Hai Wanita! Konsumsi-lah Kalsium

Penulis: Darmansyah

Rabu, 14 Mei 2014 | 16:27 WIB

Dibaca: 1 kali

Fitrahnya sebagai ibu, melahirkan, menopause di usia baya menyebabkan wanita rentang dengan penyakit osteoporosis atau kondisi turunnya kepadatan tulang. Bahkan, satu di antara lima wanita berusia di atas empat puluh lima tahun mengidap osteoporosis.

Kondisi ini lebih banyak terjadi setelah menopause.

Berbeda dengan wanita, pria dianugerahi simpanan mineral tulang sejak lahir sehingga sangat sedikit kehilangan massa tulangnya.

Siklus kehidupan wanita juga membuat mereka lebih rentan kehilangan kepadatan tulang. Hal ini karena hormon estrogen yang memiliki peranan penting dalam pembentukan tulang akan menurun produksinya menjelang masa menopause.

Wanita harus mengandung dan menyusui, untuk mendukung proses ini, tubuh akan mengambil kalsium dari tulang. Sehingga kalau pola makan kita kurang kalsium, lama-lama kalsium dalam tulang bisa habis, terjadilah keropos tulang.

Karena jumlah kalsium yang disimpan dalam tulang menjadi berkurang sehingga kerangka melemah dan risiko terjadinya patah tulang pun meningkat. Seringkali osteoporosis baru diketahui setelah terjadinya fraktur atau patah tulang.

Untuk mencegah kondisi tersebut, para pakar kesehatan menyarankan agar sejak usia muda seorang wanita harus mengonsumsi bahan makanan yang kaya kalsium disertai cukup vitamin D untuk membantu penyerapan kalsium.

Vitamin D bisa kita dapatkan dengan berjemur di bawah sinar matahari pagi dan sore.

“Kita tinggal di negara tropis dan berlimpah sinar matahari, tapi banyak wanita yang takut kena matahari dengan alasan menjaga kecantikan. Belum lagi penggunaan tabir surya atau pakaian serba tertutup. Akibatnya kita kekurangan vitamin D,” ujarnya.

Berjemur bisa dilakukan di taman rumah misalnya. Usahakan bagian tubuh terkena sinar matahari karena vitamin D dari makanan saja tidak cukup.

Tulang kerap dipersepsikan sebagai bagian terkuat yang menyusun rangka dan struktur. Meski memang begitu adanya, ternyata hal ini tidaklah berlaku sama. Terutama pada penderita kerapuhan tulang.

Tulang para penderita OI sangat tipis dan rapuh serta memiliki kepadatan mineral yang rendah. Tulang penderita OI umumnya sangat mudah patah di lokasi manapun tanpa adanya benturan.

Hal ini dikarenakan minimnya produksi kolagen yang merupakan penyusun tulang akibat mutasi gen. Akibatnya penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan terus berlangsung seumur hidup.

Selain tulang yang mudah patah, OI memiliki beberapa gejala penentu lainnya. Biasanya sklera penderita berwarna biru atau abu, penderita juga mengalami gangguan petumbuhan gigi, otot, sendi, pendengaran, dan berperawakan pendek,” kata ahli kesehatan tulang dari Royal Children Hospital, Melbourne, Australia, Dr. Margaret Zacharin. Warna sklera mata merupakan akibat dari minimnya produksi kolagen.

Diagnosa OI tentunya hanya bisa dilakukan dokter naik ortopedi maupun endokrinologi anak. Penegakan diagnosis dilakukan berdasarkan wawancara medis, mengetahui riwayat patah tulang, melihat kondisi fisik pasien, dan pengecekan genetika molekuler.

Diagnosis ini baru bisa ditegakkan umumnya saat pasien berumur 1 tahun, dan biasanya sudah mengalami patah tulang. Hal ini juga biasanya didului kesalahan diagnosis.

Menurut Margaret, kesalahan diagnosis kemungkinan dikarenakan para dokter yang belum mengenali gejala OI. Sayangnya, kondisi ini didukung pengetahuan minim yang dimiliki masyarakat.

“Masyarakat Indonesia menganggap tulang rapuh pada usia anak merupakan hal yang wajar dan akan kuat dengan sendirinya saat usia pubertas. Pengetahuan ini ternyata juga diyakini sebagian dokter. Padahal patah tulang, apalagi yang terjadi beberapa kali saat masih usia anak, patut diwaspadai,” kata Margaret.

Setidaknya ada dua hal yang menandakan OI, yaitu patah tulang di tempat yang tidak semestinya dan tidak didului tubrukan terlebih dulu. Bila dua hal ini terjadi sebaiknya segera konsultasikan ke dokter untuk memperoleh penanganan.

Terapi sejak dini memungkinkan koreksi struktur dan kerapatan tulang sebelum puber, sehingga bisa tumbuh lebih sehat ketika dewasa. Beberapa terapi yang dijalani adalah pemberian biphosphonat untuk memperbaiki struktur tulang dan gerak supaya otot penderita tidak lemah.

Komentar