Durian Itu Tidak Mengandung Kolesterol?

Penulis: Darmansyah

Senin, 29 Januari 2018 | 15:08 WIB

Dibaca: 2 kali

Apakah Anda termasuk orang yang percaya durian tidak mengandung kolesterol?

Wauah. Gawat,.

Memang banyak masyarakat Indonesia yang takut mengonsumsi durian karena mengira bahwa buah berduri ini mengandung kolesterol.

Namun, hal tersebut dibantah oleh dr Diana Suganda SpGK, spesialis gizi dari Rumah Sakit Pondok Indah.

Melalui pesan elektronik, Diana memaparkan bahwa kandungan gizi dalam seratus gram daging durian adalah energi protein, karbohidrat dan kolesterol nol miligram.

“Jadi tidak benar, buah-buahan tidak mengandung kolesterol,” ucapnya.

Selain merupakan sumber karbohidrat, lemak, serat, dan protein yang baik; Diana juga berkata bahwa durian merupakan buah yang sarat zat gizi dan memiliki kandungan vitamin yang melimpah, yakni vitamin C, potasium, asam amino triptofan, asam folat, asam pantonetat, thiamin, riboflavin, niacin dan B6.

Bahkan, sekitar seratus  gram durian bisa memenuhi tiga puluh dua persen dari kebutuhan vitamin C harian orang dewasa.

Durian juga mengandung senyawa antioksidan, seperti asam kafeat, antosianin, dan quercetin; dan mineral penting, seperti zat besi, kalsium, magnesium, sodium, seng, dan fosfor.

Meski demikian, dikarenakan kandungan kalorinya yang cukup tinggi, Diana menyarankan masyarakat Indonesia untuk membatasi jumlah durian yang dikonsumsi.

Takaran saji yang direkomendasikan oleh spesialis gizi ini adalah seratus gram daging durian atau sekitar dua bulatan kecil durian medan bagi orang yang tidak mempunyai masalah kesehatan.

“Namun, hati-hati untuk durian monthong yang sangat besar bentuknya, satu bulatan saja bisa dua ratus hingga tiga ratus  gram sendiri. Silahkan hitung kalorinya,” katanya.

Sementara itu, orang-orang yang sedang berusaha menurunkan berat badan dan penderita gastritis sebaiknya berpikir dua kali bila ingin mengonsumsi durian.

“Di dalam lambung, durian akan mengalami fermentasi dan menghasilkan alkohol tinggi,” katanya.

Durian baik untuk meningkatkan energi, kekuatan otot dan tekanan darah, memperlancar buang air besar, dan menunjang kesehatan kulit.

Raja dari segala buah ini juga mendukung sistem saraf dan kekebalan tubuh, dan meningkatkan pembentukan sel darah merah.

Selain itu, tingginya kandungan protein dalam durian juga baik untuk orang-orang yang punya sindrom iritasi usus karena protein dari daging dan ikan dapat menyebabkan peningkatan risiko gejala IBS.

Kandungan kaliumnya yang tinggi juga bisa membantu mengurangi kelelahan, juga menghilangkan stres dan kecemasan.

Tapi awas, jangan sampai terlena dengan semua manfaat ini sampai Anda kebanyakan makan durian.

Buah durian dapat mengganggu kesehatan jika Anda mengonsumsinya secara berlebihan. Orang yang sudah kelebihan berat badan atau obesitas, juga orang-orang yang sudah punya tekanan darah tinggi penyakit jantung, dan diabetes dari awalnya sebaiknya lebih bijak dalam mengatur porsi durian mereka.

Apa saja bahaya durian untuk kesehatan?

Anda mungkin merasa sedikit sakit perut jika Anda kebanyakan makan durian sekaligus, terutama karena tingginya kandungan serat makanan yang cenderung menyebabkan perut kembung dan bersendawa pada orang yang sensitif.

Anda yang punya diabetes sebaiknya lebih waspada terhadap bahaya durian yang satu ini. Kebanyakan makan durian bisa membuat gejala diabetes Anda memburuk.

Durian mengandung gula sederhana  sehingga dapat meningkatkan kadar gula darah Anda.

Peningkatan ini pun nampaknya cenderung lebih tinggi dibanding buah “manis” lainnya, seperti pisang atau mangga.

Jika Anda sedang berdiet atau sedang mengontrol asupan kalori untuk menjaga berat badan, pesta panen durian di akhir pekan mungkin bukan keputusan yang tepat. Seperti yang telah disebutkan di atas, kalori dan karbohidrat yang terkandung dalam durian sangat tinggi.

Meski durian bukanlah satu-satunya tersangka utama dalam kenaikan berat di timbangan, asupan kalori berlebih dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko Anda memiliki berat badan berlebih, bahkan obesitas.

Pada gilirannya, berat badan berlebih yang tidak terkontrol dapat memicu Anda terserang penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, diabetes, stroke, Alzheimer, hingga gagal jantung.

Istilah mabuk durian pasti sudah tak asing lagi di telinga para penggemar buah berduri ini, karena katanya durian mengandung alkohol.

Bisik tetangga ini salah besar. Buah durian sama sekali tidak mengandung alkohol, sehingga tentu tidak akan bikin Anda benar-benar mabuk layaknya mabuk minuman keras.

Tapi akan lain ceritanya jika Anda makan buah durian sambil menenggak minuman keras.

Selain bikin mabuk (dari miras yang Anda minum), makan durian sambil minum minuman keras nyatanya bisa menyebabkan kram perut ringan sampai parah — keparahannya akan tergantung pada berapa banyak durian dan alkohol yang dikonsumsi.

Namun, bukan itu saja bahaya durian bagi kesehatan jika dimakan sambil minum minuman keras.

Kombinasi keduanya bahkan dapat menyebabkan kematian dalam beberapa kasus. Ini karena durian mengandung senyawa sulfur yang disebut dietil disulfida yang dapat menghambat kerja enzim aldehyde dehydrogenase dalam hati yang berfungsi untuk memecah alkohol.

Ditambah lagi, durian sudah tinggi kalori, jadi menambahkan alkohol akan membuat hal sulit bagi perut dan hati untuk mencerna makanan. Hal ini dapat menyebabkan gejala hangover yang berlebihan.

Kadar alkohol dalam darah yang gagal dipecah oleh tubuh karena dihambat oleh durian akan berubah menjadi sangat beracun.

Anda dapat menjadi sangat kebingungan, tidak responsif, mengalami pernapasan pendek, bahkan kehilangan kesadaran hingga koma. Selain itu, meski durian tidak mengandung kolesterol dan lemak jenuh, makan durian tetap bisa meningkatkan tekanan darah.

Kadar alkohol yang terlalu tinggi dalam tubuh bisa makin menyebabkan tekanan darah Anda melonjak di luar batas.

Hipertensi kemudian meningkatkan risiko Anda mengalami serangan jantung, stroke, atau gagal jantung kongestif.

Tingkat alkohol dalam darah yang melebihi batas wajar juga dapat melemahkan otot-otot jantung, yang juga akan mempengaruhi paru, hati, otak, dan sistem organ dalam tubuh lainnya.

Komentar