Garam Bukan Bikin Haus Tapi Bikin Lapar

Penulis: Darmansyah

Kamis, 20 April 2017 | 08:32 WIB

Dibaca: 1 kali

Garam bikin haus?

“Tidak,” tulis laman kesehatan terkenal “menshealth,” hari ini, Kamis, 20 April.

Garam, menurut tulisan di “menshealth” adalah membikin lapar.

Sebelumnya banyak pendapat  bahwa makanan yang asin-asin dan kaya sodium akan membuat Anda kehausan

Nyatanya belum ada studi yang mengaitkan keduanya secara langsung hingga sekarang.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation, para peneliti pada awalnya hanya sekadar ingin tahu berapa banyak air yang dibutuhkan oleh astronot ketika melakukan perjalanan ke planet Mars.

Mereka lalu melakukan sebuah simulasi dengan menggunakan sepuluh volunter yang melakukan “perjalanan” ke Mars.

Para peneliti lalu memberi mereka makanan yang sama dengan kadar keasinan yang berbeda-beda selama beberapa minggu.

Seperti yang diduga selama ini, para “astronot” yang mengonsumsi banyak garam juga lebih banyak kencing.

Namun, bukannya dehidrasi, hal ini justru membuat ginjal lebih banyak menyimpan air.

Mekanisme tersebut juga menghabiskan lebih banyak kalori sehingga para “astronot” yang memiliki pola makan asin lebih cepat kelaparan.

Para peneliti kemudian mengonklusikan bahwa garam tidak membuat Anda kehausan, tetapi kelaparan.

Akan tetapi, banyak orang yang mengira bahwa rasa kelaparan setelah makan makanan yang asin hanyalah kehausan sehingga terjadilah mitos bahwa garam membuat Anda kehausan

Cara sederhana ini dapat membantu Anda mengurangi asupan garam tanpa mengorbankan rasa makanan.

Asupan garam yang direkomendasikan per orang per hari ialah dua ribu miligram atau sekitar satu sendok teh.

Tapi, kebanyakan orang mengkonsumsi jauh lebih banyak setiap hari.

Dalam jumlah sedikit, garam dibutuhkan untuk mengatur kandungan air dalam tubuh. Jika berlebihan, garam justru dapat menyebabkan hipertensi hingga stroke.

Tetapi, bagaimana rasa makanan jika hanya menggunakan sedikit garam?

The American Heart Association merekomendasikan untuk memasak dengan jeruk, cuka, atau rempah-rempah lain untuk mengurangi jumlah garam yang dibutuhkan sebagai penyedap rasa.

Namun Sunkist Growers dan peneliti dari Johnson & Wales University di Providence, Rhode Island, menemukan kunci untuk mengurangi kandungan garam dalam masakan rumah bisa sesederhana menambahkan air lemon atau potonganlemon dalam hidangan.

Peneliti meminta koki untuk membuat resep menggunakan ayam, ikan, daging sapi, sayuran, sup, salad, dan biji-bijian.

Mereka mengontrol jumlah natrium dalam, dan tidak ada garam, lalu menambahkan jumlah yang bervariasi dari air lemon atau lemon untuk setiap hidangan.

“Hasil penelitian ini menunjukkan, menghubungkan rasa dan kesehatan kadang tidak perlu dibuat sulit,” kata global Master Chef Karl Guggenmos, WACS, AAC, dari Johnson & Wales dalam sebuah pernyataan.

Mengurangi asupan garam Anda dapat menjaga tekanan darah Anda, kesehatan jantung secara keseluruhan, dan berat badan ideal.

Periset dari Tuft University, Boston percaya bahwa mengurangi asupan garam  dapat jantung.

Para peneliti mengklaim membatasi asupan garam merupakan cara yang lebih efektif secara biaya daripada menggunakan obat-obatan.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, sebuah tim peneliti berbasis di AS dan Inggris mengukur keefektifan regulasi pengurangan garam sampai sepuluh persen

Pertama, mereka mengestimasi jumlah jumlah DALY  atau disability-adjusted life years atau tahun kehidupan yang disesuaikan dengan kecacatan – ukuran tahun yang hilang karena sakit yang harus diatasi dengan kebijaksanaan di setiap negara.

Mereka kemudian menentukan berapa banyak garam yang dikurangi yang bakal menyelamatkan uang atau biaya suatu negara.

Peneliti Dariush Mozaffarian, seorang profesor gizi dari Tufts University Boston mengatakan,”Kami tahu kelebihan garam menyebabkan ratusan ribu kematian penyakit jantung dan pembuluh darah setiap tahun. Pertanyaannya, bagaimana memulai mengurangi garam dan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk usaha itu.”

“Hasil penelitian kami bersama studi-studi sebelumnya di negara-negara terpilih memberikan bukti bahwa kebijakan nasional pengurangan asupan garam sangat efektif dari segi biaya dan pada dasarnya merupakan strategi pencegahan penyakit yang sangat berbiaya efektif,” tambahnya.

WHO mengatakan kadar garam tinggi meningkatkan tekanan darah dan membuat penderitanya berisiko tinggi terkena penyakit jantung dan stroke.

Kelebihan konsumsi garam pun diketahui menyebabkan gagal ginjal dan kanker perut.

Komentar