Depresi Yang Tak Diobati Bisa Merusak Otak

Penulis: Darmansyah

Selasa, 7 Agustus 2018 | 15:09 WIB

Dibaca: 0 kali

Menurut catatan National Institute of Health di Amerika Serikat, sejumlah delapan puluh persen orang yang mengalami depresi bisa sembuh dalam beberapa minggu dan bulan setelah menjalani pengobatan.

Sayangnya, di Indonesia sendiri kesadaran untuk mengenali gejala depresi dan pergi ke dokter spesialis kejiwaan atau psikolog masih sangat minim.

Akibatnya, banyak orang mengabaikan depresi begitu saja tanpa berobat atau berkonsultasi dengan tenaga ahli. Padahal, jika depresi tidak diobati, dampaknya bisa mengancam nyawa.

Perhatikan lima akibat depresi yang tidak diobati berikut ini.

Sejumlah penelitian terbaru membuktikan bahwa akibat depresi berkepanjangan dan tidak diobati adalah memicu berbagai jenis penyakit jantung. Mulai dari stroke, penyakit jantung koroner, hingga serangan jantung.

Depresi membuat seseorang lebih rentan terserang penyakit jantung karena adanya ketidakseimbangan hormon dalam darah. Saat depresi, otak terus-terusan menerima sinyal adanya ancaman.

Maka, otak pun melepaskan hormon stres yaitu adrenalin dan kortisol ke dalam darah.

Tingginya kadar kedua hormon tersebut meningkatkan tekanan darah, membuat detak jantung Anda tidak teratur, dan lama-lama merusak pembuluh darah.

Penelitian yang diterbitkan oleh Oxford University empat tahun lalu juga menguak bahwa orang yang mengidap depresi memiliki kecenderungan meninggal dunia lebih tinggi akibat penyakit jantung.

Terutama beberapa bulan setelah mengalami serangan jantung.

Bila depresi tidak diobati dengan tepat, Anda berisiko tinggi mengalami kecanduan. Baik itu kecanduan obat-obatan, minuman keras, rokok, atau judi.

Ini karena sebagian orang keliru dengan mengira hal yang menjadi candu bisa membantu mereka mengatasi gejala depresi. Misalnya rasa putus asa bisa hilang selama beberapa saat karena penggunaan narkoba.

Padahal, narkoba justru semakin menyebabkan kerusakan pada sirkuit otak dan sistem tubuh. Akibatnya suasana hati yang sejatinya diatur oleh otak pun jadi tambah kacau dan sulit dikendalikan.

Setelah efeknya habis, keputusasaan justru makin melimpah.

Sudah banyak riset yang mempelajari akibat depresi yang tak diobati pada otak.

Menurut dr. David Hellerstein, spesialis kejiwaan dari New York State Psychiatric Institute, depresi menyebabkan kelainan pada struktur otak di bagian hipokampus, korteks prefrontal, dan anterior cingulate.

Hal ini bisa mengakibatkan turunnya fungsi kognitif otak yaitu berpikir, berkomunikasi, mengambil keputusan, dan mengingat segala sesuatu.

Dalam beberapa kasus, depresi kronis yang tidak ditangani juga bisa memicu gangguan jiwa seperti skizofrenia, gangguan obsesif-kompulsif, dan gangguan bipolar.

Selain berbagai akibat depresi yang dibiarkan bagi kesehatan, hubungan Anda dengan orang-orang terdekat akan terganggu pula. Jiwa sosial manusia diatur oleh hormon serotonin.

Sementara itu, depresi membuat Anda kekurangan serotonin.

Akibatnya, Anda pun jadi lebih susah bersosialisasi dan menjalin hubungan yang baik dengan orang-orang terdekat seperti pasangan, anak, dan sahabat. Anda mungkin lebih memilih untuk menyendiri dan menjauhi keluarga.

Dilansir dari situs kesehatan WebMD, kira-kira delapan pulouh persen  orang yang bunuh diri menunjukkan gejala-gejala depresi.

Maka, depresi yang dibiarkan begitu saja lambat laun bisa meningkatkan risiko Anda meregang nyawa karena bunuh diri. Padahal, bunuh diri sangat mungkin dicegah apabila Anda atau orang terdekat minta bantuan ke tenaga kesehatan.

Pada pengidap depresi, bunuh diri bukanlah cara untuk mencari perhatian atau wujud balas dendam pada orang yang menyakitinya, melainkan lebih karena faktor biologis.

Maksudnya, gangguan jiwa serius yang dialaminya membuat otak kehilangan kemampuan kognitif untuk berpikir jernih dan menimbang pilihan. Ketidakseimbangan zat kimia dalam otak juga semakin memicu rasa putus asa, seolah-olah memang tak ada gunanya lagi melanjutkan hidup.

Bila Anda merasakan dorongan untuk mengakhiri hidup, segera minta bantuan orang terdekat serta tenaga ahli. Anda juga disarankan untuk berkonsultasi langsung dengan psikolog atau dokter spesialis kejiwaan.

Dampak buruk tersebut cukup sering terjadi karena banyak orang yang tidak terlalu peduli dengan penyakit mental yang satu ini.

Kebanyakan berpikir bahwa depresi bukanlah suatu penyakit dan akan sembuh dengan sendirinya.

Padahal, depresi termasuk penyakit mental yang berbahaya jika tak ditangani segera.

Maka itu, yuk mulai sekarang lebih peduli dengan kondisi mental ini. Anda bisa menunjukkan kepedulian dan mendukung kampanye tentang depresi dan penyakit mental dengan mengikuti acara Ribbon Run.

Komentar