Jawaban dari Pilihan Diet Terbaik

Penulis: Darmansyah

Rabu, 13 April 2016 | 09:33 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda telah mengunsumsi makanan yang tepat”

Kalau jawabannya sudah, menurut sebuah studi yang ditulis laman situs media terkenal “independent,” Rabu, 13 April 2016,  berarti Anda sudah menemukan langkan  salah satu langkah yang dapat membantu untuk menghindari diabetes Tipe 2.

Independent dalam tulisan terbarunya itu memberikan pilihan terhadap jenis diet yang diambil dari beberapa negara berikut, yang  disebut menjadi pilihan tepat untuk mencegah penyakit kronis seperti diabetes.

Pertama “independent menganjurkan untuk mengadopsi fiet “mediterania”

Diet ini mengutamakan konsumsi buah segar, sayuran, sereal gandum, kacang-kacangan, segelas anggur, ikan, susu, dan minyak zaitun sebagai sumber lemak

Mediterania dikenal sebagai salah satu diet paling sehat di dunia.

Meski kombinasinya tampak ‘aneh’, banyak penelitian yang telah menyoroti manfaat dari makanan tersebut dan secara keseluruhan terkait pada pengurangan kondisi kronis seperti penyakit jantung, stroke, diabetes Tipe 2 dan demensia.

Sebuah penelitian baru menemukan bahwa mengonsumsi makanan yang cenderung seperti jenis buah berry dan strawberry, dapat mencegah Alzheimer.

Juru bicara British Dietetic Assosiation, Anna Daniels, mengatakan pada Independent, “diet mediterania adalah salah satu diet yang telah dibuktikan baik untuk kesehatan jantung dan panjang umur.”

Dia pun menambahkan bahwa ekstrak minyak zaitun alami yang kaya asam lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda, dikenal mampu meningkatkan kolesterol baik yang melindungi jantung.

Selain itu bisa juga dijalankan diet cara Jepang.

Penduduk Jepang dinilai memiliki harapan hidup tertinggi di dunia.

Baru-baru ini, sebuah studi menunjukkan untuk diet ketat pada jenis karbohidrat tertentu, sayuran, buah-buahan, serta ikan dan daging.

Pada sebelas tahun lalu,  pemerintah Jepang telah mengeluarkan sebuah panduan makanan yang direkomendasikan untuk mendorong penduduknya diet makanan rendah lemak jenuh, makanan olahan, dan yang tinggi karbohidrat seperti yang diperoleh dari beras dan sayuran.

Para peneliti menemukan bahwa penduduk yang benar-benar mengikuti panduan tersebut, memiliki angka kematian lima belas persen lebih rendah, dan mengurangi kemungkinan kondisi tekanan darah yang mengalir ke otak.

“Bagi orang yang percaya bahwa nasi putih adalah makanan yang buruk, orang Jepang telah membuktikan hal itu tidak benar,” ujar Daniels.

Dia juga telah menyoroti bahwa teh dan air rutin dikonsumsi di tempat minuman ‘olahan’ di Jepang.

Bisa juga dipakai diet nordik yang mengutamakan roti gandum, minyak ikan, buah-buahan lokal, sayuran, susu fermentasi, dan keju, telah menjadi makanan sehari-hari di negara-negara Nordik termasuk Swedia, Denmark, Norwegia, Finlandia dan Islandia.

Sebuah penelitian terbaru di The American Journal of Clinical Nutrition, menunjukkan bahwa pola makan seperti itu sebanding dengan manfaat seperti diet Mediterania, dan juga mampu mengurangi peradangan, terkait dengan kondisi kronis peningkatan resiko kanker usus besar.

“Kaya ikan dan sayuran umbi-umbian, dan sayuran berwarna cerah kaya akan beta-karoten dan antioksidan,” kata Daniels.

“Diet Nordic tinggi akan serat, rendah gula, dan mengandung banyak buah-buahan dan sayuran. Makanan yang jarang dikonsumsi oleh penduduk Nordic ialah seperti hidangan daging dan produk susu olahan,” ujarnya.

Masih ada lagi diet dari masyarakat Afrika Barat

Baru-baru ini sebuah studi menyatakan bahwa populasi di Mali, Chad, Senegal, dan Sierra Leone bahkan Jepang telah memilih gaya hidup makan makanan sehat.

Para peneliti di University of Cambridge, menilai konsumsi makanan sehat ini termasuk buah, sayuran, biji-bijian, ikan, dan makanan tinggi serat dan omega 3. Mereka juga menemukan bahwa diet di Afrika Barat berada pada peringkat tertinggi.

Makanan di Afrika Barat sangat bervariasi pada 16 negaranya. Masakannya berupa beras jollof, kacang rebus, ikan kering dan asap, dan ubi jalar.

“Diet ini kaya akan sereal, daging tanpa lemak, sayuran, dan makanan olahan lebih sedikit dibanding negara-negara Barat,” kata Daniels.

“Umumnya makanan rendah kalori dapat mengurangi tingkat obesitas dan diabetes.”

“Banyak dari penduduk AS dan Inggris yang mendapat manfaat dari mengurangi asupan kalori, dengan sedikit mengonsumsi makanan olahan dan meningkatkan konsumsi biji-bijian, kacang-kacangan, serta sereal,’ ujarnya.

Bahkan ada diet ala  Prancis, yang memiliki gagasan berlainan  yang membuat para ilmuwan semakin bingung.

Mereka mempertanyakan bagaimana sebuah bangsa dapat memiliki tingkat rendah terhadap penyakit jantung dan obesitas, dengan mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh seperti keju.

Sebuah studi pun menunjukkan bahwa kuantitas makanan yang dimakan menjadi kunci hal itu. Ketika penduduk Perancis tampak ‘mengejek’ dengan makan croissant, keju, dan daging, sebenarnya mereka hanya memakannya dalam porsi kecil.

“Diet Prancis mengandung keju, roti, dan anggur. Namun porsi mereka jauh lebih kecil daripada Inggris dan Amerika, serta secara keseluruhan kalori yang dikonsumsi lebih rendah,” ungkap Daniels.

Jika ditanya apakah diet ini harus mengkonsumsi banyak buah sayuran segar, sereal gandum, kacang-kacangan?

Daniels pun menyarankan, yang terpenting adalah bagaimana memilih lemak yang tepat, seperti minyak zaitun alami, dan lemak tak jenuh tunggal dan tak jenuh ganda, memakan ikan, dan daging.

Untuk minuman, dapat memilih air atau teh, dan anggur dengan beberapa makanan.

“Menghindari makanan olahan dan sebisa mungkin memasak dari awal, sehingga seperti menikmati coklat hitam,” katanya.

Ada frasa dari abad kesembilan belas di Eropa yang mengatakan “Kamu adalah apa yang kamu makan.

” Nah, terkait dengan perilaku diet vegetarian, ternyata perilaku makan makanan berbahan tumbuhan saja itu berpengaruh kurang baik lho pada tubuh pelakunya.

Peneliti dari Universitas Cornell menemukan bahwa mereka yang vegetarian ternyata akan mengalami mutasi gen.

Mutasi gen ini menyebabkan mereka lebih rentan terhadap peradangan, risiko terkena penyakit jantung makin meningkat, dan risiko kanker usus besar, akibat dari penyimpangan pola konsumsi.

Penelitian ini dipimpin oleh Tom Brenna, Kumar Kothapalli, dan Alon Keinan dan diterbitkan dalam jurnal Molecular Biology and Evolution.

Penelitian dilakukan berdasarkan mutasi yang terjadi pada masyarakat Pane di India yang memiliki pola konsumsi vegetarian dan masyarakat Kansas, Amerika Serikat, yang rutin mengkonsumsi daging.

Peneliti menggunakan data referensi dari seribuan Genom Project yang memberikan bukti evolusi bahwa diet vegetarian yang diturunkan selama beberapa generasi di India didorong faktor diet yang lebih tinggi.

Secara turun temurun mereka terbiasa dengan makanan berbahan tumbuhan dan sulit untuk kembali mengkonsumsi makanan hewani.

Dari penelitian tersebut ditemukan mutasi gen yang menghapus beberapa urutan DNA yang berfungsi mengikat jaringan lemak.

Hilangnya DNA tersebut membuat peneliti yakin para pelaku diet dapat dengan mudah rentan terhadap radang.

Diet yang tinggi dan pola konsumsi lemak yang mengandalkan minyak sayur atau minyak bunga matahari dapat mengubah asam lemak menjadi asam arakidonat yang berbahaya.

Komentar