Jika Berhenti Merokok akan Gemuk?

Penulis: Darmansyah

Kamis, 8 Mei 2014 | 14:25 WIB

Dibaca: 0 kali

Merokok berbahaya! Itu disadari oleh para perokok sendiri. Menghentikannya? Itu yang paling sulit. Tidak hanya dari sisi kesehatan tapi juga factor psikologis.

“Takut gemuk, ah!” Itu yang diutarakan seorang kawan ketika ia dianjurkan oleh seorang dokter di sebuah klinik untuk membuang “penyakit”nya ini.

Apakah berhenti merokok akan membuat seseorang gemuk? Situs “healthday,” dalam rilis terbarunya mengangkat masalah alasan takut gemuk ini sebagai bahasan tentang para perokok yang sulit berhenti.
Kekhawatiran tubuh akan bertambah gemuk setelah berhenti merokok menjadikan sebagian perokok tak mau berhenti melakukan kebiasaannya itu.

Sebuah studi baru menemukan, hal itu pun menjadi alasan terbanyak yang diajukan mereka yang pernah mencoba merokok sebelumnya.

Penelitian asal Penn State University College of Medicine menemukan, setelah berhenti merokok, berat badan orang memang rata-rata bertambah sekitar 3,6 hingga 6,3 kilogram. Kenaikan berat badan tersebut biasanya terjadi dalam satu tahun pertama setelah berhenti.

Dalam studi tersebut, peneliti melakukan survei pada 186 perokok yang mendapat terapi berhenti merokok, dan 102 perokok yang tidak. Semua partisipan studi merokok paling tidak lima batang rokok dalam sehari. Mereka kemudian ditanya kenaikan berat badannya pada saat berusaha berhenti merokok.

Dan ditanya kekhawatiran mereka saat kembali berupaya.

Studi yang dipublikasi dalam International Journal of Clinical Practice itu menemukan, kedua kelompok umumnya khawatir akan kenaikan berat badan. Perbedaan antara kedua kelompok itu hanya terletak pada kenaikan berat badan yang mereka dapatkan saat berupaya berhenti merokok di masa lalu.

Peneliti menemukan, 53 persen peserta mengalami kenaikan berat badan saat berupaya berhenti merokok. Dalam kelompok perokok ini, mereka yang tidak peduli pada kenaikan berat badan lebih sulit untuk mencari terapi yang membantu mereka berhenti.

Susan Veldheer, salah seorang peneliti studi asal departemen ilmu kesehatan masyarakat di Penn State mengatakan, mungkin hasil ini tidak mengejutkan. Alasan perokok tidak mau mencari bantuan untuk berhenti merokok didominasi takut gemuk dan malu. “Padahal mungkin mereka sudah mengetahui manfaat berhenti merokok,” ujarnya.

Karena itu, menurut Veldheer, dokter perlu menanyakan bila peserta mengalami kenaikan berat badan saat mencoba berhenti. Ini supaya saat usaha berhenti merokok dimulai kembali, peserta bisa mengerti bahwa mereka juga harus menjaga berat badannya.

Studi lainnya dalam jurnal Obesity mengungkapkan, merokok dapat berkontribusi dalam peningkatan berat badan. Sehingga alasan tidak ingin berhenti merokok demi menjaga berat badan tidaklah tepat.

“Keinginan makan yang meningkat berhubungan dengan kemampuan pengecapan terhadap makanan. Saat merokok kemampuan pengecapan menurun, otak pun lebih sulit terpuaskan dari makanan, sehingga cenderung menambah jumlah makanan,” terang peneliti.

Jika ingin tahu kenapa kebiasaan merokok harus dihentikan adalah, sudah ratusan ribu hingga jutaan kematian setiap tahun di seluruh dunia berasal dari “hobi” jelek ini..

Rokok mengandung bahan kimia yang berbeda, dan lebih dari tujuh ribu senyawa kimia diproduksi dari asap rokok.

“Rokok mengandung ribuan bahan tambahan yang tidak ditemukan secara alamiah di dalam tumbuhan tembakau,” ujar ilmuwan kesehatan lingkungan di Mount Sinai School of Medicine, Luz Claudio.

Bahkan, ketika dibakar, rokok mengeluarkan bahan kimia yang lebih banyak lagi. Bahan-bahan itulah yang berbahaya bagi kesehatan.

Memang bahan-bahan kimia yang ditemukan di rokok juga termasuk dalam bahan yang sudah disetujui oleh badan pengawas makanan dan obat (FDA). Hanya, bahan-bahan tersebut berada di produk yang seharusnya tidak dimakan.

Misalnya arsenik, substansi anorganik yang ditemukan pada pengawet kayu dan racun tikus. Menurut FDA, arsenik dapat membahayakan kesehatan karena bersifat karsinogenik, beracun untuk pembuluh darah, sistem reproduksi, dan perkembangan.

Beberapa rokok juga mengandung bahan kimia berbahaya yang terdengar lebih umum, seperti karbonmonoksida yang juga terdapat pada pemadam api dan nikotin yang juga terdapat pada insektisida. Dalam rokok juga terdapat formaldehid, yaitu bahan penyebab kanker, atau kadmium, bahan aktif pada baterai, serta heksamin yang juga ditemukan pada arang.

Menurut ahli paru dengan spesialisasi rehabilitasi paru dari City of Hope, Brian Tiep, mengatakan, rokok dapat memengaruhi aliran oksigen di tubuh dengan dua cara. Pertama, karbonmonoksida “mencuri” berikatan dengan hemoglobin yang seharusnya berikatan dengan oksigen untuk dialirkan ke seluruh tubuh.

“Kedua, sianida mengurangi kemampuan jaringan untuk mengambil dan memanfaatkan oksigen. Sementara fungsi jaringan tidak akan optimal tanpa aliran oksigen,” jelasnya.

sumber : www.medicaldaily.co dan www.healthday.com

Komentar