Di New York, Kini, Ada Klinik Ganja

Penulis: Darmansyah

Jumat, 8 Januari 2016 | 15:24 WIB

Dibaca: 0 kali

Ganja dilegalkan?

Ya! Itu di NewYork, Amerika Serikat.

Tapi jangan salah kaprah. Sebab pelegalan ganja di New York hanya untuk pengobatan. Klinik.

Dan untuk Anda tahu pula, New York merupakan negara bagian kedua puluh dua di Amerika Serikat yang melegalkan penggunaan marijuana untuk keperluan medis, seperti untuk pengobatan kanker, AIDS dan penyakit kronis lainnya sesuai anjuran dokter.

Pembukaan klinik ganja di New York berjarak delapan belas bulan dari peresmian undang-undang Compassionate Care Act dari Gubernur Andrew Cuomo.

Dalam regulasi itu disebutkan pasien penyakit kronis boleh menggunakan ganja untuk meringankan gejala.

“Program kami memastikan ganja hanya digunakan untuk keperluan medis dan hanya diberikan pada pasien yang sudah tersertifikasi. Kami juga memastikan adanya pengawasan yang ketat untuk melindungi masyarakat umum,” kata Komisiner Kesehatan New York Dr. Howard Zucker, seperti ditulis “reuter, Jumat, 08 Januari 2016.

Di bawah program tersebut, New York memberikan izin pada lima instansi untuk memproduksi dan menjual ganja medis, yang hanya didistribusikan ke empat klinik khusus.

Keempat klinik tersebut dipastikan akan mulai beroperasi akhir bulan ini.

Adapun para pengguna ganja medis hanyalah mereka yang memiliki penyakit kronis dan terminal, termasuk kanker, HIV/AIDS, parkinson, serta epilepsi.

Kendati demikian, tidak seperti negara bagian lain yang melegalkan ganja.

Di New York, ganja medis tidak boleh dihisap, melainkan hanya dijual dalam bentuk cairan atau minyak untuk metoda uap. Dua jenis lainnya adalah inhaler dan kapsul.

Peraturan di New York juga melarang pasien menumbuhkan mariyuana mereka sendiri.

Selain itu, otoritas New York juga memberikan pelatihan wajib selama empat jam bagi para petugas medis, sebelum mereka punya ijin mensertifikasi pasien.

Program legalisasi ganja New York yang tergolong konservatif justru mendapat pujian dari para ilmuwan dan peneliti dunia kedokteran.

Dengan demikian, terbuka lebar celah penelitian untuk memeriksa efisiensi dan efektivitas ganja medis.

Meskipun begitu, New York dinilai terlalu membatasi tipe pasien yang diijinkan menggunakan ganja medis.

“Kami melihat hal ini sebagai langkah awal, belum langkah sepenuhnya, untuk mengambil manfaat kesehatan dan pengobatan dari cannabis,” kata Paul Armentano, wakil direktur National Organization for the Reform of Marijuana Laws.

Puluhan ribu orang memiliki masalah penggunaan ganja. Berdasarkan para ahli, mereka tidak mau mencari atau menerima bantuan.

Orang yang menjalani pengobatan masalah ganja jumlahnya sangat besar dari jumlah orang-orang yang bermasalah narkoba, dan jumlahnya semakin besar, menurut Ian Hamilton dari Universitas York.

Dan orang-orang yang menjalani pengobatan tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari jumlah total orang-orang yang bermasalah dengan ganja.

Sembilan dari sepuluh pemakai ganja tidak menjalani pengobatan karena takut atau tidak mau mencari bantuan atas ketergantungan mereka.

Memang, dibanding penyalahgunaan narkoba, mengidentifikasi gangguan psikosis karena pemakaian ganja lebih mudah, sehingga para penggunanya dapat diberikan pengobatan yang relevan.

“Banyak orang melaporkan ketergantungan dan mereka tidak mampu mengontrol penggunaan ganja,” kata Ian.

Dia berkata, pengguna ganja juga bermasalah dengan manajemen kemarahan. Mereka akan lebih mudah marah dan tidak mampu mengelola perasaan.

Menariknya, kata Ian, ada orang-orang yang bukan pengguna ganja klasik.

Orang-orang tersebut pada umumnya adalah para pekerja yang berjuang menjalani pekerjaan mereka.

Mereka memakai ganja pada dasarnya hanya mencari dukungan dan ide untuk bekerja.

Banyak pekerja menganggap pengobatan ganja sebagai hal yang kurang penting dibandingkan ketergantungan yang disebabkan obat-obatan keras.

Namun, ganja dapat menyebabkan masalah besar bagi mereka yang mengalaminya, di antaranya konsekuensi hukum, selain beban finansial.

“Ada budaya dalam masyarakat yang menganggap obat adiktif keras, seperti heroin dan kokain, sebagai masalah besar. Sementara ganja dilihat sebagai masalah kecil,” kata Ian.

Dia melanjutkan, para pengguna ganja sendiri tidak berpikir itu sesuatu yang butuh pengobatan, atau harus ditawarkan pengobatan.

“Ada situasi paradoks pada pengobatan pengguna ganja yang sudah sangat ketergantungan dan pekerja yang masih bibit pengguna ganja.”

“Kami menciptakan istilah ‘penikmat ganja’, seseorang yang sangat menyadari berbagai jenis ganja dan efek yang dihasilkannya, versus pengobatan untuk pasien.”

Ian mengatakan, salah satu cara untuk mengurangi masalah ini adalah dengan dekriminalisasi.
Dengan cara ini, para pengguna ganja akan cenderung mencari pengobatan dan menerima pengobatan.

Komentar