnya.

Namun, mereka menunjukkan bahwa laporan mereka hanya melacak diagnosis kanker terkait obesitas.

Dan hal itu tidak bisa memperkirakan berapa banyak dari kasus-kasus tertentu sebenarnya disebabkan karena kelebihan berat badan atau obesitas.

Sebenarnya bukan berat badannya yang berbahaya tapi komposisi lemaknya.

Dikutip dari HealthStatus, ada dari mereka yang memiliki IMT tinggi namun komposisi lemak di tubuhnya normal.

Orang demikian bisa dipertimbangkan lebih sehat daripada orang-orang dengan IMT normal sementara masa lemaknya berlebih.

Menurut para ahli, komposisi lemak tubuh yang normal untuk perempuan adalah dua puluh dua hingga dua puluh lima persen. Sedangkan pada laki-laki, yang normal adalah lima bvelas hingga delapan belas persen.

Perempuan yang memiliki komposisi lemak dua puluh sembilan hingga tiga puluh lima persen dianggap kelebihan berat badan dan bagi laki-laki lebih dari dua puluh persen.

Seperti diketahui, kegemukan yang disebabkan penimbunan lemak dianggap berbahaya karena lemak tubuh berlebih merupakan faktor risiko banyak penyakit.

Misalnya, kelebihan lemak yang terakumulasi di sekitar organ vital dikaitkan dengan diabetes, penyakit jantung, hipertensi, sampai kanker.

Komentar