Diabetes Sebabkan Tulang Kaki Melunak

Penulis: Darmansyah

Rabu, 28 Januari 2015 | 12:23 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda seorang penderita diabetes? Apakah Anda juga juga mengalami “charcot?”

Menurut situs kesehatan terkenal “health24” “charcot” atau penyakit pada kaki banyak dialami diabetes dan dapat menyebabkan kelainan permanen hingga amputasi, bila dibiarkan.

Kondisi ini dapat muncul pada sepertiga pasien dibates.

Kondisi ini disebut peripheral neuropathy.

Pada tahap awal, tulang di kaki melunak, bahkan rentan patah.

Gips dapat membantu memulihkan tulang dan alas kaki ortopedi spesial bisa melindungi kaki yang telah disembuhkan, kata para dokter.

“Masyarakat berpikir mereka tidak memiliki masalah karena mereka tidak merasa sakit.”

“ Setiap orang memiliki risiko neuropathy, termasuk para diabetesi,” kata Dr. Valerie Schade, dokter operasi kaki dan mata kaki di Washington, Amerika Serikat, seperti seperti di rilis “health24,” Rabu, 28 Januari 2015.

Memantau perubahan pada kaki adalah satu-satunya cara terpenting untuk mencegah kaki charcot.

“Siapa pun saat melihat perbedaan, merasakan ketidaknyamanan, pembengkakan atau kemerahan yang tidak jelas penyebabnya, atau perubahan bentuk kak, harus segera mencari perawatan yang benar,” kata Schade mengingatkan.

Menurut “health24” bahaya “charcot” ini sudah menyebar dan menghinggapi sepertiga dari penderita diabetes.

Bahkan sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism menunjukkan, bahwa masyarakat di negara berkembang cenderung memiliki tingkat risiko diabetes dan gangguan metabolisme yang tinggi.

Hal tersebut dikarenakan meningkatnya hormon stres, kortisol.

Hormon kortisol merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes terhadap seseorang dan begitu juga masalah metabolik lainnya.

Untuk mengetahui kebenaran teori ini, peneliti menguji penduduk pedesaan dan perkotaan satu kelompok-etnis, yaitu suku Ovahimba yang bermukim di Namibia, barat daya Afrika.

Di antara masyarakat perkotaan, dua puluh persen masyarakatnya mengidap diabetes atau kelainan metabolisme glukosa. Mereka juga memiliki kadar hormon kortisol yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan masyarakat pedesaan.

Salah satu peneliti, Peter Herbert Kann, dari Philipps University di Marburg, Jerman, mengatakan hormon kortisol masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan lebih tinggi daripada yang tinggal di daerah pedesaan.

“Temuan kami menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan gaya hidup pedesaan untuk tinggal di lingkungan perkotaan akan memiliki tingkat hormon kortisol yang lebih tinggi,” demikian seperti dilansir Khaleejtimes.

“Stres ini nampaknya memengaruhi peningkatan penderita diabetes di negara-negara berkembang,” pungkas Kann.

Untuk itu para ilmuwan juga menganjurkan kepada masyarakat dunia yang memiliki potensi diabetes untuk mengasup jagung daripada nasi dalam hal pemenuhan nutrisi.

Jagung dapat Anda konsumsi untuk menghindari efek negatif dari makanan berkarbohidrat tinggi yang dapat menaikkan tingkat gula darah.

Kandungan vitamin A dan B6, zat besi, folat, magnesium, fosfor, dan mineral lainnya, penting untuk pemenuhan nutrisi.

Diabetes terjadi apabila penyerapan gula darah ke tubuh terganggu. Diagnosis diabetes dapat diketahui saat kadar gula dalam darah berkisar di atas dua ratus mili gram per dL.

Bila karbohidrat atau makanan bersumber gula dikonsumsi terlalu tinggi, ini tentu akan memperparah kondisi diabetes Anda.

Karbohidrat bagaimana pun tetap diperlukan oleh tubuh. Namun, saat kadar gula terlalu tinggi dalam darah, yang perlu Anda lakukan adalah mengurangi masukannya. Di sinilah peran jagung sebagai pengganti nasi yang diketahui memiliki kadar karbohidrat tinggi.

Seperti dilansir dari Livestrong, Rabu, 28 Januari 2015, konsumsi jagung juga perlu dibatasi dalam setiap porsi makan.

Anda bisa menambahkan makanan bersumber lemak dan protein juga seperti saat memakan nasi. Kelebihan dari jagung adalah manfaatnya yang kaya serat dan nutrisi lebih yang terkandung di dalam jagung.

Komentar