Dengkur? Jangan Disepelekan

Penulis: Darmansyah

Senin, 16 September 2013 | 09:25 WIB

Dibaca: 3 kali

Jangan sepelekan dengkur. Itu yang selalu diingat para ahli kesehatan terhadap kebiasaan mendengkur. Menurut para ahli, dengkur bisa berakibat berhentinya kerja jantung, yang ujungnya kematian.

Selama ini banyak orang menganggap dengkur hanyalah sebagai sebuah rutinitas tidur yang dialami oleh setiap orang dalam usia setengah baya atau usia tua. Kebiasaan mendengkur merupakan bagian dari kehidupan ketika usia bertambah.

Gangguan henti napas saat tidur atau sleep apnea yang ditandai dengan mendengkur harusnya tidak dianggap sepele. Sleep apnea dapat berakibat gangguan kesehatan yang lebih serius seperti penyakit jantung.

Sebuah studi berskala kecil baru-baru ini menemukan, pengobatan sleep apnea tak hanya meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan, tetapi juga membantu membuat penderitanya berpenampilan lebih menarik.

Sleep apnea terjadi pada jutaan orang dewasa. Gejalanya ditandai dengan mendengkur dan gangguan bernapas selama tidur. Selain penyakit jantung, penderita sleep apnea juga mengalami peningkatan risiko kecelakaan di siang hari.

Dalam studi ini, para peneliti melakukan analisa terhadap 20 pasien sleep apnea berusia paruh baya. Penampilan wajah mereka dinilai sebelum menjalani pengobatan dengan terapi continuous positive airway pressure . Alat tersebut membantu jalur udara terbuka dengan memberikan tekanan udara melalui masker yang dipakai selama tidur.

Menurut studi yang dipublikasi dalam Journal of Clinical Sleep Medicine tersebut, perbaikian penampilan wajah pasien disadari beberapa bulan setelah mereka menggunakan CPAP. Perubahan tersebut meliputi wajah yang terlihat lebih muda, menarik, serta berkurangnya keriput dan bercak merah di wajah.

“Secara umum, pasien sleep apnea terlihat seperti mengantuk, mata bengkak dengan lingkaran hitam di sekitarnya,” ujar Dr Ronald Chervin, ketua studi sekaligus ahli saraf dari Pusat Gangguan Tidur University of Michigan.

Namun setelah menjalani pengobatan, imbuh Chervin, pasien yang menjadi terapi CPAP kebanyakan mengalami perubahan penampilan menjadi lebih baik. Namun belum ada studi yang mengkaji tentang hal ini.

Yang menarik, perubahan yang dialami pasien bukan pada bagian wajah yang identik dengan mengantuk seperti lingkaran hitam atau bengkak di sekitar mata.

Kendati demikian, para peneliti mengatakan temuan tersebut perlu dibuktikan dalam studi dengan skala yang lebih besar. Mereka pun berencana untuk memberlakukan kebijakan pada tenaga kesehatan untuk selalu mencatat perubahan-perubahan apa saja yang terjadi pada pasien yang menjalani terapi CPAP.

Mengatasi sleep apnea atau gangguan henti napas sementara saat tidur dapat dilakukan dengan menggunakan terapi alat continuous positive airway pressure selama tidur. Seringkali menurunnya kesadaran saat tidur meningkatkan kemungkinan alat ini tidak terpasang dengan baik seperti saat akan tidur. Hal ini akan mengakibatkan terapi CPAP tidak efektif.

Namun ternyata hal tersebut dapat diatasi dengan konsistensi jam tidur. Sebuah studi baru mengungkap tidur di jam yang konsisten setiap harinya bisa membuat CPAP terpasang cenderung lebih lama dibandingkan dengan tidur di jam yang tidak konsisten.

Para peneliti membandingkan dua kelompok peserta dengan total 97 orang. Mereka menjalani terapi CPAP untuk mengatasi problem sleep apnea mereka. Kelompok peserta pertama memulai tidur di jam konsisten dengan rentang waktu 45 menit atau kurang. Sementara kelompok lainnya memulai tidur di rentang waktu 65 menit atau lebih.

Studi ini mengungkap setiap penambahan 30 menit waktu memulai tidur terjadi peningkatan kemungkinan CPAP lepas sebanyak 1,8 kali. Studi ini dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Associated Professional Sleep Societies di Baltimore, Amerika Serikat.

Setelah satu bulan menjalani terapi, pasien dengan waktu mulai tidur yang bervariasi 75 menit atau lebih setiap malamnya ditemukan lebih sebentar memakai CPAP. Mereka memiliki kemungkinan 3,2 kali lebih besar untuk hanya menggunakan CPAP kurang dari dari 4 jam.

Penulis studi Amy Sawyer, profesor keperawatan mengatakan, tidak seperti terapi lainnya, terapi CPAP menambah kompleks rutinitas sehari-sehari pasien. Maka menggunakan CPAP merupakan kebiasaan yang harus dipelajari agar dapat dijalani secara rutin.

“Langkah selanjutnya yaitu dengan menentukan cara untuk membantu pasien sleep apnea untuk memasukan kebiasaan memakai CPAP ke dalam rutinitas mereka. Kemudian mengidentifikasi faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kepatuhan pasien menjalani terapi CPAP,” tutur Sawyer.

Lantaran studi ini baru dipresentasikan di pertemuan tahunan, maka data yang tertera merupakan data sementara. Selanjutnya, data yang akurat akan dimuat dalam jurnal.

Komentar