Garam, Antara Rasa dan Kesehatan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 2 Mei 2017 | 07:49 WIB

Dibaca: 0 kali

Makanan tanpa garam?

Ya, jawabannya “hambar.”

Ya, hambar. Dan siapa yang berani membantahnya?

Garam memang menjadi kebutuhan “pokok” untuk setiap masakan.

Tapi bukan itu yang ingin ditanyakan.

Yang ingin dikemukakan adalah pernahkan Anda menghitung jumlah garam yang Anda makan setiap hari, baik itu lewat makanan, camilan, atau minuman?

Ternyata, meskipun Asosiasi Jantung Amerika menyarankan hanya satu setengah gram per hari atau sekitar setengah sendok teh, kebanyakan orang mengkonsumsi setidaknya tiga koma empat  gram.

Pertanyaannya kemudian, apakah jumlah itu membahayakan, mengingat hasil penelitian menyebutkan bahwa konsumsi garam atau sodium berkaitan erat dengan penyakit darah tinggi, yang meningkatkan resiko terkena serangan jantung dan stroke.

Nah, sebuah penelitian terbaru mengatakan asumsi di atas tidak sepenuhnya benar.

Survei terhadap seratus ribu orang dewasa  di seluruh dunia menghasilkan temuan bahwa mengkonsumsi lebih banyak garam daripada yang disarankan tidaklah terlalu buruk bagi kesehatan, selama Anda tidak memiliki tekanan darah tinggi.

Dari orang-orang yang disurvei, sembilan puluh persen di antaranya ternyata mengkonsumsi garam dalam jumlah tinggi atau lebih dari enam  gram per hari

Hanya sepuluh persen yang mengkonsumsi kurang dari tiga gram per hari

Bahkan, Cuma empat persen dari keseluruhan yang patuh dengan anjuran satu setengah  hingga dua koma tiga gram per hari.

Para peneliti memang melihat adanya peningkatan tekanan darah pada mereka yang mengkonsumsi garam dalam jumlah tinggi.

Namun pada mereka yang mengkonsumsi sedang, ditemukan bahwa asupan garam itu tidak berdampak pada kenaikan tekanan darah.

Sementara pada kelompok yang mengkonsumsi sedikit garam, asupan itu tidak menimbulkan efek.

Ini berarti anjuran untuk mengurangi asupan garam hingga setengah sendok teh saja tidak sepenuhnya beralasan, ujar Andrew Mente, profesor epidemiologi dari Universitas McMaster, Kanada.

Bila Anda selama ini mengkonsumsi garam dalam jumlah sedang – yang artinya lebih tinggi dari yang disarankan – maka hal itu tidak masalah.

Namun bila Anda tergolong kelompok yang mengkonsumsi garam dalam jumlah tinggi, disarankan untuk menguranginya.

Meski demikian, pesan dari penelitian ini bukanlah supaya Anda bisa seenaknya mengkonsumsi garam, karena jumlah sodium yang banyak dalam tubuh tetap menimbulkan masalah kesehatan.

“Anda harus tetap menghindari makanan yang mengandung garam tinggi, namun juga jangan terlalu takut dengan makanan asin. Selama Anda tidak memiliki masalah dengan tekanan darah, maka konsumsi garam dalam jumlah wajar hingga satu sendok teh masih diperbolehkan,” ujar Mente.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Investigation, para peneliti pada awalnya hanya sekadar ingin tahu berapa banyak air yang dibutuhkan oleh astronot ketika melakukan perjalanan ke planet Mars.

Mereka lalu melakukan sebuah simulasi dengan menggunakan 10 volunter yang melakukan “perjalanan” ke Mars selama 105 hari dan 205 hari.

Para peneliti lalu memberi mereka makanan yang sama dengan kadar keasinan yang berbeda-beda selama beberapa minggu.

Seperti yang diduga selama ini, para “astronot” yang mengonsumsi banyak garam juga lebih banyak kencing. Namun, bukannya dehidrasi, hal ini justru membuat ginjal lebih banyak menyimpan air.

Mekanisme tersebut juga menghabiskan lebih banyak kalori sehingga para “astronot” yang memiliki pola makan asin lebih cepat kelaparan.

Para peneliti kemudian mengonklusikan bahwa garam tidak membuat Anda kehausan, tetapi kelaparan.

Akan tetapi, banyak orang yang mengira bahwa rasa kelaparan setelah makan makanan yang asin hanyalah kehausan sehingga terjadilah mitos bahwa garam membuat Anda kehausan.

The American Heart Association merekomendasikan untuk menggantikan psosisi garam dengan jeruk, cuka, atau rempah-rempah lain  sebagai penyedap rasa.

Namun Sunkist Growers dan peneliti dari Johnson & Wales University di Providence, Rhode Island, menemukan kunci untuk mengurangi kandungan garam dalam masakan rumah bisa sesederhana menambahkan air lemon atau potonganlemon dalam hidangan.

Peneliti meminta koki untuk membuat resep menggunakan ayam, ikan, daging sapi, sayuran, sup, salad, dan biji-bijian.

Mereka mengontrol jumlah natrium dalam makan, lalu menambahkan jumlah yang bervariasi dari air lemon atau lemon untuk setiap hidangan.

“Hasil penelitian ini menunjukkan, menghubungkan rasa dan kesehatan kadang tidak perlu dibuat sulit,” kata global Master Chef Karl Guggenmos, WACS, AAC, dari Johnson & Wales dalam sebuah pernyataan.

Mengurangi asupan garam Anda dapat menjaga tekanan darah Anda, kesehatan jantung secara keseluruhan, dan berat badan ideal.

Komentar