Fakta dan Mitos Tentang Kanker Darah

Penulis: Darmansyah

Senin, 10 September 2018 | 08:40 WIB

Dibaca: 1 kali

Kanker darah menyerang jaringan pembentuk darah dan akibatnya, kemampuan tubuh melawan infeksi jadi terhambat.

Meski disebut sebagai salah satu jenis kanker paling mematikan, namun kanker darah dapat diobati dengan perawatan yang tepat.

Sayangnya, beragam mitos soal kanker darah masih berseliweran.

Kesalahpahaman itu seringkali dipercaya dan justru memperburuk keadaan para penderita dan keluarga pasien kanker darah.

Ada beberapa mitos dan fakta yang benar seputar kanker darah.

Selama ini, masyarakat memahami bahwa leukemia sama dengan kanker darah. Namun, pernyataan ini tak sepenuhnya benar.

“Pernyataan itu sebagian benar, sebagian lagi salah. Yang benar, leukimia adalah salah satu tipe kanker darah. Ada beberapa tipe kanker darah, bukan hanya leukimia saja,” kata Konsultan Senior Hematologi di Parkway Cancer Center, Singapura Lim ZiYi

Dokter ahli hematologi atau ilmu yang mempelajari darah itu menjelaskan, ada tiga tipe kanker darah yang banyak ditemui. Selain leukimia, ada pula kanker darah limfoma dan myeloma.

Leukemia berkaitan dengan kanker pada sel darah putih dan banyak menyerang anak-anak, tapi jarang pada orang dewasa.

Sedangkan limfoma dikenal sebagai kanker kelenjar getah bening yang umum terjadi pada orang dewasa. Sementara myeloma merupakan kanker pada sel plasma.

ZiYi menyebut, tiga jenis kanker ini memiliki subtipe yang jumlahnya dapat mencapai ratusan dan berpengaruh pada jenis pengobatan yang dilakoni.\

Informasi simpang siur yang bergulir di masyarakat adalah anggapan bahwa kanker darah merupakan penyakit yang diturunkan orangtua kepada anak. Akan tetapi, hal itu cuma mitos belaka.

Konsultan Hematologi PCC lainnya, Colin Phipps Diong menjelaskan, kendati kanker darah merupakan penyakit genetik, tapi tidak diturunkan oleh orangtua kepada anak.

“Ini bukan salah orang tua. Tidak, penyakit ini tidak diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Penderita yang hamil, bayinya akan baik-baik saja. Tidak seperti jenis kanker lain,” kata Phipps.

Phipps menyebut, perubahan gen pada penderita kanker darah terjadi secara spontan dan tiba-tiba.

Perubahan ini tidak diturunkan, melainkan terjadi ketika sudah berkembang dalam tubuh.

Hingga saat ini, tak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan perubahan sel darah menjadi sel kanker itu.

Sejumlah penelitian mengaitkan dengan beberapa faktor seperti lingkungan, pola makan, dan stres.

Masyarakat sering kali cemas lantaran menganggap kanker darah baru dapat diketahui pada stadium akhir.

Namun, menurut Phipps, kanker darah bisa dideteksi dini dengan memeriksakan gejala yang kerap timbul.

Gejala itu meliputi demam berkepanjangan, penurunan berat badan secara drastis, dan munculnya pembengkakan pada getah bening untuk jenis limfoma.

Jika Anda merasa mengalami gejala ini, segera periksakan ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

“Pengecekan kesehatan dapat mengetahui kondisi darah dan kanker dalam tubuh,” ucap Phipps.

Tak ada istilah penanganan terlambat pada kanker darah.

Umumnya, dokter tak lagi mengenal istilah ‘stadium’ seperti pada kanker jenis lain.

Pasalnya, kanker jenis ini menyerang sel darah yang beredar di seluruh tubuh.

Salah satu metode pengobatan kanker darah adalah dengan transplantasi sumsum tulang belakang. Berdasarkan mitos yang beredar, pendonor kudu berasal dari keluarga sedarah.

Phipps mengakui jika sumber terbaik memang berasal dari saudara kandung, anak, atau orangtua.

Namun, sumsum tulang belakang juga bisa diperoleh dari orang lain yang tak memiliki hubungan darah.

Beberapa stok sumsum tulang belakang atau stok darah tali pusar tersimpan di bank darah tali pusat dan bisa dipakai di seluruh dunia.

Phipps menjamin tak ada efek samping berkepanjangan bagi pendonor. Mereka hanya bakal merasa sakit dan kelelahan paling lama sepekan setelah proses donor.

Saat ini, kemajuan teknologi juga membuat proses donor tak memerlukan operasi yang berat.

Beberapa penelitian menyebut bahwa vitamin C dapat menyetop leukemia.

Namun, ZiYi membantah hal tersebut. Menurutnya, tak ada data atau bukti tepat yang menunjukkan dosis vitamin C tinggi dapat menyetop progres leukemia.

Alih-alih menyembuhkan, dosis yang salah dari vitamin C justru dapat memperparah keadaan.

ZiYi menyarankan agar penderita leukemia mengonsumsi asupan tepat sesuai takaran gizi yang disarankan dokter agar dapat mempercepat penyembuhan

Komentar