Karbohidrat Itu Bukan “Setan” Makanan

Penulis: Darmansyah

Senin, 27 April 2015 | 11:44 WIB

Dibaca: 1 kali

Karbohidrat? Ya. Asupan ini dimusuhi para “penyandang” diet karena mereka anggap bisa micu kegemukan, plus mendatangkan penyakit diabetes dan jantung.

Benarkah?

Ahli diet dari Universitas Edinburgh Dr. Helen Bond, dengan tandas mengatakan itu salah.

Lantas? Ia berpendapat, memasukan karbohidrat ke dalam makanan harian merupakan hal terpenting bila ingin mendapatkan bentuk dan berat tubuh ideal tersebut.

“Jangan anggap karbohidrat sebagai `setan` bagi pelaku diet. Karbohidrat tidak menjadi penyebab kegemukan hingga harus dihindari bila ingin mendapatkan bentuk dan berat tubuh ideal,” ujarnya dengan nada sinis.

Helen yang melakukan studi dan melibatkan empat ribu responden, dan telah dipublikasikan ke dalam Journal of American Association , menemukan bukti bahwa mereka yang paling banyak mengonsumsi karbohidrat lebih kecil kemungkinannya menggemuk dan kelebihan berat dibanding yang menjauhi karbohidrat.

“Karbohidrat merupakan bagian terpenting dari diet sehat dan seimbang. Pedoman umumnya adalah takaran untuk karbohidrat harus sepertiga dari asupan,” kata Helen menjelaskan.

Helen yang juga seorang juru bicara dari British Dietic Association menerangkan, karbohidrat adalah sumber bahan bagi tubuh. Bila enggan mengonsumsi karbohidrat, kepala bisa sakit, mudah lelah, dan lesu.

“Anda pun tidak dapat melakukan latihan dengan baik bila kekurangan karbohidrat. Bahkan, Anda akan sulit konsentrasi, karena karbohidrat juga merupakan bahan bakar otak,” kata Helen seperti dikutip Daily Mail

Menurut dia, tak ada salahnya bila kita mengonsumsi karbohidrat, selama kita mencampurnya dengan lauk pauk tinggi serat dan protein. Asal takarannya tak berlebihan, tak perlu takut karbohidrat membuat kita gemuk.

Kita pun dapat mengonsumsi karbohidrat seperti beras merah atau roti gandum yang mengandung banyak serat, yang membuat kita kenyang lebih lama serta mendapatkan bentuk dan berat tubuh ideal.

Dalam sebuah studi lainnya, ilmuwan dari Ohio State University justru memperhatikan bahwa karbohidrat seperti nasi jauh lebih bahaya dari lemak jenuh semisal gorengan.

Mengutip News, ilmuwan menemukan bahaya makanan berlemak jenuh hanya meningkatkan risiko gagal jantung.
Tapi kalau karbohidrat, ada tiga kali risiko asam lemak yang dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes dan penyakit jantung.

“Kami menemukan bahwa ketika karbohidrat berkurang dan lemak jenuh meningkat, total lemak jenuh dalam darah tidak meningkat, dan bahkan turun di sebagian besar orang.”

“Tapi asam lemak yang disebut asam palmitoleic, yang berhubungan dengan karbohidrat justru menimbulkan berbagai penyakit. Peningkatan asam lemak ini menunjukkan bahwa karbohidrat yang diubah menjadi lemak tidak dibakar oleh tubuh,” kata penulis studi, Jeff Volek.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pro ONE ini juga mencatat adanya perbaikan yang signifikan dalam glukosa darah, insulin dan tekanan darah serta kehilangan berat badan rata-rata bila diet karbohidrat.

“Ada kesalahpahaman yang meluas tentang lemak jenuh. Dalam studi ini, jelas kami tidak melihat hubungan antara diet lemak jenuh dan penyakit jantung. Pembatasan lemak jenuh itu tidak ilmiah dan tidak cerdas,” kata Volek.

Banyak orang yang sedang dalam program pengaturan berat badan terutama dari kegemukan menuju langsing menghindari karbohidrat.

Karbohidrat dituding sebagai penyebab kegemukan.

Padahal, meski menjalankan pengaturan pola makan, tubuh memerlukan karbohidrat untuk banyak hal.
Berikut alasan mengapa tubuh memerlukan asupan karbohidrat setiap hari seperti dilansir Women’s Health.

. “Karbohidrat adalah bahan bakar untuk tubuh karena mengandung glukosa yang merupakan bahan bakar tubuh utama. Selain itu baru protein dan lemak,” terang Keri Gans, R.D., penulis The Small Change Diet.

“Jika tubuh tidak memiliki asupan karbohidrat, kemampuan untuk berpikir, belajar, dan mengingat akan menurun karena neurotransmitter di otak tidak memiliki glukosa,” tambah Gans.

Karbohidrat yang baik seperti yang berasal dari biji, buah dan sayur mengandung banyak serat yang membantu buang air besar secara lancar,” terang Gans.

Kebanyakan karbohidrat mengandung triptofan yang membantu menghasilkan serotonin atau hormon rasa senang di otak. “kurang triptofan membuat anda lebih mungkin mengalami depresi dan kesulitan tidur,” tambah Gans.
Jangan salah, buah dan sayur juga termasuk karbohidrat yang juga dipenuhi dengan Vitamin B dan C.Vitamin B membantu misalnya membantu tubuh mengubah energi serta membuat sel-sel darah merah.

“Karbohidrat kompleks seperti roti gandum dan beras merah membantu mengurangi penyakit jantung dan menurunkan kadar kolesterol,” terang Gans.

women’s health, daily mail dan heathy news

Komentar