Faktor Genetik Pengaruhi Risiko Impotensi

Penulis: Darmansyah

Rabu, 10 Oktober 2018 | 09:02 WIB

Dibaca: 1 kali

Disfungsi ereksi?

Impoten?

Ya, siapa yang m adalah mimpi buruk untuk setiap lelaki

Barang siapa mengalaminya, kehidupan seksual bakal tak selancar biasanya.

Persoalan disfungsi ereksi atau lazim disebut impotensi bisa muncul akibat faktor internal dan eksternal. Tak cuma gaya hidup, disfungsi ereksi juga berkaitan dengan kondisi genetik seseorang.

Sebuah studi anyar menyebut bahwa gen memberikan ‘sumbangsih’ pada munculnya disfungsi ereksi.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini menyebut bahwa pria yang memiliki duplikat dari varian gen ini berisiko dua puluh enam persen mengalami impotensi.

Sementara mereka yang memiliki dua duplikat berisiko lebih tinggi sebesar 59 persen.

Melansir AFP, peneliti menganalisis kumpulan data lebih dari 36ribu pasien di Kaiser Permanente, California. Di Amerika Serikat, satu dari lima pria berisiko mengalami impotensi.

Kini, sekitar lima puluh persen pria tidak merespons terapi impotensi yang telah tersedia.

Dengan diketahuinya faktor gen sebagai salah satu faktor penyebab impotensi, pemimpin studi, Eric Jorgenson, berharap ada pengembangan terapi anyar yang menyasar pada variasi gen.

“Pria yang memiliki faktor gen ini sangat mungkin untuk menurunkan risiko impotensi,” ujar Jorgenson.

Disfungsi ereksi, alias impotensi, dapat disebabkan oleh masalah yang berhubungan dengan hal-hal tersebut. Stress dan berbagai isu kesehatan mental lain juga dapat menyebabkan atau memperburuk disfungsi ereksi.

Dilansir dari Health Line, diperkirakan sekitarlima puluh  persen pria usia empat puluh hingga tujuh puluh tahun mengalami gejala disfungsi ereksi di sepanjang hidupnya.

Risiko impotensi akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Selain itu, rekor medis juga melaporkan bahwa pria berpendidikan tinggi memiliki peluang yang lebih rendah terhadap impotensi — mungkin karena rata-rata mereka menganut gaya hidup sehat.

Impotensi sering menimbulkan pengaruh negatif terhadap kehidupan seks seorang pria, dan dapat semakin memperparah stres, depresi, dan rasa rendah diri yang sudah ada sebelumnya.

Untuk Anda tahu, banyak lelaki yang tak menyadari dirinya masuk ke “lobang” impotensi.

Banyak yang tidak sadar akan disfungsi ereksi ini. Banyak yang menganggap jika penis berhasil penetrasi ke vagina, itu bukan disfungsi ereksi. Padahal, belum tentu

Saat ini, prevalensi disfungsi ereksi di dunia meningkat seiring pertambahan usia. Sesuai data Asian Journal of Andrology, prevalensi disfungsi

Penelitian The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviours di dua puluh Sembilan  negara, termasuk Indonesia, menempatkan Asia Tenggara dengan kasus disfungsi ereksi terbesar sebanyak dua puluh delapan koma satu persen

Sangat banyak sekali pria di seluruh dunia yang mengalami disfungsi ereksi dan meningkat seiring pertumbuhan usia. Ini disebabkan multifaktorial atau saling terkait dengan kesehatan dan juga faktor degeneratif.

Faktor organik yang meliputi gangguan kesehatan pembuluh darah, saraf, hormonal, struktur penis, dan pengaruh obat menjadi penyumbang terbesar disfungsi ereksi sebanyak Sembilan puluh lima persen. Sisanya, sebanyak lima5 persen disebabkan oleh faktor psikogenik atawa faktor psikologis seorang pria.

Disfungsi ereksi bukan cuma urusan penis yang tak bisa mengeras saat penetrasi. Lebih jauh, disfungsi ereksi merupakan ketidakmampuan pria mencapai dan mempertahankan ereksi yang sempurna untuk aktivitas seksual yang memuaskan.

Ada empat tingkatan ereksi dalam dunia medis. Mulai dari tingkatan pertama yang sama sekali tak bisa ereksi hingga tingkatan keempat yang mampu ereksi sempurna. Dari semuanya itu, hanya tingkatan empat yang dianggap normal dan tak bermasalah.

Yang tidak disfungsi ereksi itu hanya tingkat keempat, penis dapat mengeras seperti dinding atau timun muda. Tapi, tingkat tiga itu bisa mengeras walau tidak seluruhnya, tapi cukup untuk penetrasi

Kondisi ereksi tingkat ketiga berpengaruh pada hasil hubungan seksual. Ereksi yang tak sempurna, kata Nugroho, membuat pasangan tak nyaman, ejakulasi dini, kurang puas, hingga trauma menjalani hubungan berikutnya.

Lebih jauh lagi, disfungsi ereksi bisa menjadi tanda kesehatan pria memburuk. Pasalnya, disfungsi ereksi berkaitan erat dengan pembuluh darah, saraf, dan hormonal.

Diarankan agar pria sadar akan disfungsi ereksi dan mengonsultasikannya dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Disfungsi ereksi juga dapat ditangani dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup sehat seperti berhenti merokok dan mengonsumsi alkohol, serta rutin berolahraga.

Komentar