Jangan Pernah “Haramkan” Karbohidrat

Penulis: Darmansyah

Senin, 16 Mei 2016 | 09:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “womenhealth,” Senin, 16 Mei 2016, mengingatkan bahwa karbohidrat tak harus di”haram”kan agar program diet menurunkan bisa berhasil

Sekelompok ilmuwan dan produsen makanan menyatakan bahwa karbohidrat dapat benar-benar membantu tubuh membakar lemak dengan lebih baik.

Yang mereka maksud adalah jenis karbohidrat mereka berarti resisten pati atau resistent starch atau dikenal dengan RS.

Meskipun kebanyakan orang belum mendengar tentang RS, para ahli mengatakan bahwa makanan kaya RS, seperti pasta dan kentang, dapat membantu kita menurunkan berat badan-jika kita memakannya denga cara yang tepat.

RS seperti pati tapi bertindak seperti serat, melewati usus kecil ke usus besar tanpa dicerna.

Zat pati atau tepung yang normal memiliki kalori karena kita mencerna dan menggunakan glukosa mereka untuk energi.

Kebanyakan makanan bertepung, seperti roti putih dan pasta biasa, memiliki kandungan pati yang mudah dicerna.

Berbeda dengan RS, karena tubuh kita tidak bisa mencernanya maka energi yang kita dapat darinya juga tidak langsung, sehingga nilai kalorinya banyak berkurang.

RS juga memicu hormon yang membuat kita merasa lebih kenyang, membantu kita makan lebih sedikit sepanjang hari.

Ada ratusan studi tentang RS, dan peneliti telah menemukan bahwa ada empat jenis RS yang utama.

Dua yang pertama ditemukan secara alami dalam makanan.

RS 1 ada di dalam tumbuhan berbulir atau berbutir seperti gandum, serta kacang-kacangan, seperti kacang polong, lentil, dan kacang hitam.

Sementara RS 2 ada di sayuran dan buah-buahan tertentu, termasuk kentang dan pisang.

Tetapi ketika Anda memasak makanan yang mengandung RS 2, pati mereka berubah dan kehilangan daya tahannya. Sebagai contoh, kentang mentah kaya RS 2 tapi ketika dipanaskan maka RS 2 itu akan hilang dan kentang menjadi sumber karbo biasa yang sari tepyngnya akan diubah menjadi energi.

Tapi dengan membiarkan kentang yang panas menjadi dingin, kentang akan menjadi RS2 lagi.

Proses pendinginan makanan panas sumber karbohidrat seperti kentang, pasta, atau nasi akan menghasilkan RS 3, yang bertindak seperti RS 1 dan RS 2 untuk menghasilkan nilai kalori yang lebih rendah.

Sementara itu, RS 4 dibuat ketika produsen makanan mengambil pati normal seperti tepung terigu dan mengolahnya menjadi lebih resisten dan rendah kalori.

Efek domino dimulai saat RS melelehkan lemak, kata Janine Higgins, Ph.D., seorang peneliti dan profesor pediatri di University of Colorado.

Kemudian, RS mendorong tubuh untuk membakar lemak, bukan karbohidrat, untuk bahan bakar, sambik menyusutkan ukuran sel-sel lemak.

Satu studi menemukan bahwa orang yang mengonsumsi RS setiap hari, dapat membakar lemak dua puluh persen lebih efektif dibanding yang mengonsumsi karbohidrat biasa.

Penelitian lain menemukan bahwa makan RS 4 rutin setiap hari bisa mengurangi lemak perut hingga empat puluh lima persen.

Bagaimana tepatnya cara RS membakar lemak, masih misteri.

Namun, para peneliti percaya ada hubungannya dengan kemampuan pati untuk menurunkan kadar insulin yang memperlambat pembakaran lemak hingga sebanyak lima puluh lima persen.

Anda mungkin pernah mendengar bahwa karbohidrat yang normal, seperti roti putih, dengan kandungan pati manisnya akan menyebabkan lonjakan insulin.

Namun, karena karbohidrat RS tidak bisa dicerna dan dipecah menjadi gula, respon lonjakan insulin pun bisa dihambat.

Meskipun nampaknya potensi sehat dan langsing RS sangat cerah, para ilmuwan tetap menyatakan bahwa hal tersebut memerlukan penelitian lebih lanjut.

Dan itu benar. Kebanyakan penelitian terkait RS yang melibatkan manusia hanya berlangsung beberapa minggu, bukan beberapa tahun seperti yang sebagian besar peneliti sukai.

Dan sambil menunggu kepastian penelitian lanjutan, mungkin kita bisa mulai tidak terlalu anti karbohidrat,terutama yang jenis RS dan mengubah cara kita memasak dan menyantapnya.

Biar bagaimanapun kita memerlukan karbohidrat sebagai sumber energi, dalam takaran yang tepat.

diet rendah karbohidrat dipercaya banyak orang sebagai pola makan yang efektif untuk menurunkan berat badan sekaligus menjaga kesehatan. Benarkah pantang karbohidrat adalah tindakan tepat?

Berhenti mengonsumsi karbohidrat, mulai dari roti, mi, nasi, atau pasta, memiliki efek yang beragam pada tubuh.

Saat kita menurunkan asupan karbohidrat, hal pertama yang disadari adalah betapa cepatnya, bahkan luar biasanya, penurunan berat badan.

Namun, bukan lemak yang hilang, melainkan air.

“Saat karbohidrat disimpan di tubuh dalam bentuk glikogen, tiap gram karbohidrat itu, tiga atau empat kali beratnya, adalah air,” kata Marie Spano, pakar diet.

Karbohidrat adalah sumber utama energi otak.

“Saat kita menghilangkan karbohidrat, otak akan paling terdampak, terutama karena glikogen yang disimpan sedikit. Begitu glikogen hilang, tubuh akan memecah lemak dan memakai fragmen karbon yang disebut keton,” kata Spano.

Dampak dari hal tersebut adalah bau mulut, rasa lelah, mulut kering, lemas, pusing, dan mual, mirip seperti saat flu.

Terkadang, tubuh akan beradaptasi dengan memakai keton sehingga efeknya tak terlalu parah. Namun, tetap saja keton bukanlah sumber energi yang dibutuhkan tubuh.

Karbohidrat yang disuling akan membuat gula darah cepat naik, tetapi juga turun dengan cepat pula.

Kondisi seperti rollercoaster tersebut akan mengaktifkan pusat kecanduan di otak sehingga kita jadi sering ingin ngemil.

Mengganti karbohidrat yang disuling dengan makanan kaya serat, seperti karbohidrat utuh, bisa menjaga kadar gula darah tetap stabil sehingga rasa ingin ngemil reda.

Jenis karbohidrat yang kita hindari berpengaruh besar dalam membuat perbedaan. Karbohidrat yang disuling akan meningkatkan kadar asam lemak dan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Karbohidrat yang dianjurkan adalah karbohidrat akan memperbaiki kadar Kolesterol dan menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, atau kegemukan.

Jadi, pilihan jenis karbohidrat yang dihindari sudah jelas.

Bila berpantang terhadap semua jenis karbohidrat, maka level energi kita akan mudah turun.

Karbohidrat kompleks  merupakan sumber zat besi, magnesium, dan vitamin B, yang sangat penting sebagai sumber energi.

Dengan tidak adanya karbohidrat, performa kita dalam berolahraga juga tentu berkurang.

Komentar