Hubungan Stres, Pikun dan Usia Tua

Penulis: Darmansyah

Kamis, 19 Juni 2014 | 14:52 WIB

Dibaca: 3 kali

Stress, pikun dan usia tua merupakan jalinan kehidupan seorang manusia menjadi pelupa. Surat kabar terkenal Inggris terbitan London “Daily Mail,” dalam edisi online-nya di rubrik kesehatan, Kamis, 19 Juni 2014, menuliskan dengan tuntas tentang stress dan kepikunan di hari tua.

Menurut “Mail,” stress yang silih berganti dan di alami di masa muda ternyata berbuntut panjang. Menurut penelitian terbaru, orang dewasa yang sering mengalami stres akan mengalami gangguan memori jangka pendek di usia tuanya.

Kaitan antara hormon dan gangguan memori jangka pendek ini diungkap oleh para peneliti dari Universitas Iowa, AS. Kadar kortisol yang tinggi akan menyebabkan kemampuan memori menurun.

Kortisol, si hormon stres, dalam jumlah sedikit sebenarnya diperlukan manusia untuk bertahan hidup. Ini akan membantu kita menghadapi situasi penuh tekanan, membuat kita lebih awas dan berpikir cepat. Tapi, hormon ini berdampak negatif jika jumlahnya terlalu banyak.

Bila hormon ini terus menerus ada, pengaruhnya secara fisik antara lain gangguan pencernaan, kecemasan, berat badan naik, atau tekanan darah tinggi.

“Hormon stres adalah salah satu penyebab pelapukan pada otak. Seperti batu di pinggir pantai yang bertahun-tahun terkikis dan akhirnya hilang,” kata Jason Radley, asisten profesor fisiologi di Universitas Iowa.

Dalam penelitiannya ia menemukan, peningkatan level kortisol secara bertahap akan menghilangkan sinap (jaringan penghubung) di otak bagian depan, bagian otak yang merupakan pusat kognitif dan bertanggung jawab pada memori jangka pendek.

Seiring dengan bertambahnya usia, paparan kortisol yang terus berulang dan dalam jangka panjang, akan menyebabkan sinap otak ini mengerut dan hilang. Akibatnya, fungsi dalam mengingat pun akan berkurang.

Orang yang pernah mengalami trauma berat, seperti kematian anggota keluarga, kehilangan pasangan, atau korban pelecehan, adalah orang yang secara alami memiliki kadar kortisol tinggi.

Stress juga bisa menimbulkan dampak buruk bagi seseorang. Stres bisa menyebabkan orang mencari pelarian terhadap makanan, seks dan segala yang berakibat negative bagi tubuh.

Memang tidak ada orang yang bebas dari stres. Masalah dalam kehidupan sehari-hari, seperti beban pekerjaan, situasi keuangan, dan juga konlik dengan pasangan, bisa membuat kita selalu merasa tegang dan cemas.

Ada banyak alasan mengapa kita sulit bersikap tenang ketika menghadapi masalah-masalah tersebut. Tetapi menurut Jan Bruce, CEO meQuilibrium, sistem coaching digital untuk stres, paling tidak ada tiga alasan mengapa manusia modern lebih gampang merasakan emosi stres ketimbang bahagia.

Pertama mengapa perlu keluar kantor dan berpanas-panasan jika Anda bisa makan di meja sambil menyelesaikan pekerjaan? Mengapa harus berjalan kaki dan menghabiskan waktu sepuluh menit ketika kita bisa naik kendaraan dan pulang lebih cepat untuk bersantai?

Memang ironis tapi itu fakta: kita merasa bisa menghemat waktu dengan memberikan pada diri kita waktu yang sedikit. Tetapi cara kerjanya bukan seperti itu. Waktu tidak selalu uang dan kita tidak bisa menyimpannya dalam toples. Anda harus menghabiskannya saat memilikinya. Kuncinya adalah menghabiskan waktu dengan bijaksana. Belum tentu Anda bisa punya kesempatan untuk menikmati waktu tersebut.

Mayoritas kita menghabiskan waktu kita untuk memikirkan apa yang terjadi di masa depan, entah itu akan terjadi besok atau mungkin terjadi minggu depan. Tetapi jika kita kehilangan momen saat ini, sebenarnya kita sudah kehilangan banyak hal. Kita tak bisa tenang, gembira, dan tidak bisa menikmati jika kita tak sungguh-sungguh ada untuk saat ini.

Pada derajat tertentu, insting bertahan hidup manusia akan selalu membuat kita terlatih demi masa depan. Ini memang cara kita hidup. Tetapi mereka yang lebih tahan, fleksibel, dan lebih bahagia, adalah mereka yang menghargai momen saat ini.

Karena banyaknya tuntutan atas waktu, perhatian, dan sumber daya kita, seringkali kita merasa takut untuk membuat “pintu otak” kita agar tidak dibanjiri stres tambahan. Padahal terkadang kita perlu membuka diri sedikit untuk hal yang berbeda dan melepaskan ketegangan.

Ini berarti kita bisa menjalani hari-hari dan juga akhir pekan dengan melakukan sesuatu dari yang rutin kita lakukan. Cari kesempatan untuk menghubungi teman, atau membaca buku yang bisa membuat Anda masuk ke dunia cerita. Atau berbaring di rumput dan memandangi langit tanpa perlu berpikir apa pun.

Rasa takjub, tenang, dan gembira, bukanlah sesuatu yang kita rencanakan untuk nanti. Kita harus berusaha meluangkan waktu untuk merasakannya saat ini.

sumber : www.huffingtonpost.com dan www.dailymail.co.uk

Komentar