Hipertensi, Ereksi, Seharusnya “Check Up”

Penulis: Darmansyah

Selasa, 29 April 2014 | 09:16 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda penderita hipertensi? Kalau ia pasti terjadi gangguan pada ereksi. i gangguan ereksi ini terjadi akibat berkurangnya aliran darah ke bagian penis. Untuk menormalkannya Anda harus menurunkan tekanan darah. Sebagian orang bisa melakukannya hanya dengan perubahan gaya hidup, tetapi yang lain membutuhkan obat penurunan tekanan darah tinggi.

Masalah yang dihadapi pasien hipertensi pria adalah, sebagian obat antihipertensi bisa menyebabkan organ vital mereka sulit “bangun”. Hal ini bisa membuat mereka malas melanjutkan konsumsi obat, terlebih jika hipertensi tidak pernah menimbulkan gejala sebelumnya.

Hampir tujuh puluh persen pria yang mengalami efek samping dari obat antihipertensi menghentikan pengobatannya. Tetapi efek obat ini ternyata bervariasi, ada pria yang merasakan ereksinya lebih baik setelah rutin mengonsumsi obat antihipertensi.

Jika Anda mengonsumsi obat yang bersifat diuretik, yakni obat pilihan pertama untuk hipertensi, sebaiknya jangan langsung menghentikan pengobatan sampai tekanan darah terkendali. Jika gangguan ereksi tetap ada atau tekanan darah kembali naik, mintalah dokter untuk mengganti obatnya.

Kombinasi obat juga biasanya bekerja lebih baik dalam mengontrol tekanan darah dan menurunkan risiko gangguan ereksi.

Penyakit jantung dan pembuluh darah adalah pembunuh nomor satu di berbagai belahan dunia. Faktor risiko utamanya ialah tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, kegemukan, diabetes, kebiasaan merokok, serta riwayat keluarga.

Sejatinya, penyakit ini semakin mengkhawatirkan karena dapat muncul tanpa gejala! Dan sekali kena, artinya telah terjadi kerusakan, bahkan kematian sel-sel jantung yang bersifat permanen. Dalam hitungan tahun, fungsi jantung akan semakin menurun hingga terjadi gagal jantung.

Pola hidup sehat saja tidak cukup. Kita semua perlu screening atau check-up kesehatan.

Istilah screening kesehatan berarti melakukan pemeriksaan sewaktu sehat guna mendeteksi penyakit yang tidak bergejala asimptomatik. Dengan adanya skrining ini, dokter dapat mengupayakan pengobatan dini atau pencegahan bagi yang berisiko.

Sebagai contoh, kita perlu rutin memeriksa tensi karena hipertensi pada dasarnya tidak bergejala. Jika menunggu sampai gejala muncul, bisa jadi hipertensi tersebut telah merusak berbagai organ tubuh. Demikian halnya dengan kadar kolesterol. Tanpa pemeriksaan laboratorium, apakah Anda yakin memiliki kadar kolesterol normal?

Menimbang bahwa faktor risiko penyakit jantung bersifat akumulatif dan progresif, skrining idealnya dilakukan sedini mungkin. Dalam konsensus American Heart Association, seseorang dianjurkan untuk memeriksa tekanan darah dan kadar kolesterol sejak usia 20 tahun.

Tingginya tekanan darah telah terbukti jelas sebagai faktor risiko penyakit jantung. Risiko tersebut kian meningkat bila tensi terus-menerus di atas 140/90 mmHg. Oleh sebab itu, idealnya seseorang rutin memeriksa tekanan darah minimal sekali setahun apabila normal. Pemeriksaan ini cukup praktis dan mudah dilakukan.

Bagi mereka yang berusia muda, diagnosis hipertensi tidak dapat dengan sekali pengukuran. Tensi adalah parameter tubuh yang bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti kelelahan atau emosi.

Bahkan, pengukuran tensi di rumah dan klinik bisa saja hasilnya berbeda. Hal tersebut dinamakan white-coat hypertension. Butuh beberapa kali pemeriksaan agar dokter yakin menegakkan diagnosis hipertensi. Oleh sebab itu, pastikan Anda dalam kondisi rileks, tenang, tidak kelelahan, serta cukup tidur dan makan sebelum menjalani pemeriksaan.

Beberapa orang mungkin dapat mengalami hipertensi sejak usia muda. Perlu diingat, hipertensi tidak semata-mata terjadi karena faktor gaya hidup dan pola makan. Ada segelintir penyebab hipertensi, termasuk penyakit langka yang dapat muncul pada anak-anak.

Dan untuk Kini pertanyaannya, sudahkah Anda memeriksakan diri?

Demikian halnya dengan kadar kolesterol. Akumulasi material tersebut akan membentuk suatu plak yang disebut aterom, suatu cikal-bakal penyebab serangan jantung koroner. Oleh karenanya, skrining kadar kolesterol sejak muda menjadi sangat penting.

Utamanya yang harus diperiksa ialah kadar kolesterol total, high-density lipoprotein, low-density lipoprotein atau “kolesterol jahat”, serta trigliserida. Masing-masing parameter tersebut memiliki makna tersendiri dalam manajemen pengobatan nantinya.

Program skrining, atau dapat disebut sebagai upaya peduli terhadap kesehatan, seyogianya juga mencakup berat badan dan lingkar perut. Menurut rekomendasi AHA, sejak usia 20 tahun Anda sudah perlu memikirkan indeks massa tubuh dan ukuran lingkar perut apabila berlebih. Keduanya memiliki korelasi dengan kejadian penyakit jantung di kemudian hari.

Faktor risiko lain, seperti kadar gula darah, perlu diperiksa rutin setelah usia menginjak 45 tahun. Idealnya dicek setiap 3 tahun apabila hasilnya normal. Upaya lain, yang juga jarang tersentuh, ialah konsultasi untuk berhenti merokok dengan dokter.

Apabila Anda masih menganggap 20 tahun adalah “usia sehat”, tidak demikian untuk penyakit jantung dan pembuluh darah. Justru, tren saat ini memperlihatkan banyaknya penderita jantung yang berusia muda.

Sudah saatnya beranjak dari mental cuek dan menganggap diri “sehat” tanpa pernah check-up. Tidak ada salahnya bila meluangkan sedikit waktu serta gocek untuk sekadar check-up ke dokter. Kapan lagi kita peduli terhadap kesehatan, kalau bukan sejak usia muda?

sumber :www.webmd.com dan healthnews

Komentar