Ini Dia Yang Menghampiri Anda di Usia Tua

Penulis: Darmansyah

Selasa, 9 Agustus 2016 | 09:28 WIB

Dibaca: 1 kali

Anda memasuki usia tua?

Kalau jawabannya iya, maka bersiaplah ketika  kulit jadi keriput atau rambut memutih.

Dan pada banyak orang usia lanjut, berat badannya juga menyusut.

Anda tahu kenapa  bisa begitu?

Para peneliti dari Universitas Plymouth menemukan, orang usia lanjut ternyata memiliki lebih banyak hormon yang membuat rasa kenyang.

Hormon itu disebut peptida YY. Menurut peneliti, hal inilah yang membuat para orang tua tidak memiliki rasa lapar berlebihan, sehingga banyak kehilangan berat badan.

“Orang-orang di atas usia delapan puluh tahun memiliki peptida YY yang lebih tinggi,” kata peneliti seperti dikutip dari Dailymail.co.uk.

Hormon tersebut akan mengirim sinyal kepada manusia ketika lambung sudah terisi penuh dan akhirnya membuat seseorang berhenti makan.

Penurunan berat badan pada orang usia lanjut sering disebut anoreksia penuaan. Masalah ini kerap ditemui pada orang tua di usia delapan puluhan.

“Penuaan sering membuat seseorang kehilangan nafsu makan yang disebut anoreksia penuaan. Ini dapat mengakibatkan kurang gizi,” ujar peneliti Mary Hickson.

Adapun penelitian ini dilakukan dengan mengukur kadar hormon enam wanita sehat berusia di atas delapan puluh tahun. Pengukuran dilakukan setelah mereka sarapan.

Tak hanya peptida YY, peneliti juga mengukur ghrelin, yaitu hormon yang membangkitkan rasa lapar. Kada kedua hormon tersebut diukur secara teratur selama tiga jam.

Peneliti juga membandingkan hasilnya dengan tingkat hormon orang-orang sehat berusia di bawah delapan puluh tahun dan dibagi menjadi tiga golongan usia

Hasilnya, kadar hormon ghrelin orang usia lanjut dengan yang lebih muda memiliki kesamaan. Namun, hormon peptida YY pada orang usia lanjut jauh lebih tinggi dibanding mereka di usia muda.

Para ilmuwan pun ingin melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui, apakah pada usia muda yang bertubuh ramping juga memiliki tingkat hormon peptida YY yang lebih tinggi.

Otak orang yang sudah lanjut usia, anak autisme, dan penderita skizofrenia memiliki satu kesamaan, yaitu memiliki level vitamin B12 yang rendah.

Faktanya, kadar vitamin B12 dalam darah tak selalu mencerminkan kadar vitamin ini di otak. Kadar di otak juga akan turun seiring usia dibandingkan kadar di darah.

Dalam penelitian terungkap, kadar vitamin B12 di otak lansia sekitar sepuluh  kali lebih rendah dibanding anak-anak.

Sementara itu kadarnya pada anak autisme berusia kurang dari sepuluh tahun ternya sama seperti pada orang berusia diakhir lima puluhan.

Pada orang skizofrenia di setengah umur, kadar vitamin B12 di otak mereka sama dengan yang ditemukan pada orang berusia tua.

Kondisi tersebut menunjukkan, beberapa jenis penyakit yang berkaitan dengan saraf, seperti demensia, autisme, atau skizofrenia, berkaitan dengan kekurangan vitamin B12 dari darah ke otak.

Hasil penelitian ini dipublikasikan bulan lalu dalam jurnal PLOS ONE. Kajian ini menundukung teori yang menyebutkan otak manusia menggunakan vitamin B12 secara ketat untuk mengontrol ekspresi gen dan mendukung perkembangan saraf-saraf pada tahapan hidup tertentu.  Misalnya saja sejak perkembangan otak di kandungan, usia balita, hingga penyempurnaan jaringan saraf di usia remaja, lalu usia pertengahan, dan lanjut usia.

Vitamin B12, juga disebut cobalamin, berperan penting dalam pembentukan darah dan fungsi normal sistem saraf.

Vitamin tersebut bisa kita dapatkan dari makanan hewani, dan juga makanan nabati yang sudah diperkaya vitamin B12.

Anda tidak bisa membantah atau menjelaskan secara rasional mengapa itu terjadi. Itu tidak membantu. Itu hanya rasa frustrasi pasien.

“Entah bagaimana, mereka tahu ketika Anda berbicara merendahkan mereka, atau tidak menanggapinya dengan serius, atau memperlakukan mereka dengan cara yang tidak terhormat,” kata Lisa P. Gwyther, profesor di Departemen Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Duke University dan direktur Duke Aging Program Family Support Center.

Gejala utama penyakit kejiwaan Alzheimer termasuk halusinasi dan delusi, yang biasanya terjadi pada tahap demensia pertengahan, menurut Alzheimer’s Foundation of America. Sekitar 40 persen pasien demensia mengalami delusi, sementara halusinasi terjadi pada sekitar 25 persen kasus.

Sedangkan Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Si, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan, rasa kesepian bisa memicu gangguan mental lainnya, tidak hanya utk lansia tapi juga yg muda usia.

Itulah sebabnya, lingkaran sosial yang dekat dan akrab itu dibutuhkan siapa saja. Pada lansia kemungkinannya yang lebih besar bukan delusi, tapi perasaan sedih atau murung.

Senada dengan Gwyther, Diantini juga mengatakan bahwa perasaan dan pikiran yang muncul pada lansia dengan gangguan mental ini memang subjektif.

Jika Anda melihat lansia yang sering mengeluh kemudian jadi sakit-sakitan, maka kemungkinan rasa kesepian memberi kontribusi pada kondisinya itu.

Halusinasi, delusi dan paranoia bukan gejala pertambahan usia, namun merupakan gangguan mental.

Belum ada cara untuk mencegahnya, tapi bagaimana Anda merespon dapat membantu mencegah reaksi, seperti agresi, agitasi dan ledakan kekerasan dari penderita.

Delusi adalah sebuah keyakinan yang salah, tidak didukung oleh realitas, dan sering disebabkan oleh memori yang rusak.

Misalnya, sering menyalahkan orang lain untuk pencurian dan perselingkuhan yang tidak dilakukan orang tersebut.

Halusinasi adalah pengalaman sensorik – visual, pendengaran yang sering terjadi ketika penderitanya bangun. Persepsi yang mereka lihat, dengar atau rasa tidak dapat dikoreksi oleh seseorang dengan mengatakan bahwa itu tidak nyata.

Sedangkan, paranoia adalah pikiran yang terpusat pada kecurigaan akan sekitarnya.

Delusi pada pasien demensia biasanya bersifat ringan dan disebabkan oleh masalah memori. Individu mengisi lubang di memori yang rusak dengan delusi yang masuk akal bagi mereka.

Misal, mereka mengatakan, bahwa kunci tergantung di pintu padahal tidak. Ini karena mereka tidak ingat di mana mereka terakhir melihat objek tersebut, kata Gwyther .

Pahami bahwa lansia penderita delusi sebenarnya hidup di dunia yang tidak masuk akal dan mereka ketakutan. Jangan menuduh mereka atau menyesali keberadaannya.

Sebaliknya, yakinkan mereka, tanpa mengajukan pertanyaan yang membuat mereka bertambah ragu terhadap diri sendiri.

Jika mereka mencari suatu barang, katakan Anda akan membantu mereka menemukannya. Anda juga bisa menyimpan duplikat barang-barang yang biasa mereka hilangkan.

Komentar