Depresi Itu Bisa Jantungan Plus Stroke

Penulis: Darmansyah

Kamis, 14 Januari 2016 | 08:46 WIB

Dibaca: 0 kali

Anda galau?

Depresi?

Wah. Hati-hati. Sebab galau atau n depresi itu punya hubungan langsung ke penyekait jantung.
Dan, galau maupun depresi itu bisa menyerang siapa saja.

Bagi penderita jantung kasus galau dan depresi ini bisa meningkatkan kematian.
.
Sebuah studi yang dipublikasikanoleh para peneliti dari European Society Of Cardiology mengatakan, bahwa depresi berat bisa meningkatkan risiko kematian pada pasien dengan gagal jantung.

Bahkan, risiko tersebut bisa meningkat hingga lima kali lipat, sedangkan yang tidak depresi memiliki risiko kematian lebih rendah delapan puluh persen.

Depresi biasanya terjadi, karena kehilangan motivasi, kehilangan minat dalam kegiatan sehari-hari, kualitas hidup yang rendah, hilangnya kepercayaan, gangguan tidur dan perubahan nafsu makan dengan perubahan berat badan.

Sayangnya, depresi ini adalah hal yang sering dialami oleh kebanyakan pasien gagal jantung, dengan jumlah sekitar dua puluh persen hingga empat puluh persen dari total yang ada.

Sementara, pengobatan dengan pengobatan anti-depresan terbilang tidak efektif.

Peneliti justru menyarankan, pasien memilih penanganan dengan cara lain, seperti bimbingan konseling.

“Depresi adalah faktor berisiko untuk penyakit jantung dan kerap dialami oleh orang-orang yang memiliki penyakit jantung.”

“ Tiap orang yang mengalami kondisi kesehatan fisik jangka lama, seperti penyakit jantung, harus ditangani baik secara fisik dan psikologis secara bersamaan,” jelas Julie Ward, seorang perawat senior untuk pasien jantung dari British Heart Foundation.

Diperkirakan hampir tiga ratus empat puluh juta orang di seluruh dunia mengalami depresi.

Namun, tahukah Anda bahwa wanita lebih sering depresi dibandingkan pria?

Untuk depresi berat, perbandingannya mencapai tiga befrbanding satu.

Hasil tersebut berdasarkan sebagain besar penelitian yang menujukkan bahwa depresi terjadi pada wanita dua kali lebih banyak dibanding pria.

Ini berlaku di Amerika Serikat dan juga di kebanyakan masyarakat di seluruh dunia.

Ada beberapa faktor yang disebut menjadi penyebab mengapa jumlah wanita yang depresi lebih banyak dibanding pria, yaitu perubahan hormon pada saat hamil, menopause, dan periode pra-menstruasi.

Faktor-faktor itulah yang kemudian menyebabkan suasana hati terganggu.

Tidak hanya itu, pelecehan seksual atau fisik juga lebih sering terjadi pada wanita dan hal ini juga dapat menjadi penyebab tingginya angka wanita yang mengalami depresi.

Wanita juga dianggap lebih sering mengutarakan tentang perasaan depresi daripada pria.

Dan ketika wanita bermasalah dengan pasangannya pun, wanita cenderung mengalami depresi. Itulah alasan mengapa wanita lebih sering depresi dibandingkan pria.

Hasil studi yang dipublikasikan di Journal of the American Heart Association menyebutkan bahwa orang-orang dengan depresi berkepanjangan juga memiliki risiko stroke lebih dari seratus persen.

Menurut studi itu, selain memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe dua dan meninggal karena gangguan jantung, orang-orang depresi juga berisiko terserang stroke.

Orang-orang berusia loma puluhan tahun yang melaporkan gejala tetap depresi memiliki risiko stroke dua kali lebih tinggi.

Peningkatan risiko itu masih tetap ada, bahkan jika mereka sudah merasa lebih baik.

Masih belum jelas bagaimana tepatnya gejala depresi berkepanjangan itu bisa mengarah ke peningkatan risiko stroke.

Namun peningkatan risiko tampaknya melekat dalam waktu lama, bahkan setelah depresi pergi.

Penulis utama hasil studi itu, Paolo Gilsanz dari Harvard T.H. Chan School of Public Health, mengatakan sampai sekarang para peneliti belum bisa menyimpulkan apakah mereka yang sudah lebih lama bebas dari gejala depresi memiliki risiko stroke yang jauh lebih rendah.

“Untuk menilai itu kami butuh studi yang lebih besar,” katanya lewat surat elektronik seperti dilansir laman Time.

“Kami terkejut melihat bahwa perubahan gejala depresi tampaknya butuh lebih dari dua tahun untuk mempengaruhi risiko stroke,” kata Gilsanz.

Meski data-data itu menunjukkan bahwa menghilangkan gejala-gejala depresi tidak bisa segera meniadakan risiko stroke, mereka menekankan pentingnya penanganan dini dan menyarankan orang dengan gejala depresi menjaga kesehatannya.

Komentar