Darah Tinggi Bisa-bisa Hemodialisa

Penulis: Darmansyah

Jumat, 15 November 2013 | 14:32 WIB

Dibaca: 16 kali

Kemarin sore saya diberitahu, istri teman sekolah saya, sebutlah nama Nona, kritis di rumah sakit dan menjalani cuci darah atau hemodialisa, yang lebih dikenal dengan bahasa awan “dialisis.” Saya tahu, sejak empat tahun terakhir sang istri rutin menjalani cuci darah “dwi mingguan.”

Kali ini, kata sang penelepon, istri sang sohib saya itu mengalami komplikasi. Sebab sejak cuci darah tensinya tak pernah turun dan kini jantungnya mengalami “gangguan.”

Cuci darah yang dijalani oleh istri sang teman, menurut pengakuannya, akibat sakit ginjal kronis yang ia alami sebelumnya.

Sebelum terkena gagal ginjal, juga menurut penjelsannya, ketika kami bertemu disebuah kesempatan kongkow, di sati kafe lokal, ia menderita hipertensi. “Tekanan darah tingginya sering melampau angka 200. Tetapi ia menyebabkan ia sakit, dan hanya merasakan sesekali kepala saya sakit. Dan itu pun ia atasi dengan minum obat generik yang memang ada di kotak obat di rumah,” katanya.

Memang banyak pasien lain yang mengalami pengalaman hampir sama dengan cerita sang sohib. Bahkan akibat hipertensi, lalu tiba-tiba ada yang mengalami stroke, serangan jantung dan sebagainya.

Tak heran bila hipertensi diberi label the silent killer. Hipertensi diibaratkan pencuri yang mengendap-ngendap masuk ke dalam rumah, menguras barang-barang berharga. Kita baru sadar ketika barang milik berharga itu hilang dan kita sangat memerlukanya.

Begitu juga dengan istri sahabat saya diatas. Hipertensi menyebabkan dia kehilangan ke dua ginjalnya. Secara fisik ginjal itu masih ada, tetapi tidak berfungsi lagi. Ginjal itu tak berkerja lagi sebagaimana Tuhan sudah merancangnya, membersihkan sampah-sampah sisa pembakaran dalam tubuh, menjaga keseimbangan kimiawi, cairan tubuh, memproduksi hormon, dan lain-lain.

Nah, bayangkan kalau ginjal sudah seperti itu, tak bisa menyaring cairan, membersihkan darah, memproduksi urin, maka air akan menumpuk dalam tubuh kita. Akibatnya tekanan darah akan semakin tinggi, jantung akan membesar, mengalami kelelahan, tubuh pun akan membengkak.

Sebelum mesin hemodialisa yang berkerja menggantikan fungsi ginjal ini ditemukan, saya teringat di Indonesia baru ada di tahun 1980-an di rumah sakit tertentu, pasien-pasien penyakit ginjal kronis tahap akhir, atau gagal ginjal ini tidak berapa lama setelah diagnosis ditegakkan, biasanya akan meninggal.

Saya teringat teman karib saya Haji Di Moerthala, bekas tokoh sepakbola Aceh yang namanya diabadikan menjadi nama Stadion Di Moerthala di Lampineung, yang juga mengalami gagal ginjal harus melewati masa “dialisis”nya di Rumah Sakit Sint Elizabeth di Medan atau Rumah Sakit Sint Carolus di Jakarta. Dan terkadang juga ke Mont Elizabeth di Singapura.

Syukurlah dengan perkembangan teknologi, penderita gagal ginjal yang menjalani hemodialisa, dalam batas-batas tertentu, kualitas kehidupannya bisa lebih baik. Sayangnya disamping memerlukan biaya mahal, aksesnya masih sulit, ginjal buatan itu tidak pernah akan sama dengan ginjal ciptaan Tuhan.

Kemudian, “kenapa pasien di atas, atau kebanyakan pasien lainnya baru sadar, setelah jatuh dalam kondisi, penyakitnya sudah lanjut, harus menjalani hemodialisa?” Salah satu jawabannya adalah, bahwa penyakit ginjal kronis, seperti hipertensi juga tidak memberikan gejala yang khas pada awalnya.

Penurunan fungsi ginjal sampai enam puluh persen saja kadang-kadang tidak menimbulkan gejala. Keluhan-keluhan akibat uremia seperti letih, mual, muntah, tidak ada nafsu makan sering dirasakan pasien, pada saat fungsi ginjal sudah sangat menurun.

Oleh sebab itu, yang perlu diwaspadai adalah faktor risiko penyakit ginjal kronis itu. Faktor resiko itu, disamping hipertensi, adalah diabetes mellitus, batu ginjal, obat-obatan tertetentu- terutama penghilang nyeri, obat rematik, jamu, beberapa herbal– penyakit glomerulus ginjal, infeksi ginjal, tumor dan lain-lain.

Karena itulah, kalau kita mempunyai faktor risiko ini, maka seharusnya dikendalikan dengan baik. Seperti hipertensi, tensi pun harus terkontrol sampai kurang dari 140/90 mm Hg, diabetes, gula darah puasa kurang dari 140 mg/dl, dan 2 jam setelah makan kurang dari 180 mg/dl. Bila anda ada batu ginjal, infeksi saluran kemih, jangan dibiarkan saja.

Selain itu, untuk melihat adanya gangguan fungsi ginjal, secara sederhana sebenarnya dapat dilihat dari urin kita. Jumlah urin yang bertambah atau berkurang dari biasanya, sering buang air kecil malam hari, urin berbusa-buih karena mengandung protein atau adanya darah dalam urin, merupakan tanda penyakit ginjal yang mungkin kita alami. Sayangnya, kebanyakan kita tidak menyadarinya.

Untuk itu, sebenarnya pada mereka yang mempunyai faktor risiko penyakit ginjal kronis, sebaikya dilakukan pemeriksaan sederhana untuk melihat adanya protein, dan sel darah merah dalam urin. Dalam keadaan normal itu tidak ada, tetapi pada gangguan fungsi ginjal, protein dan sel darah merah akan didapatkan dalam urin, karena ginjal tidak bisa menyaringnya.

Jadi, hipertensi tak hanya mengancam jantung dan otak saja. Ginjal anda juga dapat dirusaknya. Karena itu jangan abaikan, kendalikanlah dengan baik. Bila tidak, kemungkinan anda menjalani hemodialisa seperti pasien di atas dapat terjadi. Dan ingat, bahwa di Amerika Serikat sekitar 30 dari mereka yang mengalami hemodialisa adalah karena hipertensi, sementara di Indonesia sekitar 10 dari 100 pasien.

Komentar