Kacang Bisa Tangkal Serangan Jantung

Penulis: Darmansyah

Kamis, 16 November 2017 | 08:48 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah studi baru datang dengan kabar yang menggembirakan bagi mereka yang gemar makan kacang-kacanga.

Menurut analisa yang dirilis hari ini, Kamis, 16 November, serangan jantung menjadi momok menakutkan di tengah masyarakat bisa diredam bila Anda rajin makan kacang.

“Ada cara untuk mengurangi resiko serangan jantung, yaitu mengonsumsi kacang-kacangan secara rutin,” tulis salah satu analisa hasil studi itu.

Studi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi kenari, almon, kacang kemiri, mete, kenari hijau, kacang pikan, dan kacang biasa mampu mengurangi risiko penyakit jantung.

Dalam penelitian terhadap dua ratus ribu orang yang makan kacang-kacangan, seperti ditulis laman “the telegraph,”  akan bisa terhindar dari jantung koroner.

Mereka makan kacang-kacangan dua hingga tiga kali dalam seminggu

Dua puluh tiga persen dari responden tidak berisiko gangguan jantung koroner dan lima belas persen tidak berisiko akan penyumbatan arteri jantung atau kardiovaskular.

Kacang sendiri sebenarnya telah lama dianggap sebagai superfood karena mengandung antioksidan, protein, nutrisi, mineral, dan serat yang tinggi. Semua kandungan tersebut sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.

“Temuan kami mendukung rekomendasi untuk meningkatkan asupan berbagai jenis kacang, sebagai bagian dari pola diet sehat untuk mengurangi risiko penyakit kronis di masyarakat luas,” kata Dr. Marta Guasch-Ferre, ahli gizi dari Universitas Harvard yang juga penulis utama penelitian ini, dikutip dari The Telegraph.

Lebih dari dua ratus ribu lebih perawat perempuan dan tenaga profesional kesehatan laki-laki di Amerika Serikat terlibat sebagai peserta penelitian ini.

Mereka memberikan informasi kesehatannya dalam tiga puluh dua tahun terakhir, mulai dari informasi tentang riwayat medis, gaya hidup dan penyakit.

Kemudian, mereka diminta mengisi kuesioner mandiri setiap dua tahun.

Dari data tersebut, Dr. Guasch-Ferre dan koleganya mengidentifikasi  kasus penyakit kardiovaskular utama, penyakit jantung koroner, dan stroke yang beberapa di antaranya berakibat fatal.

Menanggapi temuan yang dimuat di Journal of American College of Cardiology, berbagai ahli angkat bicara.

Salah satunya adalah Dr Emilio Ros, ahli medis di Klinik Endokrinologi dan Gizi di Barcelona. Dr Ros mengatakan, idealnya, investigasi lebih lanjut dibutuhkan untuk menguji efek konsumsi kacang dalam jangka panjang yang ditambahkan dalam diet biasa pada kardiometabolik keras.

“Sementara itu, kacang mentah, jika mungkin tidak dikupas dan tidak diproses, dapat dianggap sebagai kapsul kesehatan alami yang bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam diet pelindung jantung untuk mendapatkan kesehatan kardiovaskular lebih baik dan meningkatkan kesehatan di usia senja,” lanjut Dr. Ros.

Seperti diketahui, penyakit kardiovaskular adalah kondisi seperti penyakit jantung atau stroke yang melibatkan penyumbatan atau penyempitan arteri atau pembuluh darah ke jantung, otak, atau tubuh. Sementara itu, penyakit jantung koroner adalah saat lemak menyumbat dinding arteri.

Profesor Jeremy Pearson, Direktur Medis Asosiasi Jantung Inggris, berpendapat bahwa penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya, terkait kebiasaan orang-orang yang makan kacang mentah dianggap memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit jantung.

“Namun mungkin ada banyak alasan untuk ini, termasuk kemungkinan orang yang makan kacang polos (tanpa rasa) cenderung memiliki diet yang lebih baik,” ujar Profesor Pearson.

“Penelitian ini difokuskan pada asupan kacang mentah dan ini sangat berbeda dengan kacang panggang atau asin yang sering menggunakan garam dan gula,” imbuhnya.

Dalam rilis yang sama, Professor Gemma Figtree dari Penelitian Jantung Australia  dan timnya melakukan pengkajian terhadap  tujuh ratus pasien yang mengalami serangan jantung di Rumah Sakit Royal North Shore di Sydney

Mereka menemukan bahwa jumlah pasien yang sebelumnya sehat namun mengalami serangan jantung naik dari sebelas persen kedua puluh tujuh persen selama delapan tahun.

“Sebagai ahli penyakit jantung, kami ingat dengan pasien muda dan fit yang datang ke rumah sakit, dan seperti bertanya ‘mengapa saya yang terkena?’,” kata Professor Figtree.

“Ini membuat kami kemudian tertarik untuk melihat apa yang terjadi dengan pasien yang secara tradisional tidak memiliki faktor pemicu,” ujarnya lagi.

Mereka menyimpulkan bahwa serangan jantung sekarang ini terjadi pada kelompok umur mana saja, dan juga sama bahayanya dan mematikannya dengan yang mengenai mereka yang memiliki faktor pemicu.

Para peneliti mengatakan mereka belum mengetahui secara persis mengapa pasien tanpa faktor pemicu kemudian memiliki plak  atau sumbatan di dalam pembuluh darah mereka, hal yang dikenal dengan nama atherosclerosis.

“Kami sebenarnya sedang melakukan penelitian besar saat ini, atas dukungan dari Heart Research Australia, di mana pasien bersedia menyumbangkan darah mereka, dan kami mencoba memahami, apa yang terjadi pada pasien yang tidak memiliki faktor pemicu tersebut, apa yang menyebabkan sumbatan di pembuluh darah mereka dan menyebabkan serangan jantung.” kata Prof Figtree.

Dia mengatakan, ada kesalahpahaman bahwa penyakit jantung hanya menyerang pria yang sudah lanjut usia, yang merokok, atau memiliki gaya hidup yang tidak sehat.

“Kami tahu itu tidak benar. Penemuan ini menunjukkan ada banyak hal yang tidak kami ketahui mengenai penyakit jantung. Mereka yang muda, yang sehat, pria dan wanita bisa mengalami pennyumbatan di arteri mereka,” katanya.

Dia melanjutkan, tujuan kami adalah mengidentifikasi di tahap awal dan mencari perawatan yang bisa dilakukan untuk memperkecil kemungkinan penyakit ini menyebabkan serangan jantung.

Dokter spesialis jantung Dr Ravinay Bhindi dari RS Royal North Shore mengatakan bahwa penemuan ini menunjukkan pentingnya untuk mengetahui gejala serangan jantung.

“Semua orang harus mengetahui gejala serangan jantung. Bilapun tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengobati, tetapi kalau kita mengetahui adanya gejala, kita bisa ke rumah sakit dan mendapat perawatan.”

Komentar