Dokter Inggris: Jangan Habiskan Antibiotik

Penulis: Darmansyah

Senin, 31 Juli 2017 | 15:48 WIB

Dibaca: 3 kali

Anda tentu pernah mendapatkan anjuran dari dokter untuk menghabiskan obat antibotik kala mengalami sakit adan menebus obat dari apotik

Namun begitu, dari sebuah studi yang dipublikasikan di British Medical Journal pada pekan lalu menyiimpulkan bahwa  manusia tidak perlu menghabiskan semua antibiotik yang diberikan oleh dokter karena tidak ada alasan “ilmiah”nya

Dalam studi tersebut, Martin Llewelyn dari Sussex Medical School menyatakan, anjuran untuk menghabiskan semua antibiotik yang diberikan oleh dokter tidak punya dasar ilmiah.

“Gagasan bahwa berhenti meminum antibiotik akan mengakibatkan resistensi tidak didukung bukti, malah minum antibiotik berkepanjangan-lah yang bisa mengakibatkan resistensi,” katanya.

Llewelyn menjelaskan, sejumlah bakteri memang akan menjadi resisten bila pasien tak mengonsumsi antibiotik dalam waktu cukup lama. Contohnya, bakteri penyebab tuberkulosis.

Namun menurutnya, bakteri-bakteri penyebab penyakit umumnya berada di sekitar manusia dan cuma akan memicu penyakit bila masuk ke aliran darah.

Llewelyn menambahkan, selama ini bahkan kalangan medis belum mengetahui betul dosisi antibiotik yang tepat untuk diberikan.

Penelitian waktu optimum pemberian antibiotik sulit dilakukan, apalagi bila pasien tidak dirawat secara intensif di rumah sakit.

Dengan demikian, Llewelyn menuturkan, pasien sebenarnya bisa menghentikan konsumsi antibiotik bila sudah merasa lebih baik.

Peter Openshaw, peneliti di British Society of Immunology yang tak terlibat riset mengungkapkan, “Saya selalu berpikir, tidak logis bahwa menghentikan konsumsi antibiotik lebih awal akan memicu resistensi.”

“Anggapan bahwa durasi konsumsi antibiotik membuat bakteri resisten kemungkinannya kecil,” imbuhnya seperti ditulis The Guardian, hari ini, Senin, 31 Juli

ohn Lindsay dari St George, University of London, mendukung hasil penelitian ini. Ia mengatakan, anjuran untuk menghabiskan antibiotik sebenarnya lebih didasari ketakutan daripada hasil studi ilmiah.

“Walaupun memang butuh studi lebih lanjut apakah ada pengecualian di mana konsumsi antibiotik lebih lama akan lebih bagus,” katanya.

Tanggapan berbeda datang dari Helen Stokes-Lampard, ahli dari Royal College. Menurutnya, anjuran bahwa pasien bisa menghentikan antibiotik saat sudah merasa lebih baik bisa memicu kesalahpahaman.

“Sebab, perbaikan tanda-tanda penyakit tidak selalu berarti infeksi sudah bisa diatasi oleh tubuh,” katanya mengingatkan.

Bagi Dame Sally Davies, dokter lain, pesan pada publik sebenarnya sama, yaitu pasien wajib mengikuti anjuran dokter.

Menurutnya, pembaharuan anjuran yang bisa berlaku umum baru dapat dilakukan setelah penelitian menunjukkan bukti-bukti lebih banyak.

Selain itu sebuah artikel di Medical Journal of Australia, Professor Gwendolyn Gilbert dari Universitas Sydney menuliskan yang dilansir theguardian mengatakan: “Ada kesalahpahaman umum bahwa resitensi akan muncul jika antibiotik yang diresepken tidak habis.”

Dia mengatakan ada risiko kecil jika antibiotik tidak dihabiskan jika tanda-tanda dan simptom dari infeksi ringan telah sembuh.

Professor Chris Del Mar, dari Fakultas Kesehatan Masyarakat di Universitas Bond di Queensland setuju dengan pernyataan itu.

Dia mengatakan untuk infeksi dada dan urin paling akut, dokter harus mengatakan pada pasien jika mereka harus berhenti minum antibiotik begitu mereka merasa baikan.

Hanya untuk beberapa kondisi seperti tuberkulosis atau osteomyelitis dan infeksi dalam lainnya di mana simptom dapat meningkat meski bakteria tetap berkembang, pasien dengan kondisi demikian harus terus meminum antibiotik sampai habis atau hanya jika dokter melarang. Orang-orang yang punya masalah dengan sistem kekebalan tubuh juga harus mengikuti anjuran dokter.

Namun apakah kebanyakan kita harus melawan anjuran medis selama berpuluh-puluh tahun itu dan berhenti minum antibiotik begitu merasa baikan?

Memang rumit. Tergantung Anda minum antibiotik karena apa. Gilbert mengatakan berhenti minum sebelum habis tak akan langsung meningkatkan risiko resistensi–yang umumnya terjadi pada pengobatan jangka panjang dan dosis suboptimal.

Dalam banyak kasus, tubuh kita dapat menyapu sisa-sisa bakteria. Dan sepanjang orang dengan infeksi saluran pernafasan tidak memerlukan antibiotik karena infeksinya bukan disebabkan oleh bakteri maka berhenti minum antibiotik benar-benar aman.

Antibiotik mengubah usus flora dengan sangat cepat-menyapu bakteri asli, bakteri tak berbahaya dan membuat pasien rentan terhadap bakteri resistan seperti Clostridium difficile.

“Jadi bagi pasien individual, semakin sedikit antibiotik semakin baik,” kata Gilbert.

Dokter meresepkan lamanya meminum antibiotik berbeda-beda, jangka lima hari untuk infeksi saluran kencing masih diberlakukan meskipun bukti menunjukkan tiga hari sebenarnya sudah cukup untuk infeksi yang tidak komplikasi.

Jadi, jika Anda diberi antibiotik, pertama-tama tanyakan dokter Anda apakah Anda benar-benar membutuhkannya, lalu tanya apakah Anda bisa berhenti jika sudah merasa sehat. Ini adalah pertanyaan yang terlalu rumi

Sebelum studi ini, penggunaan antibiotik memang seharusnya dihabiskan.

Namun, memang terkadang ada beberapa kondisi di mana antibiotik tersebut tidak boleh dihabiskan, misalnya timbul alergi setelah mengkonsumsi obat tersebut ataupun bila efek samping yang ditimbulkan lebih besar daripada efek terapi obat itu sendiri.

Jika memang Anda mengalami hal demikian, maka Anda dapat berkonsultasi kembali dengan dokter Anda. Antibiotik digunakan untuk membunuh bakteri penyebab penyakit.

Namun, antibiotik ada sangat banyak jenis dan golongannya, sehingga bila Anda tidak cocok terhadap salah satu jenis antibiotik, maka dokter dapat meresepkan antibiotik lain yang juga efektif terhadap bakteri yang menginfeksi Anda.

Penggunaan antibiotik yang sembarangan dapat menyebabkan bakteri tersebut akhirnya kebal terhadap antibiotik, sehingga bila nantinya bakteri tersebut menyerang kembali, maka pilihan antibiotik yang efektif semakin terbatas.

Waktu mengkonsumsi antibiotik juga tergantung dari jenis antibiotiknya.

Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, Anda dapat menanyakan hal ini pada dokter yang memberikan Anda obat dan tidak mengkonsumsi atau menghentikan antibiotik sembarangan. Anda juga dapat membaca efek dari konsumsi obat sembarangan pada artikel yang telah saya berikan di atas

Komentar