Ingin Menjauh dari Pikun? Ya…, Olahraga

Penulis: Darmansyah

Senin, 22 Februari 2016 | 08:39 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah studi panjang yang dilakukan Boston University School of Medicine, dan dirilis laman situs “neurology,” Senin, 22 Februari 2016, mengungkapkan bahwa kebugaran fisik berkembang sebagai faktor nyata yang berhubungan dengan kondisi otak di usia tua.

“Taraf kebugaran fisik yang lebih tinggi di usia menengah berasosiasi dengan volume otak lima tahun kemudian,” tulis “neurology.

Ditambahkan lagi, kondisi fisik yang lemah pada usia pertengahan bisa jadi berkaitan dengan ukuran otak yang lebih kecil.

Seorang peneliti mengatakan bahwa otak mengecil seiring dengan pertambahan usia yang juga meningkatkan risiko pikun atau demensia.

Namun, olahraga dapat mengurangi risiko tersebut.

Studi ini melibatkan lebih dari seribu lima ratus orang dengan durasi waktu lima belas tahun dan usia rata-rata mereka empat puluh tahun.

Mereka tidak memiliki demensia atau penyakit jantung.

Dan, dua puluh tahun kemudian, responden ini dites kembali.

Hasil MRI Scan menunjukkan mereka yang memiliki fisik lemah mengalami penyusutan otak.

Kebugaran fisik berkembang sebagai faktor nyata yang berhubungan dengan kondisi otak di usia tua.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kebugaran fisik menjadi hal yang penting untuk mencegah penuaan otak.

“Kami menemukan bahwa kondisi kebugaran fisik yang lemah di usia pertengahan berhubungan dengan penuaan otak dengan cepat dua dekade kemudian,” kata Nicole Spartano dari Boston University School of Medicine.

“Pesan ini mungkin penting terutama untuk orang dengan penyakit jantung atau yang memiliki risiko atas penyakit itu, yang kami temukan lebih kuat hubungannya antara kebugaran fisik dan penuaan otak.”

Para peneliti juga menemukan orang dengan tekanan darah dan detak jantung tinggi selama latihan lebih mungkin memiliki otak lebih kecil 20 tahun kemudian.

Spartano mengatakan orang dengan kebugaran fisik yang rendah biasanya memiliki respon tekanan darah dan detak jantung tinggi dibanding yang sering berolahraga.

“Dari penelitian lainnya, kami mengetahui program latihan olahraga yang bertujuan meningkatkan kebugaran dapat meningkatkan aliran darah ke otak dalam jangka pendek,” kata Spartano.

“Kesehatan dan pilihan gaya hidup memiliki konsekuensi bertahun-tahun kemudian,” lanjutnya.

Makanya studi itu meningatkan jika Anda ingin menjaga otak, masih ada waktu dan kesempatan menghindarinya, atau setidaknya menunda, datangnya demensia.

Dilansir Newser, demensia adalah kondisi fungsional otak yang mengalami kemunduran.

Dari data Framingham Heart Study yang melacak kesehatan ribuan orang di Kota Massachusetts sejak akhir tahun empat puluhan, peneliti Boston University School of Medicine mengungkap, “Sejak tiga puluh sembilan tahun lalu, ada penurunan peristiwa demensia sebesar dua puluh persen per dekade,” demikian dilaporkan NBC News.

“Kabar luar biasa,” ujar epidemiolog di National Institute on Aging kepada USA Today.

“Kita lihat risikonya menurun dari generasi ke generasi.”

Penurunan tersebut paling tajam dalam kasus demensia vaskular akibat gangguan pasokan darah ke otak, selain ada penurunan dalam kasus Alzheimer.

Menurut peneliti, demensia tak akan sebesar masalah kesehatan dalam dekade-dekade mendatang sebagaimana dipercaya sebelumnya, seperti dilaporkan New York Times.

Karena orang sekarang hidup lebih lama, angka kasus kesehatan diperkirakan naik. Dan meningkatnya angka kasus diabetes dan obesitas dapat membuat angka demensia naik lagi.

Namun demikian, ujar peneliti, mereka berharap studi ini akan menginspirasi orang untuk meningkatkan kesehatan jantung dan menjaga otak tetap sibuk berpikir.

“Orang bisa bilang, ‘Saya tak keberatan dapat serangan jantung. Itu cara baik untuk mati,’” ujar co-author penelitian, Sudha Seshadri.

“Namun penyakit jantung bukan hanya merusak jantung, tapi juga dapat menyebabkan demensia.”

“Saya tak pernah kenal orang yang menganggap demensia sebagai cara yang baik untuk mati.”

Komentar