Ingat, Ada Waktu Tak Tepat Minum Kopi

Penulis: Darmansyah

Kamis, 20 Oktober 2016 | 10:25 WIB

Dibaca: 1 kali

Siapa yang bisa membantah minum kopi tak  bermanfaat bagi kesehatan.

Tapi tahukah Anda ada waktu  yang salah ketika  minum kopi dan menyebabkan  berdampak buruk bagi kesehatan?

Waktu yang tidak tepat  itu  adalah saat kondisi perut kosong.

Sering kali seseorang yang terburu-buru di pagi hari hanya minum secangkir kopi sebelum bekerja, tanpa sarapan sebelumnya.

Siang hari, ketika sangat sibuk atau malas makan, waktu makan siang terkadang juga diisi dengan hanya minum secangkir kopi lagi.

Perlu diingat, minum kopi sebelum konsumsi makanan apa pun bisa berefek buruk bagi kesehatan.

Minum kopi saat perut kosong bisa meningkatkan keasaman di lambung.

Tingginya asam lambung akan menimbulkan rasa mulas dan gangguan pencernaan lainnya sepanjang hari.

Dalam kasus yang lebih parah, bisa memicu maag, sindrom iritasi usus, dan gangguan refluks asam.

Menurut American Chemical Society, minum kopi saat perut kosong merupakan musuh bagi saluran cerna.

Kopi yang mengandung kafein bersifat diuretik yang dapat menyebabkan dehidrasi, hingga sembelit.

Kafein juga dapat memicu stres dan rasa cemas.

Hal ini terjadi karena kafein di pagi hari sebelum sarapan, dapat menghambat produksi serotonin. Serotonin adalah neurotransmitter yang berkaitan dengan rasa senang, bahagia, atau kesejahteraan.

Itulah mengapa jika minum kopi saat perut belum terisi makanan apapun bisa mengubah suasana hati Anda seketika.

Jadi, efek buruk minum kopi bukan hanya karena minum terlalu banyak, tapi sedikit saja jika itu dalam kondisi perut kosong juga merugikan kesehatan

Selain iitu, perlu juga diketahui kopi bisa melancafrkan buang air besar Anda.

Banyak orang tak lama setelah minum secangkir kopi biasanya muncul rasa ingin buang air besar

Malah, sebagian orang yang sering sulit “ke belakang” mengandalkan kopi untuk menuntaskan masalahnya.

Tetapi, mengapa kopi bisa membuat BAB lebih lancar?

Ada banyak penyebabnya.

Pertama, kopi meningkatkan kontraksi di usus dan mengaktifkan gerakan usus, hingga akhirnya feses bergerak menuju rektum.

Menurut sebuah penelitian, kopi merupakan zat yang paling signifikan meningkatkan gerakan usus, bahkan enam puluh persen lebih kuat dibandingkan air hangat.

Kafein bukanlah satu-satunya zat aktif dalam kopi yang membuat perut terasa mulas.

Beberapa saat setelah kita meneguk kopi dan mencapai lambung, beberapa zat akan memicu pelepasan hormon tertentu.

Hormon itu misalnya, motilin yang merangsang kontraksi usus, atau gastrin yang menyebabkan pelepasan asam di lambung.

Itu sebabnya perut terasa mulas dan seperti ada desakan untuk BAB.

Selain ngopi, di pagi hari usus besar juga lebih aktif dibandingkan waktu lain dalam sehari. Ini merupakan bagian dari irama sirkadian tubuh.

Jadi, bukan hanya minum kopi yang membuat kita lebih mudah BAB di pagi hari, tapi sebenarnya secara alami usus kita memang aktif.

Bila Anda akan melakukan perjalanan jauh, sebaiknya hindari minum kopi paling tidak 2 jam setelah bangun tidur.

Selain itu, untuk menunda urusan “ke belakang”, sebaiknya jangan padukan kopi dengan makanan berat atau aktivitas fisik karena bisa membuat gerakan usus meningkat.

Selain itu Anda juga diingatkan untuk  tidak meneguk kopi terlalu banyak.

Kandungan kafein yang tinggi dalam dua cangkir kopi ditengarai akan menyebabkan seseorang bolak-balik ke toilet untuk pipis.

Bukan cuma pada wanita, pada pria juga berlaku hal yang sama.

Karena itu, menurut dr Alayne Markland, peneliti senior dari Universitas Alabama, AS, orang yang sudah menderita inkontinensia urine atau ketidakmampuan menahan pipis sehingga urine keluar begitu saja di luar kendali.

Dalam penelitian yang dilakukan Markland memang tidak membuktikan kafein menyebabkan mereka sering pipis.

Namun, pria yang banyak minum kopi dalam penelitian itu cenderung memiliki masalah dengan menahan pipis dibanding yang minum sedikit.

Kafein bisa ditemukan dalam berbagai minuman, seperti teh, soft drink, dan makanan yang mengandung cokelat.

Jumlah cairan total yang dikonsumsi setiap hari ternyata tidak terkait dengan risiko menderita inkontinensia urine skala sedang.

Komentar