Kebas Bukan Berarti Kolesterol

Penulis: Darmansyah

Selasa, 22 Januari 2013 | 09:06 WIB

Dibaca: 0 kali

“TANGAN saya kebas dok. Apa kolesterol saya tinggi?”

Sepotong dialog bernada cemas itu muncul di kamar praktek seorang dokter. Dialog yang tidak istimewa dalam hubungan dokter dengan pasien. Dan sang dokter biasanya hanya tersenyum tanpa bisamemberi jawaban final. Ujung dialog,  usai sang dokter membongkar seluruh keluhan pasiennya, selembar kertas pengantar bertuliskan istilah yang sulit dimengerti  awam dimasukkan ke amplop putih. “Cek up ya,” ujar sang dokter mengakhiri pemeriksaan.

Kolesterol memang sering diasumsikan  secara keliru dengan kebas. Padahal kebas, menurut seorang dokter,  bisa terjadi dari bermacam sebab. Sedangkan kolesterol sendiri harus dipastikan kadarnya lewat cek  laboratorium.

Bahkan di banyak kesempatan orang sering mengklaim dirinya memiliki kadar kolesterol tinggi begitu kebas singgah di genggeman tangannya. Ia akan bercerita panjang tentang kebas ini dengan rentetan keluhan panjang yang macam-macam keluhan lain.

Kolesterol,  selama dekade terakhir, sedang “trendy” di komunitas kesehatan. “Trend” yang seperti dipublikasikan oleh jurnal WHO bergerak ke puncak pembunuh nomor satu di dunia. Mengutip data WHO tahun 2002 menunjukkan “hiperkolesterolemia,” atau kadar kolesterol tinggi, menyebabkan 4,4 juta kematian di dunia.

Ini fakta.yang mengharuskan setiap orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi untuk berhati-hati. Hiperkolesterolemia bisa memicu penyakit berbahaya, seperti stroke, hipertensi, penyakit janung dan diabetes.  Penyakit stroke, kini di Indonesia, menjelma sebagai pembunuh utama dan penyebab kecacatan yang tinggi. Kasusnya setipa tahun terus mengalami peningkatan.

Siapa yang berhak menyandang predikat hiperkolesterolemia?  Mudah saja! Telusuri daftar hasil pemeriksa laboratorium Anda dan amati angkanya. Kalau total kolesterol yang tertera di sana melebihi angka 200 miligram/desiliter, itu berarti Anda sudah dikategorikan tinggi.  Bisa juga didaftar yang sama Anda memiliki l.d.l  atau low density lipoprotein melebihi 150 miligram/desiliter. Itu berarti Anda juga termasuk orang dengan kadar kolesterol tinggi.

Hiperkolesterolemia sebenarnya bisa tidak terjadi jika kita menjauh pemicu utamanya. Diantaranya pola makan yang salah, obesitas, rokok, alkohol dan rendahnya aktifitas Celakanya sang pemicu itu adalah  kecenderungan dari komunitas masyarakat moderen yang semuanya serba instan. Serba wah, mudah dan cepat.

Contoh pola makan yang salah adalah terlalu banyak mengomsumsi lemak jenuh. Lemah jenuh ini paling banyak terdapat pada jeroan dan beragam gorengan. Minim aktifitas fisik atau tidak pernah melakukan olahraga bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat dan bisa juga berkurangnya  kadar kolesterol baik  yang dikenal dalam dunia kesehatan “high density lipoprotein” atau sering dinamakan HDL.

Tingginya kadar kolesterol bisa juga disebabkan faktor keturunan atau genetik. Tak bisa dipungkiri ada orang yang sudah menjalani pola hidup sehat tetapi kadar kolesterolnya tetap tinggi. Kelompok orang  ini biasanya memiliki riwayat keluarga yang memiliki kolesterol tinggi. Namun begitu ia tidak harus meninggalkan rutinitas hidup sehat.

Penyakit genetik ini bukan harus diterima sebagai harga mati. Umpamanya, seorang anak yang ayah diabet bukan berarti harus memasrahkan dirinya untuk digergoti diabetes. Begitu juga dengan penyakit darah tinggi yang bisa diturunkan. Bagi orang-orang yang keluarga memiliki riwayat kadar kolesterol harus lebih ekstra ketat menerapkan pola hidup sehat dikeseharian kehidupannya.

Hidup sehatlah baik dengan penyakit atau pun tanpa penyakit. Bukankah mencegah lebih baik dari beribat?

Komentar