Efek Positif Kurangi Konsumsi Nasi Putih

Penulis: Darmansyah

Kamis, 2 Agustus 2018 | 09:46 WIB

Dibaca: 2 kali

Diet bagi mereka yang ingin sekali mendapatkan berat badan ideal, kerap kali diiringi dengan pengurangan konsumsi nasi setiap hari.

Nasi yang memang kaya akan karbohidrat, kerap kali dituding sebagai penyebab tubuh mengalami berat badan yang berlebihan.

Pakar kesehatan sendiri menyebutkan, konsumsi makanan yang seimbang akan jauh lebih efektif dalam membuat pengendalian berat badan tetap terjaga.

Dalam realitanya, banyak dari kita yang mengkonsumsi nasi secara berlebihan setiap harinya.

Jika kita mengkonsumsi nasi atau makanan berkarbohidrat terlalu banyak, apalagi jika kita mengkonsumsi makanan dengan kadar glikemik yang tinggi layaknya roti putih, mie, atau nasi putih, maka kita pun berisiko memiliki masalah kesehatan pada organ paru-paru.

Dengan adanya kadar glikemik yang tinggi, maka gula darah pun akan cenderung naik dengan cepat setelah kita mengkonsumsi makanan ini.

Selain risiko terkena gangguan pada organ paru-paru, mereka yang memiliki penyakit diabetes pun bisa mengalami masalah yang besar

Penelitian yang dilakukan di University of Texas MD Anderson Cancer Center menunjukkan bahwa dua belas persen dari mereka yang meninggal karena kanker paru-paru ternyata disebabkan oleh asupan karbohidrat yang terlalu tinggi.

Bahkan, 49 persen dari peningkatan resiko masalah kanker paru-paru disebabkan oleh konsumsi makanan dengan indeks glikemik yang cukup tinggi.

Melihat adanya fakta dimana masyarakat Indonesia akan cenderung mengkonsumsi makanan dengan kadar glikemik tinggi dari nasi alih-alih makanan lainnya layaknya roti putih, maka kita pun sebaiknya mulai membatasi asupan nasi putih harian agar tidak berlebihan.

Selain itu, konsumsi daging merah atau makanan dengan kandungan lemak jenuh cukup tinggi juga sebaiknya dibatasi.

Cobalah untuk menerapkan pola makan yang seimbang, khususnya dengan asupan sayuran dan buah-buahan setiap hari sehingga tubuh pun tetap dalam kondisi yang sehat.

Beberapa perubahan saat tubuh menggunakan lemak sebagai pengganti glukosa dari karbohidrat makanan:

Hal ini terutama terjadi apabila kondisi ketosis dipicu oleh konsumsi karbohidrat yang lebih sedikit.

Penurunan konsumsi sumber makanan karbohidrat dapat menimbulkan perubahan hormon pengatur rasa lapar, karena tubuh lebih banyak mengonsumsi makanan sumber protein, sayuran, dan buah.

Senyawa keton yang dihasilkan saat mengalami ketosis juga mempengaruhi otak merespon rasa lapar.

Seperti efek rendah karbohidrat pada umumnya, tubuh yang kekurangan karbohidrat akan lebih mudah mengalami penurunan berat badan karena tubuh memecah lemak.

Hal ini terjadi apabila ketosis berlangsung dalam beberapa minggu dan dapat bertahan lama ataupun sebentar, tergantung seberapa cepat tubuh berhenti menggunakan lemak sebagai bahan energi dan menyimpan cadangan makanan kembali.

Mengurangi konsumsi karbohidrat dalam waktu yang lama mendorong tubuh untuk beradaptasi menggunakan lemak sebagai sumber energi.

Mengurangi sumber energi yang lebih mudah dipecah seperti karbohidrat akan membantu tubuh untuk mengatur sumber energi yang lebih efisien.

Saat kekurangan glukosa, otak juga mulai beradaptasi untuk menggunakan sumber energi lain seperti senyawa keton untuk mengganti karbohidrat.

Mekanisme tersebut juga membantu otak bekerja lebih baik dalam berkonsentrasi dan mengingat.

Meski banyak manfaatnya, metabolisme lemak dalam tubuh untuk mengganti glukosa juga memiliki beberapa efek samping, yang mungkin tidak berbahaya namun bisa mengganggu.

Gejala ini terjadi pada permulaan tubuh, saat tubuh baru mulai menggunakan lemak sebagai sumber energi, dan dapat berlangsung dalam beberapa hari sebelum tubuh beradaptasi sepenuhnya.

Pada awal adapatasi, tubuh mengeluarkan sisa karbohidrat dan air, selain menggunakan lemak sebagai bahan energi.

Untuk mengatasi hal ini, tingkatkan konsumsi elektrolit atau garam mineral sodium, potassium, dan magnesium saat Anda mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah sedikit.

Kondisi ketosis juga disertai dengan pengeluaran cairan berlebih dan jumlah sisa makanan yang lebih sedikit.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengganti cairan tubuh dan memakan makanan dengan karbohidrat kompleks saat kekurangan konsumsi karbohidrat sederhana seperti dari tepung dan nasi.

Kesulitan tidur saat tubuh mengalami ketosis dikarenakan rasa lapar akibat konsumsi karbohidrat dengan jumlah yang lebih sedikit yang biasanya.

Hal ini menyebabkan individu yang mengalami ketosis terbangun dari tidur malam hari saat kadar karbohidrat paling rendah, dan sulit untuk tidur kembali.

Perubahan bau mulut disebakan oleh peningkatan senyawa acetone pada urin dan napas.

Kondisi ini dapat hilang saat tubuh sudah tidak berada dalam kondisi ketosis lagi, atau tubuh mulai terbiasa menggunakan lemak sebagai bahan energi karena kadar acetone sudah kembali menurun.

Hal ini tentu saja dapat diatasi dengan menggosok gigi ataupun berukumur.

Pada dasarnya ketosis tidak berbahaya bagi kesehatan karena hanya berupa produksi senyawa ketone berlebih dari proses metabolisme lemak.

Mengurangi karbohidrat untuk memicu kondisi ketosis dapat bermanfaat bagi kesehatan, khususnya individu yang mengalami obesitas dan kadar kolesterol tidak terkontrol.

Ketosis adalah kondisi pemicu terjadinya ketoacidosis diabetik, khususnya pada penderita diabetes tipe 1.

Di saat penderita diabetes cenderung tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi, kondisi ketosis juga meningkatkan ketone dalam darah sehingga memicu ketoacidosis atau kondisi pH tubuh yang terlalu asam.

Katoacidosis menyebabkan beberapa gejala seperti kehausan berlebih, sakit perut, mual, dehidrasi, muntah-muntah, serta dapat berakhir pada kematian.

Komentar