Benar Bahaya Kafein Sama dengan Candu?

Penulis: Darmansyah

Jumat, 11 November 2016 | 15:30 WIB

Dibaca: 1 kali

Siapa yang tidak suka dengan sajian kopi di pagi hari.

Jawabannya pasti,”menyegarkan.

Ya, kopi di pagi hari so pasti menyegarkan.

Kopi yang menyegarkan itu pasti juga mengandung kafein yang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh.

Namun,  tahukah Anda jika terlalu berlebihan mengonsumsi kafein dapat membahayakan?

Terlebih jika bercampur dengan alkohol.

Sebuah studi menunjukkan, minum minuman yang tinggi kafein dan dicampur dengan alkohol dapat memicu perubahan otak remaja yang mirip dengan efek menikmati kokain.

Adapun minuman berenergi dapat berisikan sebanyak sepuluh kali kafein seperti soda dan lebih sering dikonsumsi oleh para remaja.

Dari hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Alcohol menunjukkan bahwa, tikus percobaan muda yang diberikan minuman energi tinggi kafein tidak sama dengan kelompok yang minum minuman beralkohol.

Tapi, ketika kafein tinggi dicampur alkohol, mereka menunjukkan tanda-tanda fisik dan neurokimia yang mirip dengan tikus percobaan yang diberi kokain.

Menurut Asisten Profesor Purdue University, Richard van Rijn, sepertinya kedua zat itu bersama-sama mendorong mereka hingga batas yang menyebabkan perubahan dalam perilaku mereka dan perubahan neurokimia di otak mereka.

“Kami jelas melihat efek dari minuman tersebut yang digabungkan yakni kafein dan alkohol,” katanya seperti dilansir Times Of India.

Dengan paparan yang berulang terhadap alkohol berkafein, tikus-tikus percobaan itu menjadi semakin aktif seperti efek menggunakan kokain.

Selain itu, peneliti juga mendeteksi peningkatan kadar protein FosB, yang merupakan penanda perubahan jangka panjang dalam neurokimia yang meningkat pada mereka pengguna obat-obatan terlarang seperti kokain dan morfin.

Memang dalam jumlah yang moderat, kafein punya efek yang positif pada tubuh dan pikiran.

Menurut The Food and Drug Administration, empat ratus miligram merupakan jumlah kafein yang aman dikonsumsi orang dewasa dalam satu hari.

Bagi wanita hamil, jumlah maksimal dua ratus miligram. Sementara, Mayo Clinic menyarankan anak-anak usia remaja untuk tidak mengonsumsi lebih dari seratus miligramper hari.

Beberapa orang sensitif terhadap efek kafein.

Jika Anda salah satunya, yang bisa mengalami sakit kepala atau sakit perut setelah minum kopi, sebaiknya Anda cari alternatif lain, atau konsumsi minuman dengan jumlah kafein lebih rendah, seperti teh.

Kafein diserap dalam aliran darah dan jaringan dalam waktu empat puluh lima menit setelah dikonsumsi. Namun, butuh waktu lama bagi zat tersebut untuk diurai dan dikeluarkan dari tubuh, yaitu empat jam.

Menurut James Lane, dosen psikiatri di Duke University School of Medicine, Durham, Inggris, bukan berarti keseluruhan kafein akan keluar dalam waktu empat jam, nyatanya perlu dua belas jam untuk meluruhkan kafein dalam satu cangkir kopi.

Setengah dari kafein bisa memendek menjaditiga  jam pada orang-orang yang merokok. Untuk perbandingan, pada wanita yang menggunakan pil kontrasepsi jangka waktunya bisa lebih dari empat jam.

Umumnya, orang-orang yang minum kopi secara rutin ketika bangun tidur akan merasa goyah dan pusing.

Keadaan ini adalah withdrawal –kondisi di mana seorang ‘pecandu’ merasa kebutuhan untuk mengonsumsi zat ‘candu’ mereka– dari kopi yang mereka minum kemarin. Kondisi ini sirna saat mereka sudah minum kopi.

Orang-orang yang mengonsumsi kopi kemungkinan besar bergantung pada kafein. Ini mengantarkannya pada gejala yang mirip kecanduan. Namun, ‘kecanduan’ bukanlah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.

Secara sosial, ‘kecanduan kafein’ masih diterima, sebab para ‘pecandu’ tidak menunjukkan sifat-sifat selayaknya kecanduan obat terlarang.

Kenyataannya, kafein bukan zat adiktif seperti halnya sabu, menurut Dr Peter Martin, dosen psikiatri dan farmakologi di Vanderbilt University School of Medicine, dan direktur di the Institute for Coffee Studies at Vanderbilt University, Nashville.

Pada umumnya, kebutuhan seseorang akan kafein berbeda jenisnya dengan kebutuhan akan obat terlarang.

“Kafein memiliki efek samping minor dibanding dengan obat candu sesungguhnya,” ungkap Martin.

Seorang yang mengaku ‘kecanduan’ kopi umumnya hanya membutuhkan asupan energi yang membuat mereka merasa lebih baik. Tidak pernah ada kasus seorang sampai menggelapkan uang demi secangkir kopi.

Kafein memiliki struktur molekul yang mirip dengan adenosine, sebuah saraf transmiter yang mengirim impuls ke otak. Karena kemiripan zat kimia, kafein bisa berkaitan dengan reseptor adenosine di sel otak.

Efek stimulan kafein datang umumnya dari cara kafein bekerja di resptor adenosine.

Normalnya, sampainya adenosine ke penerima akan mengakibatkan rasa mengantuk dan melambatnya sistem saraf pusat. Ini akan melambatkan aktivitas sel saraf dan mengantarkan pada rasa rileks.

Namun, saat molekul kafein menggantikan adenosine, dan diikat oleh reseptor yang sama, zat kafein memblokir fungsi adenosine yang membuat mengantuk, dan menggenjot aktivitas sel saraf. Inilah yang membuat orang merasa terbangun dan berenergi.

Kafein bisa memperkuat stres pada orang yang mengonsumsimya setiap hari. Dalam studi pada peminum kopi, Lane menemukan bahwa kafein memperkuat respons stres pada tubuh, serta mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan pacu jantung, seiring dengan meningkatnya produksi hormon stres.

Kafein bukan hanya mempengaruhi cara tubuh seseorang merespons stres, namun membesarkan persepsi individu terhadap stres.

Respons stres yang berlebih bisa membuat perbedaan pada orang-orang dengan kondisi seperti tekanan darah tinggi dan diabetes

Komentar