close
Nuga Sehat

Jawaban Terhadap Perilaku Rakus Makan

Para peneliti dari Brookhaven National Laboratory, beberapa waktu lalu, seperti diungkapkan oleh laman situs kesehatan “healthy,” Jumat 05 Februari 2016, berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan terhadap perilaku orang yang makan terus menerus seolah tak pernah kenyang.

Sebelumnya banyak yang mengatakan karena kebiasaan, ada juga karena merasa ingin terus mengunyah.

Seperti dikutip dari laman “newsweek,” sebuah penelitian yang dilakukan pada awal dua ribuan oleh Nora Volkow dan timnya di Brookhaven National Laboratory mengungkap alasan mengapa ada orang yang tidak dapat berhenti mengunyah.

Pengujian dilakukan pada sepuluh sukarelawan yang diketahui memiliki kebiasaan makan berlebihan.

Mereka dibaringkan pada Positron Emission Tomography Scan atau alat yang dapat memindai sehingga tampak gambar fungsi biologis tubuh manusia lebih jelas.

Penggunaan PET bertujuan melihat otak para sukarelawan.

Berdasarkan penelitian tersebut, orang yang memiliki keinginan makan tanpa henti memiliki tampilan otak yang berbeda.

Pada orang dengan kebiasaan makan berlebih, terutama yang mengalami kegemukan, otak mereka diketahui tidak memiliki reseptor untuk dopamin.

Dopamin merupakan zat kimia yang memainkan peranan penting di otak. Dopamin berperan dalam penggerak, kendali motorik, motivasi, gairah, penguatan, dan rasa menghargai.

Dopamin juga memiliki fungsi lainnya seperi saat menyusui, kepuasan seksual, dan mual.

Terdapat dua saluran dalam penyaluran dopamin pada otak, yaitu saluran D1 dan D2.

Bila seseorang tidak memiliki reseptor D2 seperti yang ditemukan Volkow pada sukarelawan tak henti makan itu, maka orang tersebut tidak dapat menghambat dorongan kuat yang datang ke otak.

Salah satu akibatnya, seseorang tidak dapat mengendalikan hasrat makan.

Volkow juga mengatakan defisit D2 dapat meningkatkan makan berlebih dengan membuat orang tersebut kehilangan sensitifitas saat menikmati makanan.

Hal ini menyebabkan orang akan terus makan untuk mengejar rasa puas dari mengonsumsi makanan.

Namun yang berpengaruh dalam tingkah laku makan seseorang bukan hanya dopamin. Menurut Jeffrey Zigman dari University of Texas Southwestern Medical Center di Dallas, zat di otak yang bernama ghrelin ikut mengendalikan hasrat seseorang dalam makan.

Pengaruh dari zat kimiawi dalam otak ini sangat berpengaruh dalam perilaku mengonsumsi makanan.

Ketidakseimbangan hormon dalam diri seseorang, dapat menjadikan makanan selayaknya narkoba yang membuat ketagihan.

Pola makan yang berantakan bisa memicu metabolisme tubuh menjadi lebih lambat. Hal ini akan menyebabkan makanan yang masuk lambat diolah tubuh dan akhirnya menumpuk sehingga menyebabkan kegemukan.

Pemerhati gaya hidup sekaligus behaviour scientist Grace Judio mengatakan metabolisme tubuh yang lambat ibarat kendaraan yang sangat irit.

Sehingga jika diisi bensin terus menerus akan melebihi kapasitas.

Meskipun olahraga mati-matian, kalau makan apa saja, kebanyakan, jadinya malah ditabung, nambah deh beratnya

Sebaliknya, metabolisme tubuh yang cepat seperti kendaraan yang cepat menghabiskan bensin.

Isi bensin sebanyak apapun tetap saja kurang.

Sehingga mau diisi sebanyak apapun akan tetap kurang karena persediannya selalu habis.

Pola makan yoyo, sebentar banyak, sebentar sedikit, atau sekali makan langsung banyak kemudian keesokan makannya dikurangi karena merasa “berdosa,” akan membuat metabolisme tubuh menjadi lambat.

Hal ini disebabkan tubuh tidak siap menerima asupan yang takarannya tidak menentu.

Akhirnya metabolisme akan melambat karena tubuh kebingungan kapan akan mendapatkan asupan makanan dengan jumlah yang besar.

Selain pola makan yang berantakan, konsumsi makanan yang salah juga bisa menyebabkan kegemukan.

Sedikit makan, tapi berat badan cepat naik, ada hubungan dengan kandungan gizi dalam makanan yang dikonsumsi.

Kalau pagi makannya oatmeal, pakai empat sendok makan yoghurt Naik berat badan tidak akan semudah itu untuk orang normal.

Namun, pada orang dengan kondisi khusus, mudah gemuk atau sulit gemuk juga dipengaruhi oleh kemampuan tubuh.

Orang yang tidak bisa memetabolisme lemak, dan karbohidrat pasti akan lebih cepat gemuk karena lemak dan gula dari karbohidrat akan tersimpan di dalam tubuh.

Sarapan pun, jika tidak terbiasa, tidak diharuskan.

Meskipun manfaat sarapan baik untuk kesehatan. Sebab, kondisi masing-masing orang berbeda-beda.

Melalaikan sarapan kalau tidak lapar, tidak masalah. Pagi sarapan itu benar, tapi tidak berlaku pada semua orang

Tubuh sudah punya alarm. Tinggal dengarkan saja alarm dari tubuh.