Dahsyatnya Manfaat Kunyit Bagi Kesehatan

Penulis: Darmansyah

Kamis, 9 Agustus 2018 | 09:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Siapa yang tak mengenal kunyit? Bumbu masak yang satu ini sangat akrab bagi masyarakat Indonesia.

Selain sebagai bumbu masak, kunyit juga dikenal sebagai bahan masakan yang punya fungsi obat.

Mulai dari diabetes, radang sednri, kebotakan, disfungsi ereksi, hingga kanker disebut bisa diobati dengan kunyit.

Menurut Pusat Kesehatan Nasional AS, ada lebih dari 15.000 manuskrip tentang bahan aktif dalam kunyit yaitu kurkumin.

“Kunyit benar-benar mempunyai sifat mirip panasea  dalam hal-hal yang sedang dipelajari dan dilaporkan berguna,” ungkap D Craig Hopp, wakil direktur Divisi Penelitian Ekstramural di Pusat Kesehatan Nasional AS

Ada banyak penelitian yang sedang dilakukan tentang kunyit, tapi sudah banyak bukti bahwa rempah ini dapat membantu mengendalikan nyeri lutut dari radang sendi serta mengurangi kemungkinan serangan jantung setelah operasi bypass,” kata Dr Sanjay Gupta.

Kunyit sendiri telah dijadikan sebagai bumbu masak di wilayah Asia sejak ribuan tahun. Tak hanya itu, kunyit juga dikenal sebagai komponen vital dari ritual keagamaan.

Bumbu ini juga telah masuk dalam sistem pengobatan tradisional Asia Selatan.

Umumnya, kunyit digunakan untuk mengobati masalah pernapasan, rematik, kelelahan, dan rasa sakit.

“Ada perbedaan yang sangat penting untuk dibuat antara kunyit, yang merupakan tanaman dan rempah-rempah, dan apa yang sering dipelajari para peneliti, yaitu kurkumin, yang merupakan konstituen aktif yang terdapat dalam kunyit,” kata Hopp.

“Kurkumin yang biasanya dijual atau diteliti bukan senyawa tunggal. Biasanya kumpulan tiga atau empat senyawa yang disebut kurkuminoid, secara kolektif,” jelasnya.

Meski begitu, jumlah kurkumin dalam kunyit biasanya bervariasi. Tapi, menurut Pusat Kesehatan Nasional AS, akar kunyit mengandung lima persen kurkuminoid ini.

Kehebatan kurkumin memang telah terbukti dengan berbagai penelitian. Tapi sayangnya, menerjemahkan kekuatan senyawa ini untuk menjadi pengobatan yang berhasil masih menjadi tantangan bagi para peneliti.

Hopp mengatakan, ada bukti epidemiologi bahwa orang dengan pola makan kaya kunyit berpotensi mengaitkan manfaat kesehatannya yang besar dengan rempah-rempah.

Dia mencontohkan tentang rendahnya insiden atau kasus kanker usus besar di India, yang terkenal senang menggunakan kunyit sebagai bumbu kari.

“Tetapi sangat sulit untuk memilah-milah apa yang Anda lihat dalam aktivitas sel menjadi apa yang sebenarnya terjadi pada manusia,” tutur Hopp.

“Ada semacam kesenjangan antara apa yang tampaknya menjadi banyak aktivitas yang sangat menjanjikan secara in vitro

Dan kontras dengan yang telah dipelajari dalam uji klinis sebagai manusia, di mana hampir tidak ada bukti manfaat,” sambungnya.

Salah satu alasan kesenjangan tersebut adalah sifat biologis kurkumin. Senyawa ini sangat cepat dimetabolisme oleh tubuh, sehingga sangat sedikit terserap.

Artinya, bahan kimia ini tidak sampai ke “tempat” yang membutuhkannya. Selain itu, Hopp mengatakan, konteks di mana kunyit dikonsumsi secara tradisional juga penting.

Di India, kunyit sering dikonsumsi bersama lada hitam. Piperine, zat dalam lama, meningkatkan sifat bilogis kurkumin.

Dengan kata lain, piperine membuat kurkumin lebih cepat lagi untuk dimetabolisme tubuh. Dalam sebuah penelitian terbaru tentang kunyit, kurkumin juga disebut tidak mudah larut dan masuk dalam darah.

Untuk itu, Hopp menyarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum langsung menggunakannya sebagai obat.

Selain itu kunyit bias membantu penguatan daya ingat.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Geriatric Psychiatry menemukan bahwa kandungan kurkumin yang ada di kunyit dapat mengurangi risiko kehilangan memori pada usia tua.

Dengan demikian, kurkumin bisa dimanfatkan untuk pencegahan penyakit Alzheimer. Peneliti dari Universitas California, Los Angeles menguji efek kurkumin pada penderita Alzheimer dan orang normal.

Rupanya, pemberian suplemen kurkumin secara rutin dua kali sehari berdampak pada naiknya kemampuan kognitif selama satu setengah tahun.

“Sesungguhnya, efek kurkumin tidak pasti. Setidaknya, zat ini mampu menekan risiko peradangan otak. Ini berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan depresi berat,” kata Garry Small seperti yang dilansir dari Psychcentral

Sinyal amiloid dan Tau di amigdala dan hipotalamus berkurang pada orang yang terbiasa minum kurkumin.

Dua unsur tersebut berperan pada emosi dan psikologi seseorang. Penelitian secara acak dilakukan dengan mengambil empat puluh  sampel orang dewasa yang berumur antara lima [puluh  hingga sembilan puluh  tahun yang punya masalah memori ringan.

Peserta dibagi menjadi dua. Ada yang mengonsumsi placebo atau 90 miligram kukurmin dengan frekuensi dua kali sehari.

Tak lupa peneliti mencatat angka kognitif standar yang dipunyai para sampel saat penelitian dimulai dan tiap enam bulan sekali.

Gunanya untuk membandingkan dengan hasil delapan belas bulan ke depan.

Sebanyak tiga puluh  responden kemudian dicek tomografi emisi positron atau PET sebagai langkah untuk mengetahui kadar amiloid dan senyawa Tau di otak.

Data yang diperoleh menunjukkan bahwa otak kian mampu menyimpan sekaligus memutar kembali kenangan silam, bagi responden yang rutin mengonsmsi kurkumin. Bandingkan dengan mereka yang hanya disuplai asupan plasebo.

Komentar