Depresi Bisa Mengundang Resiko Kanker

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 28 Januari 2017 | 08:48 WIB

Dibaca: 0 kali

Bila Anda ingin terhindar dari kanker jangan masuk dalam area depresi.

Area kecemasan

Sebab sebuah hasil penelitian menunjukkan orang yang mengalami depresi atau kecemasan lebih memungkin berisiko mengalami sejumlah jenis kanker.

Catatn media yang diberitakan kantor berita “afp”  lebih dari seratus enam puluh ribu orang dewasa di Inggris dan Wales,  mengalami stress dan di”jangkiti” penyakit kanker, terutama usus, prostat, dan pankreas.

Menurut penjelasan yang ditulis dalam jurnal BMJ, peneliti yang dipimpin oleh David Batty dari University College London mengatakan kanker darah dan kerongkongan juga diketahui lebih tinggi terjadi di kelompok mereka yang  sering stres.

Para peneliti berhati-hati menarik kesimpulan bahwa meski terbukti secara statistik namun belum tentu menunjukkan sebab-akibat antara kondisi psikologis dan kanker.

Namun temuan tersebut menambah bukti bahwa kesehatan mental dan fisik tidak bekerja secara terpisah dan peneliti mengatakan keduanya berkaitan satu sama lain.

Mereka mengambil contoh penelitian sebelumnya yang menemukan depresi kronis dan kecemasan mungkin menyebabkan penyakit jantung serta stroke.

Akan tetapi hubungan antara kedua hal, kondisi pikiran dan kanker, menimbulkan banyak hasil yang beragam.

Batty memimpin penelitian yang melibatkan data mentah dari enam belas studi jangka panjang. Kumpulan penelitian tersebut mencakup seratus enam puluh tiga ribu orang.

Peserta dipantau rata-rata selama satu dekade dan  di antara mereka meninggal karena kanker.

Peneliti mengamati beragam aspek seperti tekanan psikologis, gaya hidup, dan kejadian kanker.

Depresi diketahui mengganggu keseimbangan hormon hingga memicu produksi kortison alami sehingga menghambat perbaikan DNA.

Kedua hal tersebut melemahkan upaya tubuh melawan kanker.

Penelitian juga menemukan orang yang kerap bersedih lebih mungkin terjebak pada kebiasaan merokok, minum minuman keras, dan kegemukan. Semua kebiasaan tersebut tinggi dengan risiko kanker.

Terlepas dari faktor gaya hidup, peneliti menemukan orang yang mengaku depresi dua kali lebih mungkin meninggal karena kanker

Angka lukemia juga lebih tinggi pada orang jenis ini.

“Stres mungkin bisa jadi konsekuensi dari tahap awal keganasan dibanding sebagai sebuah prediksi yang potensial,” tulin peneliti.

“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan hubungan ini,”

Para peneliti menjelaskan, bila seseroang diketahui mengidap kanker, orang tersebut cenderung mengalami penurunan semangat hidup.

Sehingga, tim tidak dapat mengelak bahwa depresi juga bisa jadi akibat dari kanker, alih-alih berperan sebagai sebab penyakit.

Dalam tahun-tahun terakhir terdapat bukti yang kuat yang menunjukan adanya hubungan antara depresi dan kanker.

Peneliti medis telah mengetahui bahwa depresi berkaitan dengan  buruknya perbaikan

DNA yang rusak, dan menurunya proses apoptosis, atau kematian sel-sel yang merupakan gerbang menuju berkembangnya kanker.

Kebanyakan karsinogen atau zat penyebab kanker menyebabkan terjadinya kanker dengan cara merusak DNA yang ada di dalam sel dan menyebabkan terjadinya reproduksi sel menjadi tidak normal.

Itulah sebabnya sangat penting bagi tubuh untuk bisa tetap mempertahankan kemampuan memperbaiki DNA dan menghancurkan DNA yang rusak.

Apoptosis adalah proses yang menyebabkan  sel abnormal mati dan dibuang keluar dari tubuh.

Seperti yang telah dijelaskan di depan , hampir setiap orang punya sel kanker di tubuhnya, namun kita tidak kena kanker  karena apoptosis mengakibatkan sel-sel ini mati dan dikeluarkan dari tubuh sama seperti racun atau benda asing lain yang  masuk kedalam tubuh.

Apoptosis adalah cara tubuh yang paling penting dalam menekan  pertumbuhan sel kanker.

Depresi mengurangi aktivitas  sel pembunuh alamia), dengan demikian membuat tubuh menjadi leih sulit untuk menghancurkan dan menghilangkan sel-sel abnormal.

Sebagai tambahan stress mempegaruhi aktivitas sel pembunuh alamiah, mengurangi fungsi dari sel-sel ini dalam menghancurkan sel-sel tumor, juga sel-sel yang terinfeksi virus. Padahal depresi dan stres sangat berhubungan

Hampir setiap pasien kanker akan mengalami gejolak emosi saat mengetahui dirinya mengidap kanker. Sebaiknya segera diatasi karena tubuh Anda harus menghadapi sejumlah tantangan fisik. Depresi bisa menghambat proses kesembuhan pasien kanker.

Para pakar di University of Texas M.D Anderson Cancer Center berpendapat hal ini mungkin terkait dengan pengaturan hormon stres yang abnormal dan peradangan ekspresi gen.

“Temuan kami menunjukkan bahwa kesehatan mental dan sosial dapat mempengaruhi proses biologis, yang memengaruhi perkembangan kanker,” kata peneliti, Lorenzo Cohen, dalam sebuah rilis berita.

“Penelitian juga menunjukkan bahwa skrining untuk kesehatan mental harus menjadi bagian dari perawatan standar, bahkan untuk menghadapi penyakit yang bisa mengancam jiwa,” tambah Cohen.

Untuk membuktikan temuannya tersebut, para peneliti menganalisis survei yang diselesaikan selama jangka waktu lima tahun dengan melibatkan 217 pasien yang baru didiagnosis dengan kanker ginjal yang telah menyebar.

Para peserta diminta menjawab pertanyaan tentang bagaimana kehidupan agama dan spiritual mereka.

Mereka juga ditanya tentang gejala depresi, dukungan sosial, kualitas hidup dan cara mengatasi permasalahan. Selain itu, partisipan juga diminta sampel darah serta lima sampel air liur setiap hari selama tiga hari.

Para peneliti menggunakan sampel air liur untuk melacak perubahan kadar hormon kortisol, hormon stres yang biasanya tinggi di pagi hari.

Peneliti berasumsi bahwa depresi dapat menyebabkan kelangsungan hidup pasien lebih pendek.

Hasil kajian juga menunjukkan bahwa tingkat kortisol lebih tinggi dari biasanya terkait dengan kelangsungan hidup lebih pendek antara pasien kanker.

Dari sini, peneliti menyimpulkan bahwa hubungan antara kesehatan mental pasien dan waktu kelangsungan hidup sangat terkait dengan pengaturan gen inflamasi.

Cohen mengatakan, meski ada hubungan antara depresi dan kelangsungan hidup pasien kanker, hal itu tidak membuktikan hubungan sebab-akibat.

“Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki apakah pengobatan depresi dapat meningkatkan kualitas hidup pasien kanker dengan gangguan mood ringan, sedang atau berat,” ujar Cohen.

Komentar