Delima Obat “Hebat” untuk Alzheimers

Penulis: Darmansyah

Senin, 21 Desember 2015 | 10:36 WIB

Dibaca: 0 kali

Jangan mengkhawatir dengan Alzheimer.

Paling tidak, itulah yang ditulis dari hasil sebuah studi baru di jurnal ACS Chemical Neuroscience mengidentifikasi sebuah senyawa tertentu terbentuk ketika tubuh berinteraksi dengan ekstrak delima, yang menurut para peneliti dapat membantu melawan Alzheimer.

Studi itu mengaitkan delima dengan penurunan risiko berkembangnya penyakit Alzheimer yang baru saja diujicoba klinis terhadap hewan.

Untuk studi tersebut, ilmuwan mengisolasi dan mengidentifikasi dua puluh satu senyawa yang umumnya polifenol molekul berbasis tumbuhan dengan sifat antioksidan dari ekstrak delima.

Mereka menemukan polifenol tak dapat menyeberangi pembatas darah dan otak, tapi senyawa yang disebut urolithin, dapat.

Urolithin adalah antiinflamasi yang terbentuk ketika bakteri usus kita memecah polifenol yang ada dalam ekstrak buah delima.

Inilah mengapa kemampuan menyeberangi pembatas darah otak demikian penting, karena penyakit Alzheimer dihubungkan dengan protein amyloid yang membentuk gumpalan di otak.

Untuk mencegah pembentukan gumpalan tersebut, sebuah molekul harus melintasi pembatas darah otak, yang dapat dilakukan urolithin.

Peneliti juga menguji urolithin pada cacing gelang dalam tubuh pengidap Alzheimer dan menemukan urolithin meningkatkan umur cacing.

Menurut Asosiasi Alzheimer, penyakit Alzheimer adalah satu-satunya dari sepuluh penyebab kematian di Amerika yang dapat dicegah, diobati, atau diperlambat lajunya.

Penelitian sebelumnya juga sudah menyebut efek delima memerangi Alzheimer.

Studi dua tahun silam yang dipublikasikan di Journal of Nutrition menemukan bahwa ekstrak delima membantu mengurangi kerasnya gejala penyakit Alzheimer pada hewan pengerat.

Penelitian yang dipublikasikan jurnal Molecular Nutrition & Food Research pada setahun lalu menemukan bahwa punicalagin, senyawa lain yang ditemukan dalam delima, dapat membantu mengurangi laju Alzheimer dengan mengobati peradangan otak.

Peneliti mengatakan dibutuhkan lebih banyak tes lagi untuk menentukan apakah urolithin dapat membantu mencegah atau mengobati penyakit Alzheimer pada manusia.

Sementara itu para peneliti di Biomedical Neuroscience Institute Chile percaya mereka bisa secara dini memprediksi tahap awal demensia dan penyakit kejiwaan lainnya, melalui pemeriksaan pola pergerakan mata serta aktivitas elektrik otak.

Para ahli syaraf itu mempelajari cara pasien dalam menavigasi lokasi virtual, dimana mereka harus menemukan ‘kunci’ untuk menyelesaikan tugas.

Pemimpin studi, ahli neurologi Enza Brunetti mengatakan tes tersebut bisa mendeteksi gangguan kognitif tahap awal, bahkan pada pasien yang tidak menunjukkan gejala alzheimer sekalipun.

Diagnosis dini alzheimer tidak hanya akan membantu pasein dan keluarga mereka merencanakan masa depan dengan lebih baik, juga menawarkan kesempatan memperlambat gejala dengan pengobatan serta terapi.

Selain temuan mengejutkan itu, risiko berkembangnya penyakit Alzheimer bisa juga diubah dari sikap Anda tentang penuaan.

Studi terbaru dari Yale School of Public Health menganalisis hubungan antara pikiran negatif terhadap penuaan dan berkembangnya penyakit Alzheimer

Seperti dilansir Yahoo Healt,, para peneliti menganalisis sikap orang sehat terhadap penuaan.
Mereka berpartisipasi dalam Studi Longitudinal Penuaan Baltimore.

Mereka diminta menimbang-nimbang pernyataan seperti ‘orang-orang tua linglung’ atau ‘orang-orang tua punya masalah dalam mempelajari hal baru’.

Para ilmuwan menemukan kelompok yang memiliki lebih banyak pikiran negatif tentang penuaan memiliki penurunan volume hippocampus lebih besar.

Yakni daerah di otak yang penting untuk mengingat. Penurunan volume inilah yang jadi indikator penyakit Alzheimer.

Kelompok ini juga punya angka signifikan untuk dua lagi indikator Alzheimer: plak amyloid atau protein yang membentuk sel-sel antarotak)dan simpul neurofibrillary atau dikenal dengan simpul jaringan protein yang membentuk sel-sel antara otak.

Peneliti mengatakan studi tersebut adalah yang pertama menemukan hubungan antara perubahan otak berhubungan dengan penyakit Alzheimer ke faktor risiko psikososial.

Menurut Asosiasi Alzheimer, penyakit ini termasuk sepuluh tertinggi penyebab kematian yang tak dapat dicegah, diobati, atau diperlambat.

Namun seberapa mengkhawatirkannya faktor penuaan ini?

Peneliti menunjuk stres sebagai faktor potensial. Ahli penyakit Alzheimer, Richard Caselli, MD, seorang neurolog di Mayo Clinic di Phoenix, Arizona, Amerika Serikat mengatakan, ada lebih banyak hal yang berimbas ke Alzheimer dibanding sekadar stres.

Karena genetika dikenal luas sebagai faktor risiko penyakit ini, Caselli mengatakan kekhawatiran bisa menjadi risiko penentu.

Meski begitu, lanjutnya, ada sebuah kaitan yang diketahui luas cenderung lebih menggelisahkan, yakni pola makan buruk dan tak berolah raga.

Mengkonsumsi makanan sehat dan berolahraga teratur dapat membantu mengurangi risiko pikun.

Namun Clifford Segil, DO, seorang neurolog di Pusat Kesehatan Providence Saint John, California mengatakan hubungannya belum kita pahami.

“Ada hubungan pikiran-tubuh yang belum dapat didiagnosis atau dipahami pengobatan modern,” ujarnya.

Untuk sementara, Segil menyodorkan nasihat berikut, “Semua orang khawatir menjadi tua, tapi kita harus lebih optimistis ketika nanti tua, pengobatan modern akan mampu merawat kita.”

Komentar