Jangan Panik dengan Kolesterol Tinggi

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 24 Mei 2014 | 19:37 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda melakukan pemeriksaan laboratorium. Kadar kolesterol Anda tinggi? Jangan cepat cemas, atau pun panik. Tenang!

Memang factor kolesterol tinggi bisa memicu risiko penyakit stroke. Dan itu tak jauh berbeda dengan faktor risiko penyakit jantung.

Kadar kolesterol yang buruk, yakni kadar kolesterol jahat atau terkenal dengan sebutan LDL yang tinggi dan rendahnya kadar kolesterol baik atau disebut HDL bisa meningkatkan risiko penyempitan atau penyumbatan arteri, termasuk arteri dari jantung menuju otak.

Kendati demikian, kolesterol tinggi yang hanya berlangsung sementara tidak perlu terlalu dicemaskan.

Kalau kadar kolesterol tingginya hanya sesaat, misalnya pola makan sedang buruk, tidak apa-apa. Yang bahaya itu kalau kadarnya terus-menerus tinggi”.

Oleh karena itu pemeriksaan kadar kolesterol secara rutin wajib dilakukan. Jika kadar kolesterol tinggi, dalam jangka panjang akan menimbulkan endapan plak pada pembuluh darah.

Plak dapat mengurangi atau menghambat aliran darah di arteri atau juga terpecah dan terbawa menuju otak sehingga terjadi stroke.

Orang yang memiliki kadar kolesterol tinggi disarankan untuk melakukan pemeriksaan kondisi pembuluh darah.

Bisa dilakukan semacam USG karotis di daerah leher untuk mendeteksi plak dan mengetahui ketebalannya. Makin tebal tentu risikonya makin tinggi.

Selain pemeriksaan USG bisa juga dilakukan pemeriksaan aliran darah ke otak menggunakan metode khusus. Kalau alirannya rendah maka bisa menandakan adanya penyumbatan.

Dokter, biasanya, akan melakukan tindakan pembedahan untuk mencegah terjadinya stroke. Pembedahan ini bertujuan untuk membersihkan plak yang menumpuk. Arteri yang dibersihkan adalah pada bagian leher.

Arteri di bagian ini termasuk pembuluh darah besar sehingga lebih efektif.

Stroke adalah penyakit mendadak yang menyerang otak. Kondisi ini bisa mematikan dan menimbulkan kecacatan. Namun, dengan penanganan yang cepat dan tepat, dampak kerusakan yang lebih besar pada otak bisa dihindari.

Stroke terjadi akibat pasokan darah ke otak mengalami gangguan. Bila aliran darah ke otak terhambat, sel-sel saraf tidak memperoleh oksigen dan zat gizi. Akibatnya, fungsi sel otak akan mengalami kerusakan permanen.

Semakin lama stroke dibiarkan tanpa pengobatan, semakin banyak kerusakan pada otak. Otak akan rusak dalam waktu 5 menit setelah terjadi stroke. Karena itu, makin lama pasien dibawa ke rumah sakit, makin buruk akibatnya.

Karena itu, sangat penting untuk mengenali gejala stroke. Untuk memudahkannya, kita bisa mengingat tiga hal ketika serangan stroke terjadi, yakni melalui senyum, bicara, dan tangan.

Mintalah orang tersebut untuk tersenyum. Bila senyumnya terasa agak “aneh” dan biasanya wajahnya terutama bibir agar miring, itu boleh dicurigai sebagai gejala stroke.

Mintalah orang tersebut untuk berbicara dan mengucapkan sebuah kalimat sederhana. Kalau ia kesulitan dalam mengucapkan kalimat atau terlihat pelo, itu juga bisa dicurigai sebagai gejala stroke.

Mintalah orang tersebut untuk mengangkat kedua tangannya. Bila tangan tak bisa terangkat secara simetris dan bersamaan, itu pun bisa jadi salah satu gejala stroke.

Gejala stroke juga sering kali diawali dengan rasa pusing hebat, hilangnya keseimbangan, kesulitan berjalan, gangguan menelan, dan juga hilangnya koordinasi tangan dan kaki secara mendadak.

Jika mendapati gejala-gejala tersebut, segera minta bantuan orang untuk membawa pasien ke rumah sakit. Hanya dokter di rumah sakit yang bisa menangani stroke..

Stroke bisa terjadi kapan saja, di mana saja. Mereka yang berusia di atas 50 tahun, atau mereka yang sudah lama menderita diabetes atau hipertensi, lebih berisiko terkena stroke..

Komentar