Benarkah Stres Itu Milik Wanita?

Penulis: Darmansyah

Senin, 27 Juni 2016 | 10:09 WIB

Dibaca: 0 kali

Stress atau depresi. Benarkah ia menjadi milik wanita ketimbang lelaki?

Jawabannya, “iya.”

Dan itulah yang disimpulkan WHO,  Organisasi Kesehatan Dunia.

“Pola ini terlihat di seluruh dunia,” tulis “daily mail,” Senin, 27 Juni 2016.

Penelitian lintas nasional, dan lintas budaya menunjukkan bahwa prevalensi depresi pada wanita lebih tinggi di waktu tertentu.

Mengapa?

Perbedaan biologis antara pria dan wanita, seperti hormon menjadi salah satu faktornya. Juga faktor sosial antara laki-laki, dan perempuan juga memainkan peran yang besar.

Penelitian telah menunjukkan bahwa stres sosial adalah penyebab utama depresi.

Namun penelitian baru yang dilakukan oleh Maryam Moghani Lankarani menunjukkan bahwa laki-laki lebih rentan terhadap depresi yang disebabkan oleh peristiwa stres.

Para peneliti telah mendefinisikan stres sebagai perubahan besar ke status quo yang berpotensi menyebabkan ketegangan mental, atau emosional.

Peristiwa kehidupan yang penuh dengan stres di antaranya karena perkawinan, perceraian, perpisahan, rekonsiliasi perkawinan, cedera atau sakit, berhenti bekerja atau pensiun.

Hal itu yang membuat pria memiliki episode depresi.

Sementara wanita, lebih sensitif terhadap konflik, penyakit serius atau kematian yang terjadi di jaringan sosial mereka.

Kedepan, pria lebih rentan terhadap efek stres.

Dalam penelitian baru, ditemukan peristiwa kehidupan yang penuh stres diprediksi laki-laki lebih depresi daripada wanita.

Psikologis mempengaruhi kesehatan fisik dan mental individu dari waktu ke waktu

Kenapa wanita lebih mudan stress dibanding lelaki, karena  fungsi otak yang berbeda.

Pria lebih analitis ketika berhadapan dengan emosi negatif, sedangkan wanita cenderung lebih fokus pada perasaan yang membuat mereka lebih rentan depresi dan cemas berlebihan ketimbang pria.

“Ada kemungkinan wanita cenderung lebih fokus pada perasaan yang dihasilkan oleh rangsangan otak, sedangkan pria agak lebih pasif terhadap emosi negatif yang mereka terima.”

“ Pria mencoba menganalisa terlebih dahulu serta melihat dampak ke depan,” kata profesor dari departemen psikiatri University of Montreal, Stephane Potvin

Saat Stephane dan rekan melakukan penelitian dengan melibatkan puluhan peserta yang terdiri dari pria dan wanita yang sehat untuk melihat sebuah gambar dan sebuah kata apakah dapat membangkitkan emosi positif, negatif, dan netral

Juga  ditemukan bahwa di daerah-daerah tertentu dari otak pada wanita dan pria yang berhubungan dengan emosi, bereaksi secara berbeda ketika terkena citra negatif.

Stephane mengatakan, kadar testosteron yang lebih tinggi membuat pria tidak mudah sensitif.

Sementara itu, sifat feminin yang lebih tinggi membuat wanita mudah sekali sensitif dan memikirkan sesuatu yang mengganjal di hati

Sebuah penelitian terbaru lainnya menemukan hal yang menyebabkan perbedaan pria dan wanita dalam menangani kondisi stres yang mereka alami.

Society for Neuroscience’s mengadakan pertemuan bersama para ahli saraf untuk membahas penelitian perihal tingkat stres pria dan wanita.

Mereka mekakukan percobaan menggunakan tikus betina dan jantan.

Melalui penelitian tersebut para ilmuwan menemukan, tikus betina kurang mampu beradaptasi dengan kondisi stres kronis dibandingkan tikus jantan.

Penemuan ini memiliki keterkaitan antara perbedaan gender, hormon stres yang diproduksi oleh tubuh diproses terlebih dahulu melalui otak mereka.

Begitu pun pada manusia, wanita berkemungkinan lebih rentan terhadap kondisi stres.

Kondisi ini dikendalikan oleh hormon oksitosin, esterogen, serta hormon seks sebagai faktor pendukung yang jelas berbeda tingkatannya pada diri pria, dilansir dari Bustle.

Penelitian ini memang tidak menunjukkan penjelasan psikologis evolusioner – di mana potensi peran dari faktor genetis akan beragam aspek dari perilaku manusia yang tidak dijabarkan, untuk mengetahui secara persis mengapa wanita merasakan stres yang lebih buruk daripada pria.

Juga tak menunjukkan respons secara sosial dan reproduktif dari pria dan wanita, sebagai pendukung penelitian.

Secara stereotip wanita lebih berperan dalam menangani atau menanggapi keadaan sosial, serta lebih berperan dalam menjaga suatu hubungan dibandingkan para pria. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya kondisi stres yang lebih tinggi daripada pria.

Usaha untuk mengurangi dan juga menanggulangi rasa stres menjadi suatu hal yang sulit wanita. Stres cenderung meningkat ketika ada semakin banyak saran yang masuk dalam pikiran wanita.

Penelitian selanjutnya akan dilakukan untuk menemukan mekanisme respons manusia terhadap stres secara spesifik melalui gender.

Hal ini pun akan membantu para ilmuwan dan para profesional kesehatan mental untuk mendapatkan metode baru dalam menangani bencana emosional dalam diri manusia.

Komentar