Ini Dia Sisi Baik dan Buruk Kedelai

Penulis: Darmansyah

Senin, 28 November 2016 | 10:42 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda harus tahu bahwa mengunsumsi kedelai mempunyai dua sisi. Baik dan buruk.

Bukan sekadar mempengaruhi kesehatan tubuh, tetapi segala jenis produk kedelai mempengaruhi hormon testosteron dan esterogen.

Hormon testosteron yang dominan pada pria sangat dibutuhkan khususnya selama masa pubertas hingga dewasa sebagai pendukung terbentuknya produksi sperma.

Sayangnya, dalam sebuah penelitian yang dilakukan Hormone Health Network, pria yang terlalu banyak mengonsumsi kedelai dapat berdampak pada turunnya gairah seks dan energi.

Produk yang mengandung kedelai terutama tahu, edamame, serta makanan bertepung, dan jumlah alkohol yang berlebih secara langsung akan mengurangi hormon testosteron.

Untuk menghindari hal tersebut, para pria direkomendasikan mengonsumsi anggur, tuna, delima, dan telur.

Berbeda dengan pria, mengonsumsi kedelai bagi wanita justru akan meningkatkan hormon estrogennya.

Hormon estrogen yang berperan penting dalam mengatur siklus menstruasi ini harus betul-betul dipertahankan produksinya.

Breastcancer.org merekomendasikan kedelai, sayur, dan buah-buahan segar agar dikonsumsi dengan rutin oleh wanita agar produksi hormon estrogennya stabil.

Selain itu, menurut sebuah studi epidemiologi telah menemukan bahwa protein kedelai dapat menurunkan risiko kanker termasuk kanker payudara, kolon/usus besar, dan prostat.

Studi menunjukkan bahwa wanita yang memasukkan produk kedelai dalam asupan harian mereka cenderung lebih sedikit mengembangkan kanker payudara, dibandingkan dengan wanita lain.

Para peneliti di University of Southern California menemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi rata-rata satu cangkir  susu kedelai  memiliki risiko sekitar tiga puluh persen  lebih rendah mengembangkan kanker payudara

Akan tetapi, agar efektif, konsumsi kedelai harus dimulai sejak awal saat jaringan payudara dibentuk selama masa remaja.

Mengapa produk kedelai mengurangi risiko kanker?

Sebagian besar penelitian telah memusatkan perhatian pada phytoestrogen yang ditemukan dalam kedelai.

Beberapa peneliti telah memperkirakan bahwa senyawa ini entah bagaimana memblokir efek estrogen. Namun, hal itu tampaknya belum menjelaskan semuanya, karena efek-efek diet juga dapat menguntungkan orang dengan tipe kanker reseptor-estrogen-negatif.

Kekhawatiran lainnya termasuk apakah kedelai memiliki efek negatif pada kesehatan reproduksi. Akan tetapi, penelitian pada pria dan wanita telah menunjukkan bahwa kedelai tidak menghalangi reproduksi.

Selain itu, orang dewasa yang telah diberi susu formula kedelai bayi pada saat bayi ditemukan tidak memiliki perbedaan dalam kesehatan reproduksi mereka ketika dibandingkan dengan orang dewasa yang telah diberi susu formula sapi.12

Produk kedelai tidak memiliki efek buruk pada laki-laki dan dapat membantu mencegah kanker pada pria.

Produk kedelai dapat mengurangi risiko fibroid, kumpulan jaringan otot yang terbentuk dalam lapisan otot tipis yang terletak di bawah lapisan rahim.

Sebuah penelitian terhadap wanita Jepang menemukan bahwa semakin banyak wanita yang makan kedelai, semakin kecil kemungkinan mereka membutuhkan histerektomi, yang menunjukkan bahwa fibroid lebih sedikit dijumpai.

Dalam sebuah studi terhadap wanita di Washington State, kedelai tidak banyak membantu atau merugikan, karena wanta Amerika sangat sedikit sekali makan kedelai, dibandingkan rekannya – wanita Jepang.

Yang berpengaruh besar dalam penelitian ini adalah lignan, sejenis phytoestrogen yang ditemukan dalam biji rami dan biji-bijian utuh.

Para wanita yang mengkonsumsi jumlah tertinggi dari makanan ini memiliki risiko fibroid kurang dari separuh, dibandingkan dengan wanita yang pada umumnya melewatkan makanan ini.

Jadi, sekali lagi, phytoestrogen tampaknya menguntungkan, melawan efek dari estrogen alami wanita, meskipun dalam hal ini manfaat berasal dari makanan lain selain kedelai.

Produk kedelai biasanya tinggi protein. Beberapa produsen telah mengeksploitasi fakta ini, mengemas protein kedelai terisolasi menjadi shakes dan mengubahnya menjadi pengganti daging.

Namun, mungkin bijaksana untuk menghindari konsentrat tinggi protein dari sumber manapun, termasuk kedelai. Telah lama diketahui bahwa susu sapi meningkatkan jumlah hormon pertumbuhan seperti insulin dalam aliran darah, dan  senyawa ini dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih tinggi.

“Saya sudah kehilangan hasrat seksual. Penis saya tidak pernah bangun di pagi hari, menyusut dan tampak begitu kecil dibanding dulu. Bahkan saya mengalami perubahan emosi”, begitulah pengakuan seorang pria yang sering mengonsumsi susu kedelai.

James Price, seorang pensiunan perwira intelijen Angkatan Darat AS mulanya bingung dengan perubahan yang terjadi padanya padahal dia selalu menjalankan pola hidup sehat.

Price sangat senang mengonsumsi susu kedelaii karena percaya akan khasiatnya.

Tak dinyana, seperti dilansir dari MensHealth,  susu kedelai nilah yang memicu meningkatnya hormon estrogen dan adanya perubahan dalam tubuhnya.

Kedelai telah dikenal sebagai makanan sehat yang kaya protein, serat dan bebas lemak. Tapi kedelai yang mengandung isoflavon justru tak baik untuk pria karena memicu feminisme.

Manfaat terbesar dari susu kedelai adalah isoflavon. Ini adalah bahan kimia yang mirip dengan hormon estrogen. Isoflavon terhubung ke masalah kesehatan dan bertanggung jawab untuk mencegah banyak kanker, penyakit jantung, osteoporosis dan banyak penyakit lainnya.

Tapi bagi pria, banyak mengonsumsi produk kedelai dapat meningkatkan hormon estrogen atau dikenal dengan hormon seks wanita.

Kelebihan hormon estrogen pada pria secara nyata dapat menyebabkan pembesaran payudara, melambat pertumbuhan rambut jenggot dan menghilangnya rambut di tangan dan kaki. Yang paling buruk, kelebihan estrogen dapat menyebakan gangguan ereksi.

Selain isoflavon, kedelai juga mengandung genistein dan daidzein, yang keduanya juga bertindak mirip estrogen dan dikenal sebagai fitoestrogen (estrogen yang diproduksi tanaman).

Kedelai tidak peduli dengan karakteristik seks manusia. Dan menurut hasil penelitian yang telah dipublikasi pada beberapa jurnal kesehatan, fitoestrogen memiliki potensi untuk menimbulkan kekacauan hormon dalam tubuh manusia.

Dengan kandungan fitoestrogen, kedelai dapat menurunkan produksi testosteron pada pria dan meningkatkan produksi estradiol, yang cenderung berasosiasi dengan produksi hormon wanita.

Hasil penelitian juga menemukan bahwa pemberian susu kedelai pada bayi dapat menyebabkan penyusutan dari kelenjar timus yang signifikan. Kelenjar ini merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh.

Komentar