Efek Manis dan Lemak Itu Mirip Ganja

Penulis: Darmansyah

Jumat, 13 Januari 2017 | 14:54 WIB

Dibaca: 0 kali

Laman situs “daily mail,” media Inggris paling terkenal, hari ini, Jumat, 13 Januari 2017, di rubrik kesehatannya, menurunkan laporan tentang bahaya makanan manis, yang mereka samakan dengan ganja.

“Pola makan ala Barat yang penuh lemak dan gula terbukti memang mendatangkan eforia saat makan berlebihan memicu reseptor tubuh mirip seperti kerja ganja,” tulis “mail.”.

Studi-studi sebelumnya menyimpulkan sinyal-sinyal di otak menyebabkan kita makan berlebihan.

Namun, studi baru ini merupakan yang pertama menemukan kelebihan makan mungkin disebabkan oleh “persinyalan periferal endocannabinoid”, sinyal yang ditimbulkan di bagian-bagian lain tubuh, bukan otak.

Sistem endocannabinoid adalah kelompok molekul persinyalan lipid.

Disebut demikian karena diperkirakan merupakan “ganja alami” tubuh dan reseptor-reseptornya.

Reseptor ini mengontrol banyak proses fisiologis termasuk asupan makanan, keseimbangan energi dan pemberian penghargaan.

Peneliti dari University of California Riverside mengatakan, menyantap berlebihan makanan kaya gula dan lemak meningkatkan sinyal endocannabinoid karena “sistem penghargaan” menjadi terpicu.

Untuk menguji teori tersebut, sebuah studi menelitinya pada kelompok tikus yang diberi “pola makan barat” dan kelompok lainnya diberi makanan rendah lemak dan gula.

Lebih dari enam puluh hari, tikus “pola makan Barat” dengan cepat mengalami kenaikan berat badan dan mengalami obesitas.

Tikus-tikus ini juga menunjukkan “hyperphagia”, artinya mereka mengonsumsi lebih banyak kalori dan porsi lebih besar dengan tingkat asupan lebih tinggi.

Tikus-tikus obesitas itu mengalami kadar endocannabinoid yang sangat meningkat di usus kecil dan peredaran darahnya.

Para peneliti mampu mengatasi efek tersebut menggunakan obat untuk menghalangsi aksi endocannabinoid.

Hal ini menyebabkan asupan makanan dan pola makan pada tikus obesitas menjadi normal ke level yang ditemukan pada tikus yang diberi makan rendah lemak dan gula.

Kendati dibutuhkan studi lebih jauh untuk melihat respon tersebut pada tubuh manusia, periset berencana selanjutnya meneliti bahan pola makan spesifik yang mungkin pada pola makan Barat yang memicu makan berlebihan.

“Kami tidak hanya menggunakan obat untuk memerangi obesitas. Jika kita dapat mencari tahu komponen dalam pola makan Barat seperti lemak dan gula yang menyebabkan makan berlebihan, mungkin kami dapat menerapkan bentuk intervensi diet dan memasukkannya dalam pola makan sehari-hari,” kata Dr DiPatrizio.

Rasa manis memang menyenangkan

Sebuah studi lainnya sulitnya diet dari makanan manis disebabkan tingginya toleransi  kita yang terbiasa mendapatkan makanan berlemak, gula dan garam.

Semakin banyak kita makan, semakin terbangun toleransi.

Hal itu membuat kita membutuhkan semakin banyak lemak, gula dan garam untuk mendapatkan “rasa” yang diinginkan.

Sebuah studi membuktikan, sangat mungkin untuk mengembalikan kecenderungan itu dan menenangkan keinginan untuk makan serba manis.

Studi-studi lain menemukan mungkin bagi kita untuk melatih kembali lidah agar menginginkan lebih sedikit garam dan jumlah makanan sama yang dapat diterima untuk merasakan kembali cukup asin.

Saat ini sebuah studi kecil yang diterbitkan di jurnal terbitan AS Clinical Nutrition menemukan bahwa pelatihan yang sama dapat mengurangi citarasa seseorang akan makanan dan minuman serba manis.

Penelitian itu merekrut dua puluh sembilan orang yang secara teratur minum paling tidak dua minuman manis sehari. Para sukarelawan ini diminta merating kemanisan beberapa puding dan minuman.

Lalu separuh dari sukarelawan mengurangi gula sampai 40 persen (mereka dapat melakukannya dengan makan atau minum apa pun yang diinginkan) dan membolehkan separuh sukarelawan lainnya melanjutkan pola makannya yang biasa.

Setelah tiga bulan, para sukarelawan penelitian yang didanai Monell Chemical Senses Center dan PepsiCo kembali makan apa pun yang diinginkan selama sebulan.

Para ilmuwan memonitor segala perubahan pada asupan gula mereka dengan meminta mereka merating puding dan minuman yang sedikit diberi pemanis.

Mereka yang menurunkan jumlah asupan gula selama penelitian secara konsisten melaporkan puding dan minuman dengan sedikit gula terasa lebih manis dibandingkan kelompok yang tidak mengurangi konsumsi gulanya.

Hal ini menunjukkan rasa atau toleransi terhadap gula sudah berubah setelah menguranginya.

Efek tersebut lebih kuat pada puding dibanding minuman. Ini terkait dengan perbedaan cara makanan padat dan cair diproses oleh tubuh kita.

Efek itu tidak akan hilang ketika mereka kembali makan apa pun yang mereka inginkan. Kelompok yang sudah mengurangi jumlah konsumsi gula kembali makan gula sebanyak yang mereka mulai dalam penelitian.

Selama studi juga ditemukan, mereka yang mengurangi gula tidak melaporkan perubahan kesenangan dalam mengonsumsi puding atau minuman manis.

Kesenangan dan “reward” merupakan salah satu faktor yang menurut sejumlah ahli ada hubungannya dengan pemilihan makanan.

Penemuan ini membuktikan kecanduan gula mungkin diatasi. Penelitian ini masih membutuhkan lebih banyak riset untuk membuktikan toleransi kita atau “rasa” terhadap makanan dapat disesuaikan.

Komentar