Indonesia dalam “Wabah” Hipertensi

Penulis: Darmansyah

Rabu, 27 Mei 2015 | 09:24 WIB

Dibaca: 4 kali

Indonesia sedang mengalami “booming” hipertensi setelah data yang dirilis Sample Registration Survey tahun 2014 menempatkan darah tinggi sebagai penyakit penyebab kematian nomor lima tertinggi di Indonesia.

Dengan rilis ini Indonesia sedang memasuki “wabah” kematian untuk penyakit non degeratif. Dan data tersebut juga menyebutkan hipertensi di Indonesia selalu ditambah dengan komplikasi.

Secara acak data itu juga menampilkan jumlah rata-rata kematian yang disebabkan hipertensi.

“Satu dari empat orang di Indonesia mengidap hipertensi. Bahayanya, kebanyakan penderita tidak menyadari bahwa penyakit tersebut mulai merengkuh hidup mereka,” tulis hasil penelitian itu.

“Satu dari empat orang di Indonesia pasti menderita hipertensi. Yang bahaya adalah penyakit ini silent killer. Orang tidak sadar, tiba-tiba komplikasi penyakit,” tulis rilis mereka

Ketidaksadaran inilah yang membuat kematian akibat hipertensi terus bertambah di Indonesia.
Diungkapkan, angka ini memang menurun dari delapan tahun lalu

Hipertensi sendiri merupakan gangguan pada sistem peredaran darah yang dapat menyebabkan kenaikan.

Hipertensi tidak akan membunuh secara langsung. Hipertensi mendorong penyakit komplikasi lain, seperti jantung, stroke. Itu yang membuat ini silent killer.

Secara global, tujuh juta orang setiap tahunnya meninggal dunia akibat hipertensi.
Angka penderita hipertensi di kalangan wanita selama dekade terakhir melonjak hingga tiga puluh persen.

Peningkatan tersebut tak hanya berdampak pada angka tingkat kesehatan, tapi juga finansial.

Semakin cepat stroke dideteksi dan ditangani, semakin kecil kemungkinan tewas akibat penyakit ini. Namun, hal yang tak kalah penting adalah bagaimana cara mencegah stroke menyerang di usia paruh baya.
Fakta medis juga membuktikan bahwa tekanan darah tinggi bisa menyebabkan beberapa penyakit lainnya, misalnya jantung dan ginjal.
Tekanan darah yang tinggi akan menyebabkan kerusakan organ-organ yang terkena pembuluh darah. Jaringan organ yang sudah rusak ini tidak dapat memperbarui dirinya sendiri. Jika sudah rusak, maka tak bisa diobati.

Kondisi tekanan darah tinggi atau hipertensi pada manusia dapat terjadi dalam beberapa kondisi. Ada yang selalu mempunyai tekanan darah yang tinggi, tapi ada juga yang fluktuatif. Artinya kadang tinggi kadang tidak.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Siska S. Danny mengatakan kondisi tekanan darah yang fluktuatif bisa jadi mendatangkan risiko yang lebih berbahaya.

“Variasi tekanan darah yang berbeda berisiko terkena penyakit kardiolebih tinggi dibandingkan yang tekanan darahnya selalu tinggi,” ujar Siska menjelaskan.

Pasalnya, kondisi tekanan darah yang fluktuatif, dapat merusak organ lebih cepat. “Misalnya saja pada otak. Kalau yang hipertensi terus, jaringan pelindung otaknya sudah terbiasa, otaknya sudah beradaptasi,” kata Siska.

“Tapi, kalau tiba-tiba tinggi, perlindungan otak bisa kaget. Adaptasi pelindung otak menerima tekanan akan terlambat, bisa stoke mendadak,” ujarnya menjelaskan.

Namun, hal ini tidak berarti bahwa orang yang dengan hipertensi stabil akan berkurang risikonya. Jika tidak diobati, hipertensi akan tetap mengarah pada kerusakan organ yang akhirnya menyebabkan kematian.

“Kalau tekanan darah tinggi terus tidak ada gejala,” kata Siska. “Tapi ini justru berbahaya karena tidak ada kontrol,” ujarnya menambahkan.

Komentar