Dibanding Wanita Lelaki Itu Gampang Sakit

Penulis: Darmansyah

Kamis, 2 Maret 2017 | 09:44 WIB

Dibaca: 0 kali

Benarkah lelaki lebih gampang sakit di banding wanita?

Jawabannya?

“Iya,” tulis rubrik kesehatan majalah terkenal “time” edisi terbarunya.

Jawaban iya ini bukan berasal dari  teori populerbahwa  pria jadi lebih lemah dari wanita.

Bukti ilmiah saat ini masih jauh dari kepastian terhadap teori itu.

Namun sejumlah riset membuktikan sel-sel imun pria dan wanita bereaksi secara berbeda terhadap virus yang menyerbu.

Saat ini riset terbaru pada tikus menambah bensin terhadap kobaran api teori itu.

Riset ini menyimpulkan pria benar-benar lebih sakit ketika terserang penyakit tertentu. Faktor fisiologi, bukan psikologi menjadi penyebabnya.

Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Brain, Behavior and Immunity, tikus jantan dewasa memperlihatkan lebih banyak gejala penyakit daripada betina ketika terpapar bakteri yang menyebabkan penyakit dengan gejala sama dengan flu.

Tikus jantan pun memiliki lebih banyak fluktuasi suhu tubuh, demam dan tanda-tanda inflamasi dan butuh waktu lebih lama untuk memulihkan diri.

Studi-studi yang dilakukan pada hewan laboratorium tentu saja tak selalu dapat diterapkan pada manusia.

Namun, peneliti yang melakukan penelitian jender dan kekebalan tubuh mengatakan hasil penelitian ini menimbulkan pertanyaan menarik spesifik pada manusia pula.

“Studi-studi pada sel-sel manusia, juga pada tikus, menunjukkan sel kekebalan jantan memiliki lebih banyak reseptor aktif untuk patogen-patogen tertentu,” kata Sabra Klein, associate profesor mikrobiologi molekular and imunologi di Johns Hopkin Bloomberg School of Public Health.

“Tidak selalu keberadaan mikroba atau virus yang membuat kita sakit. Ini soal respon kekebalan tubuh dan riset membuktikan bahwa jantan memiliki respon meninggi yang mengumpulkan sel-sel ke tempat infeksi. Hal ini menyebabkan perasaan sakit,” katanya.

Hipotesis menyebutkan bahwa testosteron dan estrogen mempengaruhi respon kekebalan ini secara berbeda.

Penemuan baru pada tikus tidak mendukung kaitan antara hormon seks dan penyakit karena peneliti menghilangkan organ-organ reproduksi tikus dan masih melihat respon-respon berbeda tetapi penelitian lain menemukan hubungan keduanya.

Penelitian Klein pada dua tahun lalu pada sel-sel manusia, misalnya, menemukan senyawa berbasis estrogen membuat virus flu jadi lebih sulit untuk menginfeksi sampel.

Teori lain disodorkan dari studi tujuh tahun silam peneliti University of Cambridge bahwa pria berevolusi untuk memiliki sitem kekebalan lebih lemah dan rendah karena kecenderungan perilaku yang senang mengambil risiko.

Riset lain menemukan karena wanita lebih mudah membagi patogen kepada anak-anaknya, mereka kemudian membangun perlindungan alami lebih baik terhadap patogen.

Proteksi-proteksi ini tak meliputi semua jenis penyakit.

Di artikel yang diterbitkan di Nature Reviews Immunologi pada tahun lalu, Klein mencatat bahwa pria menunjukkan peningkatan kerentanan terhadap penyakit tertentu seperti kanker non reproduksi, wanita lebih rentan terhadap penyakit seperti autoimun.

Faktor lain pun berperan mengapa pria jadi lebih mudah sakit. Studi membuktikan pria lebih jarang mencuci tangan secara teratur. Jarang pula pergi ke dokter.

“Norma-norma budaya tentu saja mempengaruhi perilaku kita. Seperti ini merupakan kombinasi dari berbagai macam faktor berbeda,” kata Klein.

Sebuah penelitian lainnya juga mendapati, wanita kini menjadi rentan terhadap stres ketimbang pria akibat tuntutan karier dan mengurus keluarga sekaligus.

Para ahli mengatakan, tekanan di tempat kerja, merawat anak-anak, pekerjaan rumah tangga, dan pekerjaan yang tertunda merupakan sebab mengapa wanita menjadi lebih mudah stres.

Lembaga The Health and Safety Executive di Inggris mengatakan, stres memasuki fase puncak di kalangan wanita usia baya, ketika mereka harus “membereskan” urusan pekerjaan, anak-anak, maupun orang tua yang sudah berusia lanjut.

Konsultan psikiater Dr Judith Mohring mengatakan, “Tingkat stres yang tinggi bisa terjadi kepada siapa saja, tetapi terutama di kalangan wanita.”

Menurut Mohring, telah banyak pekerja yang absen pada hari kerja akibat stres yang mereka rasakan.

Penyebab stres paling umum di kalangan wanita adalah beban kerja, kurangnya dukungan dari pasangan tentang urusan anak dan rumah tangga, serta perubahan di tempat kerja.

Mohring menyarankan kepada wanita untuk mulai membagi beban mengurus keluarga dengan pasangan. Sebab, perasaan kurang didukung itulah yang dapat membuat stres kian memuncak.

Utarakan pula ekspektasi yang tak tercapai pada pasangan, sehingga tuntutan-tuntutan dapat diselesaikan secara bersama-sama.

Komentar