Jalan Hipertensi Sebagai “Pembunuh”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 16 Februari 2016 | 09:11 WIB

Dibaca: 0 kali

Hipertensi?

Ya. Sekali lagi dan sekali lagi dan….. seterusnya, Anda harus berhati-hati dengan tekanan darah tinggi ini.

Lantas, kenapa?

Hipertensi kini sudah menemukan jalan lurusnya sebagai “pembunuh” nomor satu bersamaan dengan rilis kematian yang diakibatkannya.

Secara global, hipertensi kini menempati angka tiga puluh persen penyebab kematian di dunia.

Para pakar hipertensi menuding faktor risiko kegemukan, tingginya kadar lemak dalam tubuh, merokok, penyakit gula darah perlu dihindari untuk menghambat datangnya hipertensi.

Hipertensi itu, menurut para ahli, akan langsung melabrak jantung.

Pada keadaan hipertensi, otot-otot jantung harus memompa darah dengan tenaga yang lebih kuat untuk melawan tekanan di dalam pembuluh aorta yang meningkat sehingga kebutuhan akan oksigen ke jaringan-jaringan tubuh dapat dipenuhi

Lama kelamaan otot jantung ini akan bertambah besar untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan oksigen.

Tekanan darah yang meningkat ini juga berpengaruh terhadap dinding pembuluh darah otot jantung atau pembuluh darah koroner, sehingga memicu terjadinya plak-plak pada dinding pembuluh darah tersebut yang dapat menyumbat aliran darah pembuluh darah koroner.

Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan baik pembesaran jantung maupun gangguan aliran pembuluh darah koroner, yang bila tidak ditangani akan menyebabkan risiko payah jantung/penyakit jantung koroner dan akhirnya kematian.

Dengan semakin bertambahnya faktor-faktor risiko penyakit jantung yang menyertai penderita hipertensi, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya kelainan jantung.

Data Reach Registry mencatat, sembilan puluh persen penderita hipertensi disertai oleh tiga atau lebih faktor risiko jantung.

Dengan demikian, pasien hipertensi harus mewaspadai faktor risiko yang dimilikinya.

Anda bisa menghambat datangnya hipertensi dengan cara sederhana.

Sebut saja olahraga. Lakukan olahraga secara teratur. Olahraga secara teratur bisa menurunkan tekanan darah tinggi.

Jika Anda menderita tekanan darah tinggi, pilihlah olahraga yang ringan seperti berjalan kaki, bersepeda, lari santai, dan berenang.

Lakukan selama tiga puluh hingga empat puluh lima menit sehari sebanyak tiga kali seminggu.

Yang utama lainnya jaga pola makan. Anda harus tahu apa dampak setiap makanan itu terhadap tubuh.

Dengan memilih makanan yang baik. Kurangi konsumsi garam dalam makanan Anda. Jika Anda sudah menderita tekanan darah tinggi sebaiknya hindari makanan yang mengandung garam.

Konsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi.

Selanjutnya jangan boros dengan gula dan sodium Selain beberapa cara mengontrol tekanan darah tinggi diatas, pengurangan kecil pada sodium dalam diet juga dapat menurunkan tekanan darah

Bila Anda tidak merasa seperti Anda dapat secara drastis mengurangi kandungan garam dalam diet, maka Anda dapat menguranginya secara bertahap.

Jangan abaikan rutinitas mengontrol berat badan, tekanan darah dan gula dalam darah

Kendalikan kadar kolesterol dan diabetes. Hindari obat yang bisa meningkatkan tekanan darah.

Konsultasikan dan mintalah ke dokter Anda agar memberikan obat yang tidak meningkatkan tekanan darah.

Merokok? Hentikan karena ia melukai dinding pembuluh darah dan mempercepat proses pengerasan pembuluh darah.

Berhenti merokok merupakan salah satu upaya dalam mengubah gaya hidup sehat demi pencegahan hipertensi.

Dengan melaksanakan gaya hidup sehat maka dapat mengurangi tekanan darah tinggi, mencegah meningkatnya tekanan darah tinggi, meningkatkan efektivitas obat tekanan darah tinggi.

Bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi sering direkomendasikan memonitor tekanan darah di rumah.

Tapi, kini diketahui waktu terbaik untuk mengecek tekanan darah lebih adalah pada pagi hari untuk memprediksi risiko stroke dibanding malam hari.

Ketika mengukur tekanan darah tinggi di pagi hari hal tersebut terkait peningkatan risiko stroke.

Sementara pada malam hari, meskipun tekanan darah tinggi sepertinya tidak berhubungan dengan risiko stroke.

Orang-orang Asia memang memiliki kecenderungan lonjakan tekanan darah di pagi hari.

Oleh karena itu profesor kardiovaskular dari Jichi Medical University, Jepang, Satoshi Hoshide mengungkap pengukuran tekanan darah di pagi hari penting.

Menurut Hoshide pengukuran tekanan darah pada malam hari kurang bisa memprediksi risiko stroke karena sudah dipengaruhi berbagai faktor. Misalnya mandi air hangat dan makanan yang dikonsumsi.

Sementara, tekanan darah pada pagi hari terkait dengan faktor fisiologis seperti aktivitas sistem saraf simpatik, yang terjadi saat bangun di pagi hari seperti dikutip laman Live Science

Lalu, meski pengukuran tekanan darah pada pagi hari bisa memprediksi stroke, mengonsumsi obat tekanan darah di waktu yang sama belum terbukti efektif dibandingkan malam hari seperti dituturkan Hoshide.

Perlu diingat bahwa studi ini hanya melibatkan populasi orang Jepang sehingga, belum jelas apakah sama hasilnya dengan populasi lain.

Komentar