Dampak Sindrom Patah Hati Itu Kematian

Penulis: Darmansyah

Rabu, 4 Januari 2017 | 09:05 WIB

Dibaca: 0 kali

Sindrom patah hati makin menegaskan kebenaran dampaknya, yaitu kematian.

Benarkah?

Paling tidak, itu dibuktikan lewat kasus kematian aktris Debbie Reynolds yang  cukup mengejutkan banyak pihak.

Kematiannya hanya berselang satu hari setelah kematian putrinya, aktris Carrie Fisher.

“Kasus ini makin membenarkan sindrom patah hati,” tulis laman situs “livescience.”.

Fisher, pemeran Princess Leia dalam film Star Wars itu meninggal pada akhir  Desember setelah terkena serangan jantung.

Sedangkan Reynolds dinyatakan meninggal karena stroke keesokan harinya

Kematian seseorang yang sangat disayangi pasti menyisakan duka mendalam. Sebelum terserang stroke, Reynolds sempat mengungkapkan rasa rindunya kepada putrinya yang telah tiada.

“Aku sangat merindukannya. Aku ingin bersama Carrie,” ucap Reynolds seperti dikutip dari TMZ.

Lantas, apakah patah hati atau rasa sedih yang mendalam bisa berujung pada kematian?

Dalam sebuah studi pada dua tahun lalu yang dipublikasikan di jurnal JAMA Internal Medicine menunjukkan, kematian pasangan yang disayangi memang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk terkena serangan jantung atau stroke pada bulan berikutnya.

Para peneliti menemukan, seseorang yang lebih tua akan dua kali lebih mungkin terkena serangan jantung atau stroke dalam kurun waktu 30 hari setelah kematian pasangannya.

“Sindrom patah hati itu ada dan nyata,” ujar asisten kepala psikiatri di Zucker Hillside Hospital New Hyde Park, New York, Dr Scott Krakower.

Sindrom patah hati dikenal juga dengan istilah stress-induced cardiomyopathy dan takotsubo cardiomyopathy.

Menurut American Heart Association, sindrom patah hati bahkan bisa saja terjadi pada seseorang yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung sebelumnya.

AHA memaparkan, sindrom patah hati terjadi ketika sebagian otot jantung membesar dan tidak dapat memompa darah dengan baik.

Akan tetapi, sebagian kondisi jantung lainnya masih bisa berfungsi normal atau bekerja lebih keras.

Kondisi tersebut bisa membuat detak jantung tidak teratur atau malah menjadi terlalu lemah untuk bisa memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya, darah tidak bisa mengalir ke seluruh tubuh dan memicu kematian.

Gejala sindrom patah hati mirip dengan serangan jantung, seperti nyeri dada dan sesak napas.

Bedanya adalah orang yang terkena sindrom patah hati belum tentu mengalami kerusakan jantung atau ada sumbatan pembuluh darah di jantung.

Krakower menjelaskan, sindrom patah hati diduga menyebabkan masalah kesehatan karena tingkat hormon stres yang berlebihan setelah patah hati.

Menurutnya, tidak jelas berapa banyak serangan stroke akibat sindrom patah hati. Tetapi, dalam literatur yang ada terdapat beberapa kasus yang pernah dilaporkan.

Krawoker pun meminta siapa pun yang kehilangan seseorang yang dicintai untuk mengungkapkan perasaan sedihnya, jangan memendamnya di dalam hati.

Apabila mengalami masalah kesehatan pada tubuh setelah kehilangan seseorang yang dicintai, pergilah ke dokter untuk menjalani pemeriksaan kesehatan tubuh.

Dalam sebuah studi lainnya  di Denmark, kasus patah hati akan berdampak pada gangguan jantung

Dampaknya pun bisa menetap.

Orang yang kehilangan orang tercintanya empat puluh satu persen akan mengalami gangguan irama jantung satu bulan setelah kematian pasangannya.

Risiko itu paling besar pada orang berusia muda dan kematian pasangannya terjadi mendadak atau tak terduga.

Para peneliti sudah sejak lama mempelajari fenomena yang disebut kardiomiopati stres atau sindrom patah hati, yaitu kejadian stres berat, misalnya kematian pasangan, dan bisa menyebabkan seseorang mengalami gejala mirip serangan jantung.

Gejala itu meliputi napas pendek-pendek dan nyeri dada, tetapi tidak terjadi penyumbatan pembuluh darah.

Para ahli menduga, gejala itu dipicu oleh hormon stres yang disebabkan oleh kejadian emosional.

Peningkatan kadar hormon stres ini bisa menyebabkan inflamasi dan juga ketidakseimbangan yang tak terkendali pada bagian sistem saraf.

Sebelumnya, sindrom patah hati dianggap  kondisi langka yang menyebabkan gangguan pada jantung.

Umumnya, sindrom patah hati disebabkan oleh stres dan peristiwa emosional yang menyedihkan.

Namun, menurut penelitian terbaru di Eropa, sindrom patah hati dapat terjadi ketika seseorang mengalami peristiwa bahagia dan emosi positif.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan pencitraan jantung, peneliti menemukan banyak kesamaan kondisi jantung saat “hati senang” dan “patah hati.”

Penelitian selanjutnya pun akan melihat interaksi antara otak dengan kondisi jantung. Sebab, hingga saat ini belum jelas bagaimana kondisi emosional seseorang dapat melemahkan otot jantung.

Hipotesis dari Mayo Clinic menyebutkan, lonjakan hormon stres barangkali menjadi pemicu kerusakan pada jantung bagi beberapa orang.

Menurut European Heart Journal, sindrom patah hati, yaitu melemahnya otot jantung secara mendadak dan bersifat sementara.

Sindrom ini kebanyakan dipicu oleh emosi negatif seperti kemarahan, ketakutan, kecemasan, hingga kesedihan.

Komentar