Hindari Kesalahan Mengonsumsi Vitamin

Penulis: Darmansyah

Jumat, 12 Mei 2017 | 08:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs  Express UK, hari ini, Jumat, 12 Mei, mengungkapkan, kehadiran  vitamin atau suplemen pada tubuhi akan sia-sia jika diminum dengan minuman atau makanan yang salah.

Menurut tulisan media itu, kini  warga Inggris menambahkan vitamin dan suplemen mineral dalam pola diet mereka.

Menurut National Health Service atau NHS, seperti dikutip “express uk,”  vitamin dan mineral adalah nutrisi tubuh yang dibutuhkan dalam jumlah kecil jika ingin berfungsi dengan benar.

Dan disarankan orang memperhatikan kandungan dalam suplemen yang konsumsinya dimana sebaiknya mengandung vitamin, juga kalsium, iodine dan besi.

Namun, survei terbaru  menunjukkan enam puluh delapan persen orang tidak dapat menyebutkan sumber asli dari vitamin

Selain itu, orang juga tidak mengerti bagaimana cara mengonsumsi vitamin dan suplemen mineral yang benar.

“Beberapa mineral suplemen tidak akan efektif jika dikonsumsi dengan makanan atau minuman tertentu. Contohnya, tannin yang ada dalam teh dapat menghalani penyerapan besi.”

“ Sedangkan oxalates yang ada dalam sayuran berdaun hijau dalam mengganggu penyerapan kalsium,” terang ahli diet Dr. Sarah Schenker.

Jika ingin memastikan asupan besi pada saat sarapan pagi, orang dapat melewatkan teh dan bisa minum jus jeruk.

“Segelas jus jeruk ukuran seratus lima puluh mili liter mengandung lebih dari seratus persen RDA untuk vitamin C dan ini membantu penyerapan besi dari sereal yang dikonsumsi saat sarapan,” terang Dr. Schenker.

Penelitian terakhir menyebutkan banyak orang mengalami kekurangan vitamin yang penting bagi tubuh..

Menurut Dr. Schenker, pola diet yang seimbang memang akan menyediakan vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, tetapi ada juga beberapa pengecualiannya.

“Ada waktunya dimana lebih banyak suplemen dan vitamin direkomendasikan seperti folat sebelum dan selama kehamilan.”

“ Ada juga sekelompok orang yang mendapat keuntungan dari mengonsumsi suplemen seperti vitamin B12 bagi penganut diet vegan atau vitamin D bagi mereka yang tidak boleh memaparkan kulit mereka pada sinar matahari,” terangnya.

Walaupun begitu, ia memperingatkan untuk tidak menggunakan suplemen sebagai pencari jalan keluar cepat.

“Suplemen bisa memegang peranan penting dalam hal tertentu, tetapi jika pola makan sehat diterapkan, orang tidak perlu mengonsumsi suplemen setiap hari.”

Sebagian orang mengonsumsi suplemen sekali atau dua kali dalam seminggu sebagai pendukung, padahal, menurutnya, suplemen tidak boleh digunakan untuk membayar gaya hidup yang tidak sehat.

Para ahli juga mendapati pengetahuan orang tua akan vitamin mungkin mempengaruhi pola makan anak-anak..

Dr. Schenker mengatakan orang tua sebaiknya tidak mengandalkan vitamin atau suplemen mineral terlalu dini pada anak-anak. Mereka seharusnya diedukasi dengan pengetahuan vitamin yang benar.

“Yang paling baik adalah mendukung anak untuk menikmati pola makan yang seimbang dan bervariasi. Apalagi, anak sering kali rewel soal makanan atau sering jatuh sakit karena makanan yang dikonsumsi,” terang Dr. Schenker.

Dalam kondisi tertentu, tidak ada salahnya memberi suplemen pada anak, tetapi tambah Dr. Schenker, yang paling penting adalah mengajarkan anak tentangnya makan yang baik agar tetap sehat.

“Anak-anak harus mengerti kenapa kita harus makan berbagai macam makanan yang dapat menyediakan tubuh berbagai vitamin. Mereka tidak boleh berpikiran jika vitamin itu datang dari suplemen.”

Sebut saja vitamin B.Ternyata dapat menjadi harapan dalam menangkis zat berbahaya yang dikandung polusi udara.

Hal tersebut menjadi temuan dari penelitian baru yang dilakukan sejumlah peneliti di Hong Kong

Dalam penelitian awal, sejumlah peneliti menemukan zat berbahaya yang dikandung polusi udara.

Penelitian berikutnya berujung pada temuan bahwa konsumsi vitamin B harian dapat mengurangi dampak kerusakan tubuh oleh zat berbahaya tersebut.

Namun, ini masih penelitian kecil dengan sampel tidak banyak, sehingga perlu penelitian lebih lanjut.

Polusi udara, bagaimanapun, tidak dapat dihindari oleh masyarakat kota karena tingginya penggunaan kendaraan bermotor.

“Partikel tersebut begitu kecil, mereka dapat masuk ke dalam saluran pernafasan, dan masuk hingga ke dalam paru-paru,” ujar Chak K Khan, Profesor bidang Atmosfer Lingkungan di School of Energy and Environment, Hong Kong pada CNN.

Para ahli mengatakan, ketika partikel itu dihirup, akan terjadi peradangan di sistem paru-paru

Menurut Andrea Baccarelli, ketua Penelitian Kesehatan Lingkungan di Universitas Columbia, bahayanya  belum sepenuhnya dimengerti oleh khalayak.

“Kurangnya pencegahan dari individu menambah kompleksitas untuk mengatasi tantangan masyarakat ini,” ujarnya.

Penelitian yang hasilnya diterbitkan di jurnal ilmiah PNAS, melibatkan 10 relawan. Pada awalnya mereka ditempatkan di lokasi yang bersih tanpa polusi dan mendapatkan pengobatan tiruan atau sugesti  dan dicek reaksinya.

Empat minggu berikutnya, mereka juga kembali menjalani placebo di Kota Toronto yang tingkat polusi udaranya tinggi, dengan seribu kendaraan yang melintas tiap jam setiap harinya. Pada uji coba ini, relawan mengenakan masker.

“Studi di masa depan khususnya di di area berpolusi, sangat dibutuhkan untuk memvalidasi temuan kami dan akhirnya kami mengembangkan pencegahan dengan vitamin B,” ujar Baccarelli.

“Kontrol emisi dan regulasi merupakan tulang punggung untuk pencegahan sayangnya hal tersebut masih banyak di kota besar,” tuturnya.

Menurut Chan, selama emisi masih tinggi di pusat kota maka itu menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakatnya.

Komentar