Garam Bukan Pemicu Darah Tinggi?

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 13 September 2014 | 14:11 WIB

Dibaca: 0 kali

Keyakinan banyak orang tentang garam yang berlebih menjadi salah satu penyebab hipertensi, nampaknya harus diubah setelah sebuah hasil penelitian yang dirilis oleh “Daily Mail,” Sabtu, 13 September 2014, membantah pendapat ilmuwan sebelumnya yang memberi peringatan natrium menjadi penyebab tekanan darah tinggi.

Seperti diungkapkan “Daily Mail,” studi ini melibatkan lebih dari delapan ribu relawan orang dewasa di Perancis. Hasil studinya, tidak menemukan hubungan antara konsumsi garam dan tekanan darah tinggi.
Peneliti justru menemukan, indeks massa tubuh memiliki dampak terbesar pada tingkat tekanan darah sistolik.

Para ilmuwan menganalisis data dari para relawan orang dewasa Perancis dan menyimpulkan asumsi bahwa garam menyebabkan tekanan darah tinggi adalah berlebihan.

Tujuan penelitian itu semula ditujukan untuk mengevaluasi dampak dari gaya hidup dan faktor gizi pada tingkat tekanan darah. Para peneliti justru menemukan garam mempengaruhi orang dengan cara yang berbeda.
Hipertensi sering dianggap sebagai penyakit “silent killer” karena penyakit ini tidak memiliki gejala yang jelas.

Para peneliti di Perancis itu justru menemukan faktor gaya hidup lainnya termasuk konsumsi alkohol, usia, dan yang paling penting indeks massa tubuh, semua sangat terkait dengan peningkatan tekanan darah.

Mereka menganjurkan untuk makan lebih banyak buah dan sayuran, di sisi lain, bertindak untuk menurunkan hipertensi. Para penulis penelitian mengatakan, “Menghentikan kenaikan berat badan harus menjadi target pertama pada populasi umum untuk melawan epidemi hipertensi.”

Studi ini menambahkan, BMI merupakan faktor penyumbang utama tingkat tekanan darah setelah beberapa penyesuaian.

“Tekanan darah sistolik (SBP) lebih tinggi pada peserta dengan BMI tinggi. Konsumsi alkohol secara positif berhubungan dengan SBP pada pria maupun wanita.”

Dianjurkan pula oleh para ilmuwan itu, tekanan darah tinggi bisa diatasi dengan menambah durasi waktu istirahat satu jam.

Jika dilakukan secara rutin selama enam pekan, menambah waktu tidur satu jam ini bisa mengatasi masalah hipertensi.

Masalah kurang tidur dan gaya hidup stres juga telah lama dikaitkan bisa meningkatkan risiko tersebut.

Untuk itu, di Harvard Medical School di Boston, Amerika Serikat, para ilmuwan melakukan penelitian dan menemukan bahwa ada salah satu cara dan terbukti bahwa tekanan darah dapat dikendalikan hanya dengan meningkatkan durasi tidur.

Peneliti merekrut 22 pria paruh baya dan wanita yang memiliki masalah prehipertensi. Tekanan darah mereka tidak terlalu tinggi, tetapi telah meningkat dan berada pada target untuk mencapai tingkat berbahaya.

Para relawan semua mengaku tidur tujuh jam atau kurang dalam semalam.

Selama periode enam pekan, 13 orang dari kelompok penelitian ini diberitahu untuk memperpanjang pola tidur mereka dengan mendapatkan tidur satu jam lebih awal dari biasanya. Sedangkan sisanya diberitahu untuk tetap melakukan rutinitas tidur normal.

Hasilnya, seperti dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research, menunjukkan bahwa mereka yang melakukan perpanjangan waktu tidur satu jam berhasil mendapatkan setidaknya 35 menit tambahan di tempat tidur.

Para peneliti pun memperkirakan, terlalu sedikit jam tidur mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menangani hormon stres yang bisa menaikkan tekanan darah.

Para peneliti mencatat bahwa tidur ekstra bisa segera diresepkan sebagai obat untuk tekanan darah tinggi.

“Temuan awal harus ditafsirkan dengan hati-hati. Tapi, penyelidikan masa depan harus melihat apakah meningkatkan durasi tidur berfungsi sebagai strategi yang efektif dalam pengobatan hipertensi,” kata mereka

Komentar