Buruknya Asupan Gula Bagi Kesehatan

Penulis: Darmansyah

Selasa, 15 Agustus 2017 | 09:40 WIB

Dibaca: 0 kali

Para peneliti di Universitas College London kembali menegaskan ketidakbaikan gula berdampak pada kesehatan mental.

Sebelumnya gula sudah dimusihi karena  buruk untuk gigi dan lingkar pinggang

Dan kini gula menjadi momok untuk kesehatan mental.

Hasil klaim penelitian membandingkan laporan asupan gula oleh lebih dari delapan ribuan orang dalam penelitian jangka panjang di Inggris dengan suasana hati mereka.

Partisipan yang merupakan pegawai negeri, dimonitor selama tiga tahun, dan mengisi kuesioner setiap setiap beberapa tahun.

Peneliti menganalisis data studi yang mempelajari hubungan antara asupan gula dan “gangguan mental umum”  atauCMD seperti rasa cemas dan depresi.

Tim UCL menemukan pria yang mengonsumsi lebih banyak makanan dan minuman manis punya kemungkinan lebih besar menderita gangguan mental setelah lima tahun.

Mereka menyimpulkan, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, bahwa “asupan gula yang lebih rendah bisa dikaitkan dengan kesehatan psikologis yang lebih baik.”

Namun, ahli gizi Catherine Collins, juru bicara British Dietetic Association, mengatakan bahwa hasil ini “belum terbukti”.

Masalahnya adalah jumlah konsumsi gula dilaporkan sendiri oleh partisipan dan asupan gula dari alkohol tidak dihitung.

Para periset tersebut, kata Collins, tampaknya merancukan gula alami dari bahan makanan seperti susu dan gula yang ditambahkan ke minuman panas atau permen.

“Mengurangi asupan gula sangat baik untuk gigi, dan mungkin juga baik untuk berat badan, tapi sebagai perlindungan terhadap depresi? Tidak terbukti,” kata Collins.

Pakar nutrisi Tom Sanders sepakat hasilnya harus ditafsirkan dengan hati-hati.

“Dari sudut pandang ilmiah sulit untuk melihat bagaimana gula dalam makanan berbeda dari sumber karbohidrat lain pada kesehatan mental karena keduanya dipecah menjadi gula sederhana di usus sebelum diserap,” katanya seperti dilansir AFP

Tim UCL menemukan pria yang mengonsumsi lebih banyak makanan dan minuman manis punya kemungkinan lebih besar menderita gangguan mental setelah lima tahun.

Mereka menyimpulkan, dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports, bahwa “asupan gula yang lebih rendah bisa dikaitkan dengan kesehatan psikologis yang lebih baik.”

Masalahnya adalah jumlah konsumsi gula dilaporkan sendiri oleh partisipan dan asupan gula dari alkohol tidak dihitung.

Para periset tersebut, katanya, tampaknya merancukan gula alami dari bahan makanan seperti susu, dan gula yang ditambahkan ke minuman panas atau permen.

“Mengurangi asupan gula sangat baik untuk gigi, dan mungkin juga baik untuk berat badan, tapi sebagai perlindungan terhadap depresi? ” kata Collins.

Lantas apa bahaya gula lainnya?

Meski sudah mengetahui gula tidak baik untuk kesehatan, kebanyakan orang tidak mengangggap gula berbahaya.

Paling tidak, gula dianggap tidak seburuk lemak jenuh, garam, atau kalori. Mungkin ini yang menyebabkan sulitnya mengurangi konsumsi gula.

Padahal, faktanya kebanyakan orang di seluruh dunia mengonsumi lima ratus kalori ekstra hanya dari gula yang mereka makan.

Di balik manisnya gula, ternyata terkandung bahaya yang tidak boleh dianggap remeh.

Meski sudah lama diketahui sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung, studi dalam Journal of American Heart Association empat tahun silam akhirnya menemukan bukti kuat tentang mekanisme bagaimana gula merusak jantung.

Studi menyatakan, molekul pada gula yang disebut glukosa 6-fosfat menyebabkan perubahan otot jantung yang berujung pada gagal jantung.

Prevalensi obesitas meningkat beberapa tahun terakhir, baik pada dewasa maupun anak-anak. Salah satu penyebabnya yaitu tingginya konsumsi minuman manis.

Sebuah studi menemukan, konsumsi fruktosa  berlebih menyebabkan bertambahnya lemak perut yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Sebuah studi tahun 2008 mengungkap, konsumsi fruktosa berlebihan berhubungan dengan peningkatan risiko kondisi resistensi leptin.

Leptin merupakan hormon yang memberi tahu otak jika perut sudah kenyang. Jika tubuh mengalami resistensi leptin, maka otak tidak akan merasa terpuaskan meski tubuh sebenarnya sudah kenyang.

Akibatnya, kita tidak bisa menghentikan keinginan untuk makan. Dalam jangka panjang hal ini tentu menyebabkan obesitas. Hal tersebut terjadi perlahan, sehingga orang sering kali tidak sadar sudah mengalaminya.

Setiap manusia berisiko kanker karena memiliki sel kanker di dalam tubuhnya. Meskipun begitu, tubuh memiliki mekanisme sendiri untuk mematikan sel kanker sehingga sel tersebut tidak lantas berkembang menjadi kanker yang mematikan.

Sayangnya, konsumsi gula berlebihan akan merusak mekanisme tersebut. Ditambah lagi, studi baru-baru ini mengungkap, gula merupakan nutrisi yang baik bagi sel kanker untuk berkembang.

Gula juga bersifat aditif sehingga mungkin ada istilah untuk ketagihan gula. Sayangnya, ketagihan gula ini bisa bersifat genetik yang dapat diturunkan, karena melibatkan perubahan pada hormon ghrelin.

Ghrelin merupakan hormon yang mengatakan pada otak saat tubuh lapar. Namun, perubahan pada hormon ini akan mengakibatkan tubuh lapar dan ingin makan terus menerus.

Sebuah studi dalam jurnal Nature mengindikasikan gula bisa jadi sama bahayanya dengan alkohol.

Studi tersebut menunjukkan, konsumsi fruktosa dan glukosa berlebihan memberikan efek racun pada hati. Efek ini ternyata juga hampir sama dengan yang diberikan oleh alkohol

Gula diketahui dapat mempercepat proses penuaan sel, begitu pula sel-sel otak. Maka dengan mengonsumsi banyak gula, sel-sel otak cenderung akan mengalami penurunan fungsi lebih cepat.

Mengurangi gula bukan hanya dengan mengurangi makanan-makanan manis seperti permen, kue, biskuit, dan sebagainya, karena sebenarnya ada juga makanan yang dianggap tanpa gula tetapi ternyata mengandung banyak gula.

Contohnya saus tomat, roti, kraker, dan lain-lain.

Konsumsi gula berlebih akan menyumbang asupan kalori yang seharusnya didapat dari makanan lain yang mengandung banyak zat gizi sehingga tanpa disadari kalori yang diasup melebihi dari batas kalori per hari dan membuat bobot bertambah.

Komentar