Diet Karbohidrat? Studi Bilang Sama Saja

Penulis: Darmansyah

Kamis, 22 Februari 2018 | 09:07 WIB

Dibaca: 0 kali

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam JAMA hari ini, Kamis, 22 Februari, mencampakkan perbedaan diet rendah karbohidrat tidak lebih efektif daripada diet rendah lemak terhadap tubuh..

Seperti Anda tahu, saat ini, diet rendah karbohidrat sedang menjadi tren

Pola makan ini dipercaya bisa menurunkan lebih banyak berat badan daripada pola makan lainnya.

Namun, studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association  atau JAMA menyebutkan bahwa diet rendah karbohidrat tidak lebih efektif daripada diet rendah lemak.

Professor Christopher Gardner dan tim peneliti dari University of Stanford, California merekrut enam ratusan pria dan wanita berusia delapan belas  sampailima puluh  tahun.

Para peneliti kemudian mengukur kadar produksi hormon insulin setelah partisipan meminum glukosa dengan perut kosong, dan mengurutkan DNA partisipan untuk mencari pola genetik yang akan diasosiasikan dengan protein yang memodifikasi metabolisme karbohidrat atau lemak.

Partisipan kemudian dibagi menjadi dua kelompok diet, yakni rendah karbohidrat atau rendah lemak, dan diminta menjalaninya dari April dua dan setahun lalu.

Kedua kelompok diminta untuk membatasi jumlah karbohidrat atau lemak yang dikonsumsi menjadi dua puluh gram selama delapan minggu terakhir.

Setelah dua bulan, mereka diperbolehkan untuk meningkatkan konsumsi lemak dan karbohidrat harian hingga mencapai batas yang dapat dipertahankan.

Setelah setahun berlalu, tim peneliti menemukan bahwa anggota kelompok rendah-lemak rata-rata mengonsumsi lima puluh tujuh gram lemak per hari, sedangkan mereka yang mengikuti diet rendah karbohidrat mengonsumsi seratus tiga puluh dua  gram karbohidrat per hari.

Baik kelompok rendah lemak maupun rendah karbohidrat rata-rata bisa menurunkan berat badan hingga lima koma sembilan kilogram.

Namun, mereka juga menemukan variasi yang luar biasa di mana berat badan satu partisipan bisa turun hingga dua puluh tujuh koma dua kilogram, sementara berat badan partisipan lainnya malah naik.

Dari hasil ini, tim peneliti berpendapat bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam hal perubahan berat badan di antara diet rendah lemak dengan diet rendah karbohidrat.

Mereka juga menulis, baik pola genotipe maupun sekresi insulin dasar tidak dapat diasosiasikan dengan efek pola makan terhadap penurunan berat badan.

Sebaliknya, para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang berhasil menurunkan berat badan di kedua kelompok memiliki kesamaan strategi, yaitu mengurangi konsumsi gula dan tepung halus, menambah asupan sayur, dan memprioritaskan makanan berbiji utuh yang diproses sesedikit mungkin.

Sementara itu, sebuah studi lainnya mengungkapkan bahwa diet medeternian mampu membuat tubuh kuat dan sehat saat usia tua

Para periset dari London memutuskan untuk meneliti jenis diet apa yang dapat memperbaiki masalah ini.

Tim ilmuwan melakukan peninjauan pada empat studi yang telah diterbitkan sebelumnya.

Studi itu mencakup data lebih dari lima ribu tujuh ratus orang dengan usia enam puluh tahun atau lebih yang tinggal di Perancis, Spanyol, Italia, dan China.

Seperti ditulis majalah dunia terkenal “Newsweek,”  temuan tersebut mengungkap bahwa orang yang menjalankan diet Mediterania akan memiliki tubuh yang lebih kuat di masa tua.

Diet Mediterania merupakan program diet yang mengikuti pola hidup sehat dari negara-negara yang berbatasan dengan laut Mediterania.

Diet Mediterania kaya akan kandungan sayuran, buah, kacang polong, kacang-kacangan, biji-bijian, dan ikan.

Selain itu, diet Mediterania mengandalkan campuran minyak zaitun dalam makanan. Dalam dietnya, dianjurkan untuk membatasi konsumsi daging merah.

“Orang-orang yang mengikuti diet Mediterania cenderung terhindar dari kerapuhan dibandingkan dengan mereka yang tidak mengikutinya,” ujar penulis studi Kate Walters.

Walters berkata penelitian yang dilakukannya bukanlah penelitian yang mencari sebab akibat. Penelitiannya ini bertujuan untuk menghubungkan diet dengan kerapuhan di masa tua dan faktor lain bisa jadi memiliki peran pada penurunan frailty syndrome seseorang.

Dalam penelitian lain yang telah dilakukan, diet mediterania disebut dapat memberikan manfaat kesehatan pada jantung dan menurunkan risiko kanker.

Diet Mediterania merupakan konsep diet, bukan berarti harus mengonsumsi makanan persis seperti orang-orang di wilayah tersebut.

Menurut diet Mediterania, prinsip makan sehat adalah lebih banyak sayur, buah, dan makanan olahan susu rendah lemak yang memiliki gizi tinggi, pembatasan lemak jenuh dan asupan garam.

Komentar