Gagal Ginjal? Ya, Cuci Darah!

Penulis: Darmansyah

Minggu, 9 Juni 2013 | 12:29 WIB

Dibaca: 2 kali

Gagal ginjal, dan cuci darah? Itu pertanyaan beruntun yang kami ulangi ketika seorang teman menelepon di sebuah pagi. Sang teman mengabarkan seorang sohib kami sedang di rawat di sebuah rumah sakit dan harus menjalani terapi “dialisis” atau cuci darah karena gagal ginjal.

Sejak lama, saya tahu, sang teman memiliki dua penyakit kronis. Darah tinggi dan diabetes. Rupanya, menurut seorang dokter, ketika kami “bezoek” di ruang rawat inapnya, sang teman mengalami komplikasi tekanan darah tinggi kronik serta kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Dampak dari kedua penyakit itu menyebabkan terjadinya komplikasi yang menyebabkan sang teman harus menjalani cuci darah.”Ini penyakit gagal ginjal,” ujar sang dokter memberitahu kami. Dan pengobatan penyakit gagal ginjal jenis stadium ini ada dua kemungkinan. Cangkok ginjal atau pun cuci darah.

Ya, hipertensi dan diabetes, menurut data dari jurnal kesehatan, merupakan penyebab terbanyak gagal ginjal stadium akhir, terutama di daerah perkotaan. Kalau di daerah marjinal penyebabnya adalah infeksi pada ginjal.

Gagal ginjal stadium akhir berlangsung perlahan. Pada penderita diabetes atau hipertensi, untuk mencapai tahap gagal ginjal stadium akhir bisa terjadi selama belasan sampai puluhan tahun. Sehingga sulit mengetahui secara pasti kapan kerusakan ginjal terjadi.

Jika fungsi ginjal hanya tinggal lima sampai sepuluh persen dari kapasitas normalnya, maka kondisi ini disebut sebagai penyakit ginjal stadium akhir. Ini berarti fungsinya harus digantikan oleh cangkok ginjal atau mesin cuci darah atau dialisis.

Ginjal merupakan organ yang fungsi utamanya membuang kelebihan cairan dan produk sisa dari darah. Ginjal juga berfungsi sebagai kelenjar endokrin, yang menghasilkan hormon yang penting bagi pembentukan sel darah merah, mengatur tekanan darah, dan pembentukan tulang.

Menurut data tahun 2010, penyebab penyakit ginjal tahap akhir meliputi hipertensi (35 persen), diabetes (25 persen), obstruksi dan pielonefritis (15 persen), glomerulonefritis (13 persen), dan lain-lain (10 persen). Diperkirakan saat ini ada sekitar 300.000 penderita gagal ginjal di Indonesia.

Penderita gagal ginjal membutuhkan terapi pengganti fungsi ginjal, antara lain cuci darah (hemodialisis), penyaringan darah yang dimasukkan ke rongga perut, ataupun cangkok ginjal.

Dialisis bisa digunakan sebagai tindakan sementara pada pasien berusia muda selagi menunggu pencangkokan ginjal. Tetapi tindakan ini juga bisa menjadi permanen bagi mereka dengan gagal ginjal kronis ketika pencangkokan ginjal tidak memungkinkan karena faktor usia atau alasan medis lain.

Untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal, idealnya diperlukan beberapa kali cuci darah dalam seminggu. Berapa lama setiap sesi cuci darah tergantung pada berbagai faktor, antara lain berat badan, mesin yang dipakai, serta seberapa banyak racun yang terkumpul dalam ginjal sejak sesi cuci darah sebelumnya.

Jadi, kapan tepatnya seseorang memerlukan dialisis? Menurut para ahli dari “Mayo Clinic” hal itu berbeda-beda pada tiap pasien. Dokter pada dasarnya akan berusaha menghadapi gagal ginjal kronis sedapat mungkin dengan cara konservatif selama mungkin, yakni dengan pengaturan diet atau obat-obatan.

Karena itulah mencegah lebih baik daripada mengobati gangguan ginjal.

Komentar