Jangan Jadikan Lemak Musuh Abadi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 11 Februari 2016 | 15:26 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda termasuk orang yang memusuhi lemak?

Mungkin iya dan mungkin juga tidak.

Tapi sebuah studi terbaru seperti ditulis di laman situs “heathy live,” mengingatkan setiap orang untuk jangan memusihi lemak untuk selamanya.

Lantas?

Tulis “healthy live,” alam telah memberi kita banyak sumber lemak dan harus dimanfaatkan dengan benar.

Menurut situs kesehatan itu lemak terdiri dari dua macam Ada lemak yang tidak baik dan ada lemak yang baik untuk dikonsumsi.

Lemak yang baik, kita namakan lemak tak jenuh.

Lemak tak jenuh terbagi dua, lemak tak jenuh tunggal dan lemak tak jenuh ganda.

Salah satu jenis lemak tak jenuh ganda adalah asam lemak Omega-3.

Omega 3 dapat kita temukan di ikan laut perairan dalam seperti sarden dan salmon, kenari, biji rami, kacang kedelai, kanola, dan kuning telur.

Manfaat asam lemak Omega-3 yang sangat terkenal adalah membantu pembentukan otak janin.

Selain itu, lemak baik ini juga berguna untuk memerangi rasa sakit

Penelitian oleh University of Pittsburgh Medical Center menemukan bahwa pasien sakit leher dan punggung kronis, tidak lagi memerlukan obat anti-inflamasi setelah mengonsunsi minyak ikan selama dua hingga tiga puluh hari.

Asam lemak Omega-3 telah membuktikan keampuhan perannya sebagai senyawa anti-inflamasi atau antiradang.
Lemak juga bisa menjaga berat badan ideal

Suasana hati yang berubah-ubah dan sering sedih atau depresi, sering membuat orang mencari makanan manis atau mencari pelampiasan dengan makan berlebih.

Omega-3 dapat mengatasi hal ini dengan cara menstabilkan suasana hati Anda, kata Douglas Bilbus, PhD, peneliti dari University of Minnesotas Academic Health Center.

Bentuk lain dari Omega-3, kita kenal dengan nama DHA. DHA membentuk sekitar 25 persen lemak otak manusia dan mengatur produksi hormon serotonin.

Hormon ini adalah hormon yang bisa menimbulkan rasa gembira dan bersemangat di dalam diri kita. Orang yang sering depresi mungkin saja kekurangan asupan DHA.

Omega-3 juga mampu memerangi inflamasi yang dipicu oleh asma.

Studi dari Indiana University menyebutkan, orang yang mengonsumsi suplemen minyak ikan mampu lebih lama berolahraga dibanding orang yang mengonsumsi placebo atau makan menu harian yang biasa.

Ini karena orang yang mengonsumsi Omega-3 bisa bernapas dengan lebih mudah dibanding yang tidak rutin mengasup Omega-3.

Omega-3 telah terbukti mampu menurunkan tekanan darah dan mengurangi penyumbatan pembuluh darah.

“diabetes meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah. Omega-3 membantu menurunkan kadar gula darah, yang terbiasa tinggi kadarnya pada penderita diabetes,” jelas Bilbus.

Penelitian dari Harvard Medical School menemukan, jenis Omega-3 yang membantu menurunkan risiko penyakit jantung, namanya ALA.

Selain di ikan, ALA banyak ditemukan di bayam, kenari dan alpukat.

Kini banyak orang yang mulai bersahabat dengan lemak, setelah sebelumnya menganggapnya sebagai nutrisi jahat.

Minyak kelapa mulai memenuhi rak-rak di pertokoan dan konsumsi daging saat diet pun meningkat.

Namun, yang masih menjadi pertanyaan banyak orang, benarkah lemak pada mentega maupun daging sapi sehat?
Agar tak ada salah persepsi lagi mengenai lemak, berikut mitos seputar lemak yang perlu disingkirkan.

Misalnya, anggapan lemak mampu membuat Anda kenyang lebih cepat, sehingga makan lebih sedikit.

“Memang benar bahwa lemak memiliki lebih banyak kalori per gram dibandingkan karbohidrat dan protein, tetapi memakan lemak merupakan bagian dari hidup sehat juga.”

” Lemak dalam konsumsi diet seimbang tidak akan membuat Anda gemuk,” kata Michelle Babb, MS, RD, penulis Anti-Inflammatory Eating Made Easy.

Lemak lebih lambat dicerna ketimbang karbohidrat dan merangsang pelepasan hormon kenyang, yang dapat menjaga Anda dari makan berlebihan.

Terlebih lagi, lemak memainkan peran positif dalam tubuh, mulai dari produksi hormon untuk fungsi otak yang optimal serta membantu penyerapan nutrisi.

Selama beberapa dekade kita telah “didoktrin” bahwa lemak jenuh dalam mentega, keju, dan daging merah dapat menyumbat arteri dan menyebabkan serangan jantung.

Namun, sebuah studi dalam jurnal Annals of Internal Medicine tak menemukan adanya hubungan langsung antara memakan lemak jenuh dengan meningkatnya risiko serangan jantung.

Satu studi bahkan menemukan, bahwa tingkat yang lebih tinggi dari lemak jenuh dikaitkan dengan rendahnya risiko penyakit jantung.

Namun bukan berarti lemak jenuh adalah makanan yang sehat, hanya saja bukan sebuah dosa. Intinya, makan bervariasi adalah kunci kesehatan.

Sebuah penelitian terbaru di American Journal of Clinical Nutrition menemukan bahwa asupan mentega yang cukup dapat menjadi bagian penting dari diet yang sehat.

Tapi, ini bukan berarti bebas mengolesi kudapan harian Anda dengan mentega, mengonsumsi banyak roti, dan sebagai saus pada sayuran agar terasa nikmat. “Jangan berlebihan,” Babb memperingatkan.

Komentar