Gejala Depresi Tak Sama Pada Tiap Orang

Penulis: Darmansyah

Senin, 20 Agustus 2018 | 14:46 WIB

Dibaca: 2 kali

Depresi, tulis laman kesehatan “hello sehat,” adalah gangguan mental yang bisa terjadi pada siapapun, baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa.

Jika dibandingkan dengan stres, gejala depresi jauh lebih parah dan menimbulkan masalah yang lebih besar.

Lantas, adakah perbedaan ciri-ciri depresi pada anak hingga orang dewasa? Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Sering merasa sedih, cemas, atau ‘kosong’ adalah gejala depresi yang paling umum.

Orang yang mengalami depresi cenderung sulit mengendalikan dirinya sendiri, tidak fokus, dan tidak bahagia dengan kehidupannya.

Selain itu, ciri-ciri depresi umum lainnya adalah tidak minat untuk melakukan aktivitas apapun.

Contohnya malas bekerja, malas keluar rumah, hingga menolak berhubungan seksual.

Banyak makan atau justru malas makan.

Akibatnya, orang dengan depresi bisa mengalami kenaikan atau penurunan berat badan sebanyak lima persen dalam sebulan.

Mengalami gangguan tidur, termasuk insomnia, bangun kepagian, atau justru banyak tidur.

Mudah marah dan gelisah.

Rasa sakit di sekujur tubuh tanpa sebab, misalnya sakit kepala, sakit punggung, nyeri otot, dan sakit perut.

Sebetulnya, ciri-ciri depresi pada anak dan remaja mirip dengan gejala depresi pada orang dewasa.

Hanya saja, ada gejala depresi yang khas terjadi pada anak dan remaja, yaitu: Anak-anak yang depresi umumnya sering merasa sedih, cemas, dan clingy alias mudah nempel dengan orang lain.

Kondisi ini sering kali membuat anak-anak jadi malas ke sekolah, malas makan, hingga berat badan turun drastis.

Remaja yang depresibiasanya menjadi mudah marah, sensitif, menjauh dari teman sebayanya, perubahan nafsu makan, hingga menyakiti diri sendiri. Bahkan, remaja yang mengalami depresi rawan terjerumus dengan penggunaan narkoba atau alkohol karena tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri

Depresi bukan hal yang normal terjadi pada orang yang berusia lanjut. Sayangnya, depresi pada lansia sulit dideteksi sehingga sulit diobati.

Gejala depresi pada lansia sebetulnya tidak jauh berbeda dengan orang dewasa pada umumnya. Akan tetapi, gejala lainnya bisa berupa mudah lelah, kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, entah insomnia, bangun kepagian, atau justru banyak tidur

Selain itu, pikun atau mudah lupa, malas keluar rumah dan menolak untuk bersosialisasi dan muncul pikiran ingin bunuh diri

Jangan sepelekan sekecil apa pun ciri-ciri depresi yang terjadi pada diri Anda. Segera kunjungi psikiater jika Anda mengalaminya.

Lantas gejala depresi ini sering muncul di tengah malam.

Minimnya aktivitas di malam hari menyisakan banyak waktu untuk otak merenung.

Pikiran yang dibiarkan mengawang tanpa fokus bisa memicu timbulnya rasa kesepian di malam hari yang membuat otak tidak mampu mengendalikan pikiran dan emosi negatif, seperti kekecewaan, ketakutan, hingga kenelangsaan dan keputusasaan, yang menyebabkan kambuhnya gejala depresi.

Terlebih, sebuah penelitian dari Inggris melaporkan bahwa rasa kesepian bisa menyebabkan Anda sulit tidur nyenyak, yang bisa memperburuk gejala depresi di malam hari.

Semakin lama Anda terjaga di malam hari, semakin banyak waktu bagi otak untuk terus fokus memikirkan hal-hal negatif yang ditakutinya.

Semakin otak sibuk berpikir yang tidak-tidak, semakin sulit Anda untuk tidur nyenyak. Insomnia telah dilaporkan dapat memperburuk gejala depresi.

Itu kenapa orang yang depresi cenderung jarang merasakan gejalanya pada siang hari saat mereka sedang sibuk.

Berbagai kesibukan di siang hari membuat gejala depresi lebih terkendali karena otak mereka terus dipaksa fokus untuk mengerjakan atau memikirkan hal-hal lain.

Gejala depresi di malam hari juga bisa kambuh akibat tubuh yang kurang mendapatkan paparan sinar matahari seperti waktu beraktivitas di siang hari.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang kekurangan sinar matahari cenderung lebih rentan depresi dan sering mengalami gangguan emosi.

Seperti yang telah diketahui, paparan sinar matahari merupakan sumber terbesar dari vitamin D yang baik tubuh.

Asupan vitamin D yang mencukupi dapat membantu meringankan depresi. Selain itu, sinar UV matahari juga merangsang sel keratinosit pada kulit untuk membuat beta-endorphins, hormon yang membuat suasana hati Anda menjadi lebih baik.

Hormon serotonin yang juga membantu meningkatkan mood serta stamina tubuh juga bereaksi positif terhadap sinar matahari.

Yang terjadi pada malam hari justru sebaliknya. Suasana tenang, sejuk, dan gelap memicu tubuh untuk meningkatkan produksi hormon melatonin yang menyebabkan Anda akan lebih merasa cepat ngantuk dan lelah setelah matahari terbenam.

Mood yang melankolis di malam hari inilah yang bisa memicu kambuhnya depresi.

Siapa, sih, yang tidak pernah menonton TV, buka laptop, atau main HP sebelum tidur?

Rasanya hampir semua orang pasti pernah melakukan ini setidaknya sekali seumur hidup. Meski begitu, kebiasaan ini tampaknya harus dihentikan terutama apabila Anda memiliki depresi.

Dilansir dari Healthline, paparan cahaya biru dari layar gadget di malam hari tidak hanya membuat Anda jadi sulit tidur, tapi juga berisiko menyebabkan depresi kambuh.

Saat Anda menghabiskan waktu untuk nonton TV atau main HP sebelum tidur, pancaran sinar terang dari layar meniru sifat cahaya alami matahari yang malah bikin Anda tambah semangat karena tubuh meningkatkan produksi hormon stres kortisol.

Kadar kortisol yang berlebihan dalam tubuh dapat meningkatkan gejala depresi di malam hari terjadi semakin parah.

Komentar