Dibanding Obesitas, Perut Buncit Lebih…..

Penulis: Darmansyah

Selasa, 7 Maret 2017 | 10:46 WIB

Dibaca: 0 kali

Pilih gemuk atau perut besar?

Sejujurnya, jawaban yang benar, dua-duanya nggak

Namun begitu, laman “shape,” dalam tulisan terbarunya mengutip Journal of American Geriatrics Society lebih memilih gemuk, atau obesitas.

Menurut tulisan itu, walau berat badan masih dalam kategori sehat, memiliki perut yang buncit ternyata bisa lebih berbahaya ketimbang obesitas.

Jangan senang hati dulu bila berat badan ideal tapi punya perut buncit.

Pada pria dan wanita, ini akan sama berbahayanya bagi kesehatan.

Perut buncit umumnya terjadi akibat timbunan lemak. Telah banyak studi yang mengaitkan antara timbunan lemak di perut dengan risiko kesehatan.

Namun studi yang dimuat dalam Journal of American Geriatrics Society pada Februari lalu berhasil menemukan, bahwa risiko perut buncit ternyata bisa lebih berbahaya ketimbang obesitas.

Memiliki banyak timbunan lemak perut dapat meningkatkan risiko kematian dini ketimbang orang yang kelebihan berat badan atau sedikit gemuk.

Penelitian yang melibatkan peserta multietnis ini menemukan, risiko tersebut ternyata tak memandang etnis dan usia, orang-orang dengan ukuran pinggang yang lebih besar berada pada risiko kematian yang lebih tinggi.

Studi menganalisis rasio pinggang-pinggul lebih dari lima belas ribu orang dewasa berusia delapan belas hingga sembilan puluhtahun dan menemukan orang dewasa di berat badan normal dengan perut buncit memiliki kelangsungan hidup jangka panjang terburuk, dibandingkan dengan kelompok yang kelebihan berat badan atau obesitas dengan lemak merata.

“Apa yang studi ini soroti adalah komposisi lemak dalam tubuh,” kata Shanna Levine, MD, instruktur penyakit umum di Mount Sinai School of Medicine di New York City, yang tidak terlibat dengan studi.

“Lapisan lemak yang lebih tebal di perut disebut sebagai faktor risiko sindrom metabolik, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Tetapi studi ini juga menyebutkan, bahwa itu dapat meningkatkan risiko kematian akibat kardiovaskular.”

Dr Levine menambahkan, penting untuk mengikuti prinsip-prinsip kunci dari kesehatan, yaitu makan dengan baik, mempertahankan berat badan normal, dan melakukan kegiatan fisik yang dapat membantu pengurangan penumpukan lemak.

“Jangan hanya terpaku pada berat badan saja, namun apa yang Anda lihat dari keseluruhan tubuh,” imbuhnya.

Perut buncit dikenal sebagai faktor risiko dari penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan diabetes mellitus  tipe 2.

Namun ternyata tidak hanya itu, sebuah penelitian terbaru menunjukkan pemilik perut buncit juga cenderung lebih cepat pikun.

Menurut penelitian yang dimuat dalam jurnal Cell Reports tersebut, orang yang membawa lemak yang banyak di perutnya tiga setengah kali lebih mungkin mengalami pikun daripada mereka yang tidak buncit.

Para peneliti menemukan, orang dengan perut buncit memiliki kadar protein lebih rendah, sehingga kontrol terhadap metabolisme lemak di hati pun cenderung rendah pula.

Protein tersebut dikenal dengan istilah PPARalpha yang berfungsi mengontrol metabolisme lemak di hati. Di samping itu, protein tersebut juga memiliki peran di pusat memori otak yang disebut hipokampus.

Para peneliti mencatat, orang yang kelebihan berat badan memang awalnya banyak kehilangan PPARalpha pada hati mereka, namun kemudian mereka juga kehilangan protein tersebut di seluruh tubuhnya, termasuk di otak.

Ilmuwan saraf di Rush University Medical Centre di Chicago bersama dengan National Institute of Health percaya temuan mereka dapat menjadi landasan pengembangan terapi baru bagi penderita demensia.

Dr Kalipada Pahan dari Rush University Medical Centre mengatakan, diperlukan pengetahuan lebih baik dalam memahami hubungan antara lemak dan kemampuan mengingat.

Dengan begitu, dapat dikembangkan pendekatan efektif untuk melindungi kemampuan mengingat dan belajar dari otak.

“Pada tikus, kekurangan PPARalpha dapat mengurangi kemampuan belajar dan mengingat, sementara suntikan protein tersebut ke otak dapat memperbaikinya,” ujar Pahan.

Kendati demikian, imbuh dia, metode menyuntikan PPARalpha tidak serta merta dapat langsung diterapkan pada manusia.

“Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk hal ini,” tegasnya.

Penelitian sebelumnya menunjukkan, merokok pasif, sleep apnea, minum alkohol, konsumsi narkoba, DM tipe 2, dan penyakit jantung merupakan faktor-faktor yang meningkatkan risiko demensia.

Komentar