Fakta Panik Itu Perlu Anda Ketahui

Penulis: Darmansyah

Senin, 7 November 2016 | 09:45 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda, atau siapa pun di antara kita  “pasti” pernah mengalami serangan panik. Panik ketika sedang menghadapi situasi yang tidak menguntungkan adalah reaksi wajar makhluk hidup.

Tapi, jika serangan panik datang secara kontinyu dan sering terjadi tanpa sebab bisa  bisa disebut sebagai  panick attack.

Kasus ini sudah termasuk dalam kategori gangguan panik.

Gangguan panik ditandai oleh serangan anxietas atau teror berkala.

Frekuensi serangan sangat bervariasi, ada yang sering (setiap hari atau setiap minggu), tetapi berlangsung berbulan-bulan.

Ada juga yang mengalami serangkaian serangan, tetapi diikuti periode tenang selama berminggu-minggu.

Perlu diperhatikan, serangan panik dapat terjadi pada gangguan anxietas lain seperti pada fobia dan gangguan stres pascatrauma.

Sindrom panik, seperti jantung berdebar, perut terasa mulas, dan sakit kepala, saat menghadapi ujian atau pembicaraan penting misalnya, adalah normal.

Namun, adakalanya rasa panik perlu mendapat penanganan lebih.

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Cosmo  mengatakan  serangan panik atau panic attack berbeda dengan sindrom panik biasa

“Serangan panik  ini ditandai dengan lonjakan kecemasan dan ketakutan secara tiba-tiba. Rasanya tak terkendali,” kata psikolog Tamar Chansky, PhD.

Serangan panik bisa ditandai oleh beberapa gejala sekaligus, yaitu berkeringat, menggigil, ledakan panas dalam tubuh, palpitasi, gemetar, mati rasa atau kesemutan, pusing, disorientasi, perasaan bahwa Anda sedang mengambang di atas tubuh Anda, sesak napas atau merasa seolah-olah Anda tersedak, hingga takut Anda akan mati.

Memiliki serangan panik bisa berarti Anda sedang dalam stres kronis.

Serangan panik juga dapat ditandai dengan pikiran negatif yang berlebihan.

Kebanyakan serangan panik berlangsung sekitar sepuluh menit, menurut peneliti dari University of Pennsylvania School of Medicine.

Untuk membantu meredakannya, temukan ruang yang tenang untuk duduk dan bernapas perlahan-lahan.

Mengulangi mantra ini mungkin dapat membantu: “Ini tidak berbahaya”, kata Carole Lieberman, MD, seorang psikiater di L.A. Bila merasa pusing, letakkan kepala Anda di antara kaki untuk memperlancar aliran darah ke otak.

Jika Anda sering dan terus mengalami serangan panik, berkonsultasilah ke seorang terapis untuk bersama-sama menemukan strategi dalam mengurangi panik berlebih tersebut.

Bila berlarut dan dibiarkan, serangan panik ditakutkan bisa mengganggu ketenangan hidup, bahkan mengarah pada stres kronis hingga depresi berat.

“Serangan panik biasanya menyerang tanpa peringatan,” kata Peter Kanaris, Ph.D, seorang psikolog klinis di Smithtown New York.

Ketika terjadi serangan, akan muncul sensasi fisik yang meresahkan seperti sakit dada, gemetar, pusing, merasa seolah-olah anggota badan akan mati rasa atau kesemutan.

Pada beberapa orang muncul perasaan takut mati, kehilangan kontrol, atau takut menjadi gila.

Ketika serangan panik datang, penderitanya mungkin akan merasa bahwa serangan itu seperti tidak ada habis-habisnya, seperti akan berlangsung selamanya.

Idealnya, ketika merasa panik, otak kita akan masuk ke fase “hadapi” atau “lari”. Tapi pada serangan panik, fase itu tidak ada. Anda seperti tidak mampu melawan.

Faktor-faktor tertentu, seperti genetika atau transisi kehidupan, dapat meningkatkan peluang Anda mengalami serangan panik.

“Serangan panik mungkin terjadi dari kombinasi faktor internal dan eksternal. Misalnya, mungkin Anda punya kecenderungan genetik untuk mudah cemas atau mengalami gangguan suasana hati.”

“Kemudian, kecenderungan ini berubah menjadi serangan panik ketika Anda menghadapi situasi yang menurut Anda tidak nyaman,” kata Greg Kushnick, Psy.D, seorang psikolog di Manhattan.

Jika Anda adalah seorang yang menerapkan standar tinggi terhadap banyak hal dalam hidup Anda, risiko serangan panik akan meningkat.

Kushnick mengatakan,”Nampaknya, serangan panik terkait erat dengan orang-orang yang dianggap berprestasi tinggi dan cenderung ingin selalu mengendalikan banyak hal.”

“Serangan panik awalnya dikaitkan dengan konteks tertentu, seperti di kereta bawah tanah atau pada malam hari di tempat tidur,” jelas Kushnick.

Namun, sekarang ini ada kecenderungan untuk menggeneralisasikannya ke konteks lain yang tidak terkait dengan pemicu.

Sebagai contoh, jika seorang wanita mengalami serangan panik saat sedang ada pertemuan di lantai teratas gedung pencakar langit, dia juga bisa mengalami hal yang sama di sebuah gedung konser berlantai satu yang penuh orang.

Yang membuat frustasi mengenai serangan panik adalah kemampuannya untuk datang di mana saja.

“Ketakutan atau kecurigaan penderita bahwa dia bisa mengalami serangan di manapun, dapat membuatnya sulit untuk menikmati tempat-tempat yang dulunya dia sukai,” ungkap Kushnick.

Karena serangan panik sering terjadi kapan saja dan di mana saja, penderita menjadi kesulitan membuat rencana antisipasi.

Menurut Kanaris, faktor ketidakpastian dapat membuat penderita sangat tertekan ketika dia harus berada jauh dari rumah. Takut akan terjadinya serangan juga dapat menyebabkan gangguan panik.

Sekitar satu dari tujuh puluh lima orang penderita serangan panik hidup dalam ketakutan yang terus-menerus.

Di tengah serangan panik, ada beberapa langkah yang dapat Anda ambil untuk mencoba meringankan ketidaknyamanan.

Jika Anda atau orang yang cintai mengalami serangan panik, segera alihkan perhatian, sehingga fokus pikiran Anda tidak lagi kepada serangan itu tapi kepada hal lain di luar diri Anda.

Terapi perilaku kognitif akan sangat membantu penderita untuk lebih memahami apa yang memicu serangan panik dan bagaimana cara mengatasinya.

Seorang terapis dapat mengajarkan latihan pernapasan atau strategi mental yang dapat membantu Anda keluar dari tengah-tengah kepanikan.

Terapis yang berpengalaman juga dapat membantu Anda menggali jauh ke dalam faktor-faktor pemicu serangan.

Komentar